Search This Blog

Monday, February 8, 2016

Reruntuhan Musim Dingin [Blogtour and Pengumuman Pemenang Giveaway]

Judul: Reruntuhan Musim Dingin
Pengarang: Sungging Raga
Penyunting: Ainini
Tebal:
Cetakan: 1, Januari 2015
Sampul: Wulan Nugra
Penerbit: DIVA Press



Sastra adalah seni yang memangsa dan menjarah. Apa yang dijarahnya adalah kehidupan." (hlm.11)

Tia Setiadi, dalam pengantarnya di buku ini menyebut bahwa tidak ada sastra yang ditulis dari ruang hampa. Sastra selalu ditulis dengan berpijak pada kehidupan manusia yang terlukis dalam kanvas kenyataan. Dalam kata lain, sastra bisa diibaratkan sebagai lukisan kenyataan yang digelar dalam cat kata-kata dan kanvas lembaran kertas. Sastra, sejatinya adalah upaya pengarang dalam merefleksikan cara  pandang dan hasil perenungannya pada kehidupan lewat medium tulisan. Seperti yang dilakukan Sungging Raga dalam buku ini, yang memilih tema besar cinta sebagai bahan-bahan yang tak akan pernah habis untuk diolah sebagai cerita-cerita indah.

"Senja mungkin sebentar, tapi ia lebih indah dari waktu-waktu yang lain," kata perempuan itu. Barangkali.
"Tapi kau lebih indah dari senja, Sayang, dan kau tidak sebentar."

Tema cinta mungkin sudah terlalu sering dituliskan, tapi sejatinya memang tidak ada cerita baru di dunia ini, yang ada hanya hal-hal lama yang dikisahkan dengan cara baru. Saya setuju dengan Tia Setiadi, tema cinta memang klise tapi Sungging Raga tidak membuatnya klise di kumcernya ini. Tidak hanya dari alurnya yang berkelok-kelok cantik seperti Sungai Serayu, namun juga dari caranya memuntir kata, menubrukkan logika-kata, serta membiarkan kata-kata meliar namun tetap terdengar cantik saat dibacanya.

"Wanita itu bernama Kunnaila. Hidupnya meliuk seperti ilalang, penderitaannya setebal hujan."

Seno G.A pernah menyebut mengenai hak pengarang untuk berkelahi dengan kata-kata. Dan, itulah yang dilakukan oleh Sungging Raga. Dibenturkannya kata-kata yang jarang berakrab ria dalam kenyataannya, yang kemudian menciptakan semacam keindahan baru yang jarang kita temukan dalam kalimat-kalimat yang biasa. Inilah licencia poetica yang dimiliki pengarang, hak untuk melabrak batasan bahasa demi menghasilkan makna baru dalam berbahasa. Dan, memang inilah salah satu tugas pengarang dan penulis, mereka mengelola bahasa, menjelajahinya hingga batas-batas yang masih dimungkinkan agar bahasa manusia semakin kaya dan bermakna. Bahkan hal sederhana semacam kompor pun bisa jadi keren begini di tangan seorang penulis.

"Ah, kompor adalah benda yang tenang, mengeluarkan api tapi tak membakar dirinya sendiri, melawan filosofi lilin, romantis sekali." 

Saya terutama menyukai cerpen 'Rayuan Sungai Serayu' di halaman 80. Bayangkan apabila ada sebuah sungai menjelma jadi manusia karena dia merasa jemu dan lelah mengalirkan air. Sungai yang memberontak pada takdirnya, atau pada ketetapan nasibnya. Terlepas dari tema besarnya yang mengingatkan saya pada buku-buku fantasi karangan Rick Riordan (ketika Gaea, ibu pertiwi, digambarkan menjelma sosok layaknya manusia), cerpen ini sangat unik karena Sungging Raga tidak tanggung-tanggung dalam mengolah kisah ini. Tidak hanya indah, namun juga penuh cinta. Silakan dibaca sendiri deh.

Sekarang, bagi pecinta buku gratisan, saatnya pengumuman pemenang giveaway ....


Terima kasih untuk semua teman yang sudah ikutan blogtour dan giveaway ini. Total, ada 15 komentar masuk (termasuk iklan hehehe) dengan jawaban versi masing-masing. Butuh waktu untuk googling dan mencari tahu tentang cerpen-cerpen yang disarankan oleh teman-teman. Saya menemukan, semua cerpen di sana bagus dengan caranya masing-masing. Tapi, setelah direnungkan--dan karena saya harus memilih satu--maka inilah cerpen-cerpen yang berhasil menggoda saya buat mencari dan membacanya:

Mungkin Bang Dion sudah baca kumpulan cerpen Danarto, Adam Makrifat. Kalau belum cerpen itu sangat menjanjikan untuk dibaca. Bahkan GM menyebutkan di kumpulan cerpen itu, Danarto sebagai mata kanan sastra Indonesia dan Pram sebagai mata kirinya. Ya, karena di buku kumpulan cerpen ini Danarto tampil dengan prosa religius-surealis. Malaikat yang tampilbegitu dekat, ayat-ayat alquran yang 'bergentanyangan' dan juga adegan-adegan surealis lainnya. 

Kalau Djenar punya tulisan mantra di salah satu cerpen di buku SAIA, Danarto sudah memulainya di buku ini. Bahkan Danarto yang punya background seni rupa, membnetuk 'ngung...ngung...ngung' menjadi formasi misterius yang semakin membuat surealis.

Meski agak langka, tapi buku ini patut dicari dan dimasukkan koleksi Bang.

Sebagai pemanasan bisa ditilik di cerpen berjudul "Mereka toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat" (http://novitanurcahyanti.blogspot.co.id/2013/04/mereka-toh-tidak-mungkin-menjaring.html)

Anw, cerpen ini menginspirasi Agus Noor membuat cerpen berjudul "Pemburu" (https://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/09/16/pemburu/)

jadi sudah menurutku ini buku kumpulan cerpen yang wajib dibaca oleh penikmat sastra.

Selamat buat Mas Teguh Afandi dari Yogyakarta dengan twitter @afanditeguh. Pemenang nanti segera saya hubungi via twitter. Terima kasih.

Untuk yang belum beruntung di blog ini, bisa ikutan lagi di blog ginteguh.tumblr.com sampai 21 Februari dan di blog Raafian sampai 28 Februari 2016.

16 comments:

  1. Nama: Ade Ubaidil
    Domisili: Cilegon-Banten
    Twitter: @ade_quadraterz
    Fb: Ade Ubaidil
    Jawaban: Bila belum pernah baca, cerpen karya Benny Arnas ini cocok buatmu bang. Judulnya, "Tentang Perempuan dari Kampung Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan"

    Nggak perlu ditanya kenapa mesti baca cerpen ini, selain judulnya yg super-duper puanjang se-kantor kecamatan, isi dari cerpen ini pun "berkelas".

    Ini link gretongannya:
    http://galericerpen-flp.blogspot.co.id/2009/11/tentang-perempuan.html

    ReplyDelete
  2. Mungkin Bang Dion sudah baca kumpulan cerpen Danarto, Adam Makrifat. Kalau belum cerpen itu sangat menjanjikan untuk dibaca. Bahkan GM menyebutkan di kumpulan cerpen itu, Danarto sebagai mata kanan sastra Indonesia dan Pram sebagai mata kirinya. Ya, karena di buku kumpulan cerpen ini Danarto tampil dengan prosa religius-surealis. Malaikat yang tampilbegitu dekat, ayat-ayat alquran yang 'bergentanyangan' dan juga adegan-adegan surealis lainnya.

    Kalau Djenar punya tulisan mantra di salah satu cerpen di buku SAIA, Danarto sudah memulainya di buku ini.Bahkan Danarto yang punya background seni rupa, membnetuk 'ngung...ngung...ngung' menjadi formasi misterius yang semakin membuat surealis.

    Meski agak langka, tapi buku ini patut dicari dan dimasukkan koleksi Bang.

    Sebagai pemanasan bisa ditilik di cerpen berjudul "Mereka toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat" (http://novitanurcahyanti.blogspot.co.id/2013/04/mereka-toh-tidak-mungkin-menjaring.html)

    Anw, cerpen ini menginspirasi Agus Noor membuat cerpen berjudul "Pemburu" (https://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/09/16/pemburu/)

    jadi sudah menurutku ini buku kumpulan cerpen yang wajib dibaca oleh penikmat sastra.

    Teguh Afandi | Yogyakarta | @afanditeguh

    ReplyDelete
  3. Nama : Noorrela Ariyunita
    Domisili : Jogjakarta
    Twitter : @Ellaariyunita
    Ada kumcernya Daoed Joesof yang judulnya Teman Duduk. nilai yang ingin disampaikan Beliau masih sama dengan buku-buku Beliau yang lain yaitu tentang nilai kehidupan.
    asik buat jadi teman duduk saat ngopi. :)

    ReplyDelete
  4. Nama: Cindy
    Domisili: smg
    Twitter/Facebook: @cyn0514
    Jawaban kamu:
    Semua untuk Hindia dari Iksaka Banu dan Murjangkung karya AS Laksana. itu dua kumcer yang aku suka karena sbgian tema cerpen-cerpennya menceritakan indonesia tempo doeloe.
    Cerpen-cerpen Iksaka Banu bisa dibaca di
    https://id.wordpress.com/tag/m-iksaka-banu/
    Sedangkan tulisan AS Laksana ada di
    http://as-laksana.blogspot.co.id/search/label/Cerpen

    ReplyDelete
  5. Nama: Eka Fatimah Ade Putri
    Domisili: Jakarta
    Facebook: Eka Fatimah Ade Putri

    Hmm cerpen/kumcer yaa.. sebenernya udh lumayan banyak cerpen/kumcer yg udah kubaca, tapi yg sampai ini ngebuat aku susah move on itu kumcernya Oka Rusmini. Cerpen-cerpen Oka ini mengangkat isu seputar gender, khususnya tentang perempuan Bali. Yang membuat menarik adalah ternyata Oka Rusmini sendiri merupakan perempuan asli Bali. Di dalam cerpen Oka Rusmini ini bisa diliat bagaimana hegemoni kasta masih begitu kuat di masyarakat bali.

    ReplyDelete
  6. Nama: Utami Pratiwi
    Domisili: Yogyakarta
    Twitter/Facebook: @Haitiwi
    Jawaban kamu:

    Ada baiknya Mz Dion baca Saia karya Djenar Maesa Ayu. Sebab, di sana dibahas beragam perempuan kuat di tengah budaya patriarki yang keji *halah. Meski tidak begitu vulgar, bahasan tentang kelamin tetap ada. Juga selingkuh, pengkhianatan, dan tak ketinggalan tentang cinta.

    ReplyDelete
  7. Nama: Ratih Dwi
    Domisili: Solo
    Twitter: @erdeaka
    Jawaban:
    Mungkin Mas Dion musti baca "Afternoon at the Bakery" karya Yoko Ogawa, penulis Jepang "temuan" saya baru-baru ini. Atmosfer horornya kerasa banget, padahal BUKAN cerita horor, melainkan tentang seorang ibu yang belum rela menerima kematian anak laki-lakinya. Gaya bahasa Ogawa ga muluk-muluk, tapi alur ciptaannya bisa membuat kita yang baca merinding dan berpikir: ini tokoh utamanya waras ga tho? Kok kayaknya "normal-normal" aja. Kalo mau memperkaya bacaan sastra, terutama sastra Jepang, karya Yoko Ogawa ini wajib dibaca. Dulu sih ada link-nya, tapi setelah masuk kumcer Revenge, link-nya udah ilang hehehe.

    ReplyDelete
  8. Nama: Mini GK
    Domisili: Gunungkidul
    Twitter/Facebook: @miniGeKa
    Jawaban kamu:

    Bacaan saya tidak cukup sebanding dengan bacaan Mas Dion. Jauh dari yang sudah Mas Dion baca. Saya tidak tahu apakah buku yang saya sarankan ini sudah Mas Dion baca atau belum.
    Saya sarankan untuk membaca Kumcer "Rumah Kopi Singa Tertawa" karya Yusi Avianto Pareanom terbitan Banana. Entah buku ini dijual di toko buku (misal gramedia togamas) atau tidak. Yang jelas buku ini dijual di stand Jual Buku Sastra. Saya tadinya tidak tahu buku ini, namun seorang Dea Anugrah menyarankan saya untuk membacanya, akhirnya saya baca juga.
    Ada 18 cerita yang dimuat dalam buku ini. Beberapanya adalah: cara-cara mati yang kurang aduhai, rumah kopi singa tertawa, penyakit-penyakit yang mengundang tawa, dari dapur bu sewon, dan hukum murphy membelit orang-orang Karangapi.
    kenapa saya sarankan buku ini karena isi ceritanya padat dan rasa-rasanya setiap kalimat punya makna. SEtiap ceritanya bernada sindiran halus kadang juga terang-terangan. Baca saja untuk tahu seperti apa sebenarnya berkehidupan. Saya tidak akan bilang banyak pelajaran dalam kumcer ini karena pembelajaran setiap orang beda-beda. Yang pasti dalam kumcer ini ada unsur menghibur.

    ReplyDelete
  9. Nama: Tri handayani
    Domisili: Pekalongan
    Twitter/facebook: @tri_hyani/Tri handayani
    Jawaban:
    Simbiosa Alina karya Sungging Raga dan Pringadi Abdi. Cerpen dalam kumcer tersebut membuat kita teringat pada masa lalu masing-masing. Yang paling mengesankan adalah cerpen Sungging Raga yang berjudul Sebungkus Kenangan di Carrow Road. "Datanglah ke Carrow Road. Kita bisa bebas mencari kenangan di sana."

    ReplyDelete
  10. Nama: Aulia
    Domisili: Serang
    Twitter: @nunaalia

    Jawaban:
    "Ambe Masih Sakit" merupakan Cerpen Emil Akbar, kisahnya tentang cerita di tanah Toraja yg adat istiadatnya begitu kental. Dari cerpen ini jadi lebih tahu salah satu tradisi mereka dari banyak tradisi yg ada di Toraja.
    Aku yakin mas Dion tertarik membacanya.

    Nih aku kasih link-nya deh, biar langsung cus baca :D
    http://galericerpen-flp.blogspot.co.id/2012/03/ambe-masih-sakit.html

    ReplyDelete
  11. Nama : Laeli Choerun Nikmah
    Domisili : Kebumen
    Twitter : @Laeli_nikmah22
    Facebook : Laeli Choerun Nikmah

    Cerpen yang pantas untuk dinikmati alur ceritanya menurut saya adalah . Karena dalam cerpen Ajariku Menjadi Muslimah tersebut disajikan dengan kata-kata yang unik dan langka, sehingga menarik.

    Ini alamatnya : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta-sedih/ajariku-menjadi-muslimah.html

    ReplyDelete
  12. Nama: Nina I M
    Domisili: Tabalong (Kalsel)
    Twitter/Facebook:@NaIsMa_
    Jawaban kamu:
    Kumcer "Air Akar", berisi kumpulan karya-karya terbaik finalis cerita pendek Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2012, terbitan GPU.
    Kumcer yang sangat Indonesia. Saya rasa Mas Dion akan tertarik.

    ReplyDelete
  13. Nama : Khoirur Rohmah
    Domisili : Jember
    Twitter : @Rohmahdg
    Facebook : Shinigami Haruka
    Jawaban :

    Aku sarankan, kakak bisa baca Kumcer-nya Direktur Penerbit Divapress “Edi AH Iyubenu” / “Edi Mulyono” yang berjudul “Hujan Pertama Untuk Aysila”

    Di dalam Kumcer tersebut terdapat beberapa kesinambungan antar cerita yang kaitannya tentang tokoh “Aysila”. Memang ada salah dua atau tiga judul yang sedikit berbeda temanya tentang “Aysila”, tapi itu tidak mengurangi jalan cerita dari kumcer ini. Aku suka baca Kumcer ini, karena penuturannya begitu indah, selain itu, pendeskripsian dari tiap-tiap latar dijelaskan dengan gamblang. Sehingga pembaca diajak untuk bisa menyaksikan tokoh di dalam cerita tersebut. Selain itu, Aysila di sini juga diceritakan “menunggu” seseorang yang diicintainya. Serta beberapa judul lainnya dengan tema yang “nyeleneh” namun, dikemar dengan estetika kata-kata yang sangat indah oleh penulis.

    Edi Akhiles / Edi Mulyono mengemas isi kumcer Hujan Pertama untuk Aysila ini, dengan bahasa yang sangat indah, terlebih lagi, penulis dari Kumcer ini telah banyak menelurkan berbagai karya tulis, dari bentuk cerpen, artikel, novel, buku antologi, maupun yang lainnya. Sehingga tidak diragukan lagi seperti apa Kumpulan Cerpennya tersebut. Selain itu, EDI AH Iyubenu ini termasuk sastra Angkatan 2000,

    Kakak bisa baca resensi bukunya di sini ya, lebih detail namun ringkas. Actually aku suka banget sama ini Kumcer.


    bit.ly/1ThrZIB atau bit.ly/1TYlV7t

    Semoga kakak berkenan membacanya ya…. ^^

    ReplyDelete
  14. Nama: Agatha Vonilia Marcellina
    Domisili: Jember
    Twitter: @Agatha_AVM
    Jawaban kamu:

    Cerpen "Lukisan Jeritan di Kolong Viaduk" Jawa Pos tanggal 14 Pebruari 2016. Genrenya lebih ke misterii sih kak tapi aku suka tema yang diambil tentang penganiayaan seorang anak kelaparan dan hanya meminta sesuap nasi pada ayahnya. Dia harus menyerahkan nyawanya karena keegoisan dan kemurkaan seorang ayah. Di mana belas kasih seorang ayah. Salahkah jika seorang anak meminta makan pada orang tua? Salahkah jika seorang anak bergantung pada orang tua? Salahkah jika anak di bawah umur mendapatkan kehidupan yang selayaknya? Mereka tidak pantas menjadi korban.

    Aku membaca cerpen ini seperti tersayat kak, ada 1 quotes yang bikin aku miriss bangett :
    "Selama orgi penyiksaan itu berlangsung, kusaksikan bunga-bunga bertaburan dari langit menyirami tubuh si bocah malang.

    ReplyDelete
  15. kunjungi juga web kami www.rajaplastikindonesia.com

    CP 021 2287 7764 / 0838 9838 6891 (wa) / 0852 8774 4779 pin bbm 5CFD83E7

    ReplyDelete