Search This Blog

Monday, April 27, 2015

Gerbang Dialog Danur

Pengarang : Risa Saraswati
Penyunting :  Irsyad Zulfahmi
Sampul : Fariza Dzatalin Cetakan : Pertama, 2015
Tebal : 223 hlm
Penerbit : Bukune 

25191081 



“Kau tahu kan apa itu danur? Itu adalah air berbau busuk yang keluar dari mayat yang mulai membusuk.” (hlm 195)

                Apa yang membuat seorang Risa Saraswati berbeda dengan anak-anak SD seusianya? Dia sering bicara sendiri, berlarian ke sana kemari seraya tertawa, juga sendiri. Di kali lain, ketika jam menunjuk pukul satu malam, dia sering dijumpai tengah berbicara seorang diri di loteng rumah yang sepi. Apakah Risa benar-benar sendiri? Gerbang Dialog Danur adalah segala pengakuan Risa tentang dirinya yang tak pernah sendiri. Dia melihat apa yang tidak pernah kita lihat. Dia mendengar apa yang tidak bisa kita dengar. Dia berinteraksi dengan apa yang selama ini kita sebut sebagai hantu. Ya, Risa tidak pernah sendirian. Mereka selalu menemaninya, kadang membantunya, dan sering sekali menampakkan diri di hadapannya dengan wujud kematiannya.


                “ … mataku tetap terjaga, dan mendapati suara itu muncul dari penggalan kepala mereka yang jatuh terpisah dari baju lusuh yang mereka kenakan.” (hlm 6)

                Sejak kecil, Risa diberkahi (atau dikutuk) dengan kemampuan untuk bisa melihat, mendengar, dan berinteraksi dengan mereka yang tak terlihat. Kita menyebutnya hantu. Kedengaranya mungkin keren bagi kalian, tapi tidak bagi Risa. Kemampuannya ini sering membuat Risa kecil frustrasi. Bukan saja dia bisa melihat dan mendengar jerit kesakitan mereka, dia juga bisa mencium bau anyir darah yang menguar dari wajah mereka yang rusak, atau merasakan sentuhan mereka yang dingin dan berlendir.

                “ … kini jelas sudah kulihat di depanku berdiri seorang perempuan tanpa busana, yang seluruh tubuhnya hitam nyaris tak berbentuk. Tubuhnya seperti habis terbakar.” (hlm 199)

                Awalnya, Risa kecil senang dengan kemampuannya ini. Dia berteman dengan 5 hantu Belanda yang konon adalah roh-roh gentayangan dari zaman penjajahan. Mereka adalah Peter, Hans, Hendrick, William, dan Jansen. Satu-demi-satu, ketiga hantu bule yang untungnya rupawan itu mengisahkan kisah-kisah sedih mereka kepada Risa. Bagaimana mereka dulu terbunuh, mengapa mereka masih melayang-layang di antara dua dunia, dan apa keinginan atau ketidakpuasan mereka pada kehidupan yang membuat ruh-ruh itu masih terjangkar di dunia. Kadang, sahabat-sahabat hantu itu mengusili Risa, tapi kadang juga mereka nakal sebagaimana anak-anak seusia mereka. Tampang kelima hantu bule itu dilukiskan dengan sangat spooky-nya di sampul buku ini.

                “Hari-hariku dipenuhi dengan canda Peter, pertengkaran Hans dan Hendrick, alunan lirih biola William, dan tak lupa: rengekan si bungsu Jansen.” (sampul belakang)

               Tapi, itu hanyalah bagian bagus dari kemampuan Risa. Selalu ada sisi bagus dan sisi jelek dari segala hal yang ada di dunia ini. Ujian utama itu belum datang. Menjelang ulang tahunnya yang ke-13, Risa ditinggalkan oleh 5 teman hantu bulenya. Mereka marah karena Risa tidak menepati janjinya untuk bergabung dengan mereka, yakni dengan bunuh diri. Sejak saat itu, Risa tidak pernah lagi melihat lima teman hantunya, tapi, dia masih tetap melihat mahkluk-makhluk lain yang seolah terus mengikutinya. Tidak jarang dia didatangi wajah yang melayang-layang di atas tempat tidur, atau melihat rambut yang terurai seperti ular saat sedang di toilet, atau melihat penampakan sepasang anak SMA dengan wajah berdarah-darah yang sepertinya terus muncul di pinggiran jalan yang dilewatinya.

             “Senyumnya yang tadi terlihat sangat ramah, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat mengerikan. Senyumnya terlalu lebar hingga mulutnya terlihat seperti hendak robek. Wajahnya yang pucat tiba-tiba saja berwarna, merah karena ditetesi darah yang mengucur perlahan dari arah kepalanya.” (hlm 173)

             Mungkin kedengarannya aneh, tapi Risa beralajar banyak tentang kehidupan dari kisah-kisah orang mati yang didengarnya. Paling pilu adalah kisah tentang Danur Kasih, ketika Risa dipertemukan dengan sosok hantu dari wanita yang meninggal dengan cara gantung diri. Hantu itu merangkak kesakitan karena jerat tali gantungan yang terus menerus menjerat lehernya. Dengan putus asa, dia memohon Risa untuk melepaskan jerat itu, tetapi sia-sia. Sekuat apapun Risa mencoba, jerat itu selamanya ada di sana, menyiksa sang ruh yang telah gelap mata saat mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya dulu. Dari kisah-kisah itu Risa belajar bahwa betapa sangat beruntung dirinya jika dibandingkan roh-roh penasaran tersebut.

            “Baru sekarang aku tahu kenapa mereka selalu membuat suara-suara tawa mengerikan. Mereka sedang menangisi diri mereka sendiri, dan segala penyesalan atas apa yang pernah mereka lakukan. Mereka juga sedang menertawakan diri mereka, yang begitu bodoh membuat sebuah keputusan.” (hlm 116)

            Dari catatan Risa, tersirat kalau semua kisah hantu yang ada dalam buku ini benar-benar ada dan nyata. Latar belakang historis yang menggambarkan penyebab kematian hantu-hantu itupun juga masuk akal, sementara topic tentang hantu dan roh penasaran ini sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan. Apakah hantu itu benar-benar ada? Apakah mereka itu sebenarnya, roh orang yang sudah meninggal ataukah jin-jin yang menyaru dalam wujud manusia yang sudah meninggal? Hanya Tuhan yang Maha Mengetahui. Dari kisah Risa dalam buku ini, paling tidak kita bisa mengambil banyak pelajaran (walaupun dengan cara yang agak-agak serem) tentang kehidupan. Bahwa kehidupan itu adalah anugrah yang sangat berharga dan sudah sepantasnya dipertahankan, dilestarikan, dan diisi dengan melakukan banyak kebaikan.

           “Jika aku jatuh terperosok hingga tak mampu lagi bangkit, itu semua salahku, bukan salah Tuhan.” (hlm 220)

           “… itulah yang paling penting dalam sebuah hubungan, menjadi diri sendiri dan mengubahnya bersama-sama jika itu adalah sesuatu yang buruk.” (hlm 157)

          “Jika aku masih berpikir bahwa hidupku ini membosankan dan tak bahagia, anggaplah bahwa aku ini adalah seorang anak yang sangat bodoh. Bahkan, mungkin jauh lebih bodoh dari seekor keledai. Manusia tak pernah merasa puas atas apa yang telah dicapainya, dan aku ini ternyata memang manusia juga, ya?” (hlm 97)
 

8 comments:

  1. ini formatnya antologi bukan? cerita hantu yang satu nyambung ga dengan yang lain?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan bos, ini kayak semacam diari dari Risa ttg pertemuan dan interaksinya dengan para hantu. Bukan cerita bersambung tapi bisa dibilang novel.

      Delete
  2. Baca reviewnya serem nih ceritanya "O_O"

    ReplyDelete
  3. Thanks reviewnya, jadi wishlist nih.

    ReplyDelete
  4. ini isinya sama kayak buku danur yang pertama kali muncul gak

    ReplyDelete
  5. kunjungi juga web kami www.rajaplastikindonesia.com

    CP 021 2287 7764 / 0838 9838 6891 (wa) / 0852 8774 4779 pin bbm 5CFD83E7

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete