Search This Blog

Wednesday, September 28, 2016

Wisanggeni, Buronan Para Dewata

"Perhatikanlah, Wisanggeni, bahwa kekuatan batin bisa mengendalikan yang lahir." (hlm. 92)

Tidak selamanya kisah dari dunia pewayangan disajikan dengan sedemikian monoton dan tanpa greget sehingga membuat penonton hanya menantikan bagian 'uyon-uyon' dengan godaan sinden seksi dan candaan si dalang muda yang kadang menyerempet agak porno. Ada alasan mengapa wayang menjadi sedemikian istimewa, pementasan cerita wayang megandung kandungan hikmah dan filosofi tentang kehidupan  yang sedemikian adi luhung. Sungguh akan sangat sayang kalau generasi muda Indonesia tidak tertarik dengan salah satu bukti puncak pencapaian nonbendawi dari bangsa ini.  Ada satu cara asyik mengenalkan kembali kehebatan wayang kepada pembaca muda, yakni dengan menuliskannya ulang dalam bahasa yang lebih populer tanpa harus kehilangan ketinggian maknanya. Dan, siapa lagi yang lebih layak menunaikan tugas ini kalau bukan para sastrawan?

Tuesday, September 27, 2016

Gara-Gara Alat Vital Saya Membeli Buku Ini

Judul: Gara-Gara Alat Vital dan Kancing Gigi 
Penyusun: Gustaaf Kusno
Editor: Iskandar Zulkarnaen
Cetakan:1, Januari 2014
Tebal: 187 hlm
Penerbit: Gramedia




Dulu, setelah baca buku 9 Dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing saya trus kepikiran pengen jadi penerjemah. Akhirnya, ambil konsentrasi penerjemahan di semester-semester akhir. Semua karena buku! Bukannya apa-apa, yang terbayang di kepala saat itu: 'Betapa masih mudanya bahasa Indonesianya sehingga kosakatanya banyak yang comot sana comot sini. Andai bahasa Indonesia punya lebih banyak variasi kata pasti aduhai.' Kemudian, saya alami sendiri bahwa kadang tindakan comot sana conot sini itu memang sering kali tak terhindarkan dalam proses menerjemahkan. Beberapa (atau banyak) kata dalam bahasa Inggris belum memiliki padanan dalam bahasa Indonesia sehingga terpaksa si penerjemah ikut main comot. Bersalah iya, tapi mau bagaimana lagi?

Kemudian, saya bertemu buku ini. Jika dalam buku pertama kita bisa tahu asal-muasal banyak kata dalam bahasa Indonesia yang dicomot dari bahasa asing, maka di buku ini penulis memusatkan perhatiannya pada bahasa Belanda, Inggris, dan Malaysia sebagai sumber comotan. Paling banyak dibahas adalah kata-kata dalam bahasa Indonesia yang ternyata berasal dari bahasa Belanda, juga bagaimana kata-kata itu kadang dipergunakan secara keliru, seperti spooring & balancing. Kata "spooring" ternyata bukan dari bahasa Inggris, tapi dari bahasa Belanda yang diinggriskan tapi di Inggris sendiri kata-kata itu nggak ada (yang digunakan adalah "tracking and balancing"). Kata-kata lain yang ternyata berasal dari bahasa Belanda di antaranya: bivak, waterpas, setip (karet penghapus), plakban, nakas, sun (ciuman), meses, inreyen, behel, dan juga verboden. Kemudian, simak yang satu ini:


Tanya: Kenapa kita sakit mag?
Jawab: Karena kita dijajah Belanda.

Kok bisa? Jawabannya ada di halaman 124.

Friday, September 16, 2016

Babad Ngalor Ngidul

Judul: Babad Ngalor Ngidul
Penulis: Elizabeth D. Inandiak 
Tebal: 160 hlm
sampul dan ilustrasi: Bayu Dono
Cetakan: 1, Mei 2016
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia


30237252

Saya mengenal nama Elizabeth D. Inandiak pertama kali lewat seri Serat Centhini yang digubahnya ke bahasa Prancis dan kemudian ke bahasa Indonesia. Banyak yang bilang, dari sekian versi terjemahan Serat Centhini di Indonesia, gubahan beliau adalah yang paling apik. Persentuhannya dengan Serat Centhini rupanya membuatnya jatuh cinta pada negeri ini, terutama dengan budaya Jawa, sehingga kemudian dia mukim dan banyak berinteraksi dengan orang-orang Jawa. Satu fakta yang agak menyedihkan sebenarnya, ketika bangsa kita mulai tertarik membaca dan mempelajari kembali Serat Centhini setelah naskah kuno asli nusantara itu dipelajari dan dipopulerkan oleh seorang asing. Apakah bangsa kita sedemikian kurang kreatifnya sehingga membutuhkan sebuah picuan dari luar sebelum kita bisa benar-benar menghargai harta pustaka milik bangsa? Entahlah, semoga saja tidak.


Wednesday, September 14, 2016

Misteri Angka-Angka

Jika Muriel Rukeyser pernah berkata bahwa alam semesta terbentuk oleh cerita-cerita, maka lewat buku ini Annemarie Schimmel hendak menegaskan bahwa semesta juga terbentuk atas angka-angka. Dari angka nol yang kosong hingga 360 yang membagi sebuah lingkaran, peradaban-peradaban kuno di Bumi diwarnai oleh angka-angka (selain juga cerita). Dalam beberapa peradaban, angka-angka bahkan menjadi bukti kemajuan mereka, seperti angka nol di India dan 360 pada bangsa Sumeria. Sementara dalam sejumlah peradaban yang lebih modern, angka-angka dianggap memiliki nilai numerik serta dapat melambangkan sesuatu. Angka 13 misalnya, kondang sebagai angka sial di Barat sementara angka 8 dianggap sebagai angka keberuntungan di Tiongkok karena bentuknya yang tidak terputus. Setiap angka, dengan demikian, memiliki 'nilai dan sejarahnya sendiri.' 

Tuesday, September 13, 2016

Misteri Kode Kiamat dalam Manuskrip Abad Pertengahan


21855702
Mengubah sejarah masa lalu adalah sesuatu yang tidak baik, bahkan dengan tujuan untuk menciptakan masa kini yang lebih baik sekalipun. Pesan ini yang mungkin hendak disampaikan di buku ketiga seri Time Riders ini. Setelah bertualang di era Dinosaurus pada buku kedua dan berupaya keras mencegah New York tahun 2001 menjadi hutan belantara zama Jurasic, Liam dkk kembali dikirim ke masa lalu untuk menyelidiki sebuah misteri sejarah. Misteri dan sejarah, inilah yang saya kira menjadi kekuatan utama seri ini dalam menarik para pembacanya. Semua orang suka dengan misteri, dan ketika misteri itu digabungkan dengan sejarah, maka unsur menariknya menjadi berlipat-lipat karena ada bukti tertulisnya. Yah, karena tanda dari beralihnya periode prasejarah ke sejarah adalah adanya tulisan maka kasus kali ini berkaitan dengan manuskrip Voynich.


Thursday, September 8, 2016

Ketika Monster dan Malaikat Saling Jatuh Cinta

Judul buku: Bersimbah Darah dan Cahaya Bintang 
Tebal: 608 halaman paperback
Penulis: Laini Taylor
Penerjemah: Primadonna Angela
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juli 2014 


http://66.media.tumblr.com/4d96f60afc1d6c7790c9e51052872335/

Pada zaman dulu, sesosok malaikat jatuh cinta pada sesosok monster; dan dunia terbakar bersama mereka. Pada zaman dahulu, malaikat dan monster saling berperang, dan kita tak lagi bisa membedakan mana pihak yang benar-benar baik dan yang sungguh-sungguh jahat. 

Buku kedua seri Daughter of Smoke and Bone ini jauh lebih seru dari buku pertamanya. Awalnya, saya ragu membaca seri ini karena takut porsi romansanya bakal lebih banyak dari porsi fantasinya. Ternyata, masih imbang. Penulis mengusung kisah fantasi ini dengan premis kisah asmara, tapi tidak kemudian kisah ini jadi kelewat galau dan kehilangan elemen petualangan khas fantasi. Tokoh-tokohnya keren, nggak menye-menye, bahkan cenderung ke FIGHTING. Kegalauan Akiva dan  Karou digambarkan dengan samar sehingga tidak mengubah laju ceritanya yang seru. Plus, buku kedua ini akan mengajak pembaca ke Eretz sehingga bisa merasakan langsung perang antara kaum Seraphim dan Chimaera yang  seru tapi bikin ngelus dada (dada saya sendiri) itu.

Wednesday, August 31, 2016

Hindia Timur dalam Kumpulan Cerpen

Hindia Belanda adalah sebuah romantisme yang ramai dikenang, baik pahit dan manisnya. Bagi bangsa kita, masa-masa ketika nusantara berjuluk Hindia Belanda adalah masa-masa kelam dalam sejarah perjalanan bangsa besar ini. Inilah era kejayaan penjajahan dunia sekaligus menjadi titik nadir bagi kemerdekaan kaum pribumi. Kaum sejarahwan menyanjungnya sebagai babakan sejarah nasional yang penuh warna, sementara orang-orang awam lewat kisah-kisah tuturannya menyebut kala ini sebagai masa-masa susah dan tak usah diingat-ingat lagi kalau perlu. Jika selama ini kita telah banyak mendengar, melihat, dan membaca tentang penderitaan leluhur pribumi kita di bawah penjajahan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, maka cerpen-cerpen di buku ini akan memberikan pandangan lain tentang masa-masa itu. Bagaimanakah Hindia Belanda dari sudut pandang orang asing? 

22175715


Judul: Semua untuk Hindia
Pengarang: Iksaka Banu
Sampul dan Ilustrasi: Yuyun Nurrachman
Tebal: 153 hlm
Cetakan: 1, Mei 2014
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia