Search This Blog

Friday, June 9, 2017

Komik di Indonesia dalam Pandangan seorang Pembaca

Judul: Buah Terlarang dan Cinta Morina
Penyusun: Anton Kurnia

Editor : Gunawan Tri Atmodjo 
Cetakan: Pertama, Juni 2017
Tebal: 228 hlm
Penerbit: Basabasi





Agak bersalah juga menyelesaikan membaca buku ini di jam kerja. Tetapi, hari Kamis (8/6) kemarin terjadi pemadaman listrik dengan jangka waktu yang tidak tanggung: 6 jam. Dan, karena mau sortir buku juga nggak jago, jadi daripada rumpi (haus sih jadi lagi ngindarin rumpi) saya bertekad menyelesaikan membaca buku ini. Hasilnya tidak mengecewakan. Buku ini memberikan kepada pembacanya banyak informasi menarik terkait dunia komik di Indonesia. Atau, mungkin lebih tepatnya, memandang dunia komik Indonesia dari sudut pandang pembaca. Bagi pecinta komik, buku ini akan jadi pemandu istimewa untuk lebih mengenal perkembangan komik lokal. Sedangkan bagi peminat sejarah dan pembaca pada umumnya, buku ini adalah jenis buku unik yang jarang ditemukan ragamnya di pasaran. kemudian, tentang anggapan bahwa membaca komik itu tidak berguna. Penulis menjawabnya lewat buku ini.

Ada beberapa hal besar tentang komik yang dibahas di buku ini. Pertama sejarah perkembangan komik di Indonesia, terutama di Bandung. Dulu, ternyata ada toko buku Maranantha  yang menjadi saksi kejayaan komik lokal tahun 1950 hingga 1980-an. Toko ini juga melayani percetakan serta penerbitan komik-komik karya komikus lokal yang kondang kala itu, diantaranya Koo Ping Hoo dan RA Kosasih.  Keren ya seandainya toko ini masih ada, dan ternyata memang masih ada sodara-sodara. Sayangnya, toko legendaris ini kini menyusut menjadi semakin kecil, dan dibuka hanya untuk mengisi waktu pemiliknya—bukan karena banyak yang masih cari komik terbitan lawas. Menarik juga mengetahui bahwa saat jaya-jayanya dulu, komik terbitan toko ini tidak hanya dipajang di toko buku tetapi juga dijual oleh para pedagang eceran biasa. Luar biasa, seandainya saja hal yang sama masih terjadi saat ini. Ini bukti bahwa masyarakat Indonesia ternyata juga suka baca.

Hal kedua yang dibahas di buku ini tentu saja adalah para komikus lokal yang pernah merajai serta menggerakkan  dunia perkomikan Indonesia. Untuk urusan ini, RA Kosasih menjadi jawaranya lewat seri komik Ramayana dan Mahabarata tetapi dengan rasa Indonesia. Bisa dibilang, komik inilah salah satu yang bisa mendekatkan para pembaca Indonesia dengan kisah pewayangan. Selain itu,  beliau ternyata juga pernah membuat komik superhero perempuan berjudul Sri Asih yang mungkin terinspirasi oleh Wonder  Woman. Tentu, selain itu, kita masih ingat bahwa negeri ini juga pernah menghasilkan komikus-komikus yang memproduksi seri superhero warna lokal seperti Gundala Putra Petir dan Laba-Laba Merah. Fakta unik lainnya, komik Deni Manusia Ikan ternyata adalah terjemahan dari komik luar negeri yang aslinya berjudul Denizen of the Deep. Komik ini sudah sulit didapatkan di pasaran saat ini.

Bicara tentang komik di Indonesia, tentu tidak bisa dilepaskan dari serian Tintin karya Herge. Sebagaimana kebanyakan pecinta buku lain di Indonesia, penulis rupanya memiliki kenangan khusus terhadap seri ini sehingga satu bagian di buku ini dipersembahkan untuk wartawan pemberani ini. Walau banyak hal tentang Tintin yang dikisahkan ulang, tetapi banyak informasi baru juga yang bisa kita dapatkan. Di antaranya, bandara yang digunakan untuk pendaratan pesawat Tintin dalam seri Penerbangan 714 adalah Bandara Kemayoran,  bukan Halim PK. Indonesia juga  adalah negara satu-satunya di Asia Tenggara yang oleh Herge dipilih sebagai setting komik Tintin. Ada lagi satu informasi menarik terkait rahasia Tintin yang tampak selalu muda. Konon, ada profesor dari Eropa yang menyebut bahwa rahasia awet muda Tintin adalah karena dia sering tidak sadarkan diri akibat trauma di kepala. Ya, memang sih dalam kebanyakan kisah Tintin, dia sering sekali dipukul kepalanya sampai pingsan. Trauma di kepala ini yang bikin hormon pertumbuhan berhenti berproduksi. Ada-ada saja ya, eh tapi siapa tahu?

Satu hal menarik lain terkait perkembangan komik nusantara, konon ada penerbit lain di Indonesia yang telah menerbitkan Tintin sebelum penerbit Indira. Konon, hanya beberapa kolektor saja yang memiliki buku cetak Tintin berbahasa Indonesia sebelum diterbitkan Indira. Tetapi, sampai sekarang, belum ada yang benar-benar bisa menunjukkan keberadaan buku tersebut. Misterius ya? Ada juga kisah tentang komik terbitan penerbit kecil di Sumatra Utara yang telah terlebih dahulu menggunakan istilah novel grafis jauh sebelum istilah ini pertama kali muncul dan digunakan di  Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Penulis menyertakan foto sampul komik bergambar pertama ini di buku ini. Yang saya  bolak-balik dan putar-putar untuk berusaha menyerap unsur kekunoannya *kurang kerjaan*. Sayangnya, penulis sedikit sekali mengulas tentang fenomena komik manga  yang mewarnai dunia komik Indonesia mulai tahun 1990-an. Tetap saja, buku ini sangat penting dimiliki dan dibaca untuk menambah pengetahuan seputar perkembangan dunia komik di Indonesia.

No comments:

Post a Comment