Search This Blog

Loading...

Thursday, August 25, 2016

Makna Merokok bagi Orang Jawa

Judul: Ngudud, Cara Orang Jawa Menikmati Hidup
Penulis: Iman Budhi Santosa
Penyunting: Lantip Ruming Nestopo
Sampul: Subiyantoro
Tebal: 134 hlm
Cetakan: 1, November 2012 
Penerbit: Manasuka

18285068  

Membaca buku telah mengajarkan saya untuk memandang segala sesuatu dari berbagai sudut, untuk tidak memandang dunia secara hitam dan putih, termasuk soal merokok. Beberapa hari terakhir, linimasa media sosial kita diwarnai dengan perdebatan seru antara yang membela rokok dan yang antirokok gara-gara ada wacana bahwa harga rokok di Indonesia akan dinaikkan menjadi Rp50.000. Masing-masing pihak, baik yang mendukung atau yang menolak rokok, sama-sama bersikukuh mempertahankan pendapatnya. Debat pun bermunculan di media sosial, tidak ada yang mau mengalah. Seolah kita semua sudah lupa bahwa keanekaragaman dan perbedaan adalah kekayaan bangsa ini, termasuk dalam hal merokok. Terlepas dari informasi bahwa merokok merugikan kesehatan itu benar atau tidak, atau hanya semata bentuk konspirasi global untuk menghadang industri kretek nasional; tidak semestinya kita terpecah belah hanya karena rokok. Mari kita kembali pada ajaran leluhur Jawa dalam mengatasi konflik, yakni dengan berpedoman pada apike kepriye (baiknya gimana) dan bukan pada benere kepriye (benarnya gimana) untuk masalah yang masih abu-abu seperti merokok ini.

"Karena dalam semangat patembayatan di Jawa, mereka yang merokok dan tidak merokok tetap sedulur sinarawedi (saudara dekat), sama sekali bukan musuh yang berebut benar sendiri." (hlm. 76)

Wednesday, August 24, 2016

Panggilan Sang Monster

Judul: A Monster Call
Pengarang: Patrick Ness
Format: Kindle
Tebal: 224 halaman
Terbit: Mei 2011
Penerbit: Candlewick 


11391373

Kalau ada sebuah buku suram yang menghangatkan hati, itulah buku ini.
Kalau ada cerita sedih yang menggembirakan jiwa, itulah buku ini.
Kalau ada tentang seorang anak yang mampu mendewasakan pembaca dewasa, itulah buku ini.

Beberapa pembaca menyebut buku ini sebagai bacaan terbaik mereka. Kasusnya menurut saya sama kayak membaca buku The Giving Tree yang tampak sederhana namun sejatinya sedemikian menyentuh. Hal-hal sederhanalah yang kadang malah berhasil menyentuh inti dari kesadaran kita dengan lebih dahsyat ketimbang cerita-cerita megah. Maka seperti itulah buku ini. Ditulis dengan spasi sangat renggang dan bisa dibaca dengan cepat layaknya novel anak, buku ini ternyata punya lebih dari sekadar cerita. Ditulis dengan kelam sekaligus menggugah, tanpa sadar, pembaca akan diseret masuk ke rumah si kecil Conor, merasakan menjadi dirinya dengan segala masalah yang dia hadapi. Kalau seumpama buku punya atmosfer, maka atmosfer buku ini pasti sangat hitam pekat. Anehnya, walau suram, seperti ada monster yang mencengkram pembaca untuk terus menekuri halaman demi halaman dari buku ini.

Puya ke Puya

Judul: Puya ke Puya
Pengarang: Faisal Oddang
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: Oktober, 2015
Tebal: 218 Halaman





“Setiap ayunan kaki manusia, ia tengah berjalan pergi sekaligus menuju pulang. Orang-orang hidup hanya untuk mati, begitulah. Semakin kau berjalan menjauh, semakin maut berjalan mendekat.”

Kalimat-kalimat pembuka novel ini seakan mengisyaratkan bahwa Puya ke Puya akan diwarnai seputar hidup dan kematian manusia. Sebagai tambahan, karena settingnya yang di Tana Toraja, pembaca mungkin bisa menebak bahwa akan ada banyak pernak-pernik upacara Rambu Solo' di cerita ini. Dan inilah yang menjadi nilai sangat plus dari novel karya Faisal Oddang ini. Penulis muda berbakat ini memang pandai menangkap hal-hal yang ada di sekitar, menjadi gelisah karenanya, lalu menuliskan kegelisahan itu menjadi sebuah novel yang amboi nian. Membaca Puya ke Puya, kita diajak menjadi saksi manusia-manusia yang diombang-ambingkan akibat perseteruan antara adat dan modernisme yang sering tidak akur itu. Novel ini juga dengan tangkas memotret sisi manusiawi manusia yang kadang harus memilih antara mendapatkan uang (duniawi) dan menjaga kehormatan. Apa yang dialami Allu menjadi bukti bahwa bahkan di zaman modern seperti saat ini, pertentangan anatara adat-istiadat dan menjadi manusia modern yang praktis itu masih ada.

Tuesday, August 23, 2016

Ketika Dinosaurus Mengubah Sejarah Bumi

Judul: Day of the Predator (TimeRiders, #2)
Pengarang:  Alex Scarrow
Penerjemah:  Desy Natalia
Tebal: 456 halaman
Cetakan: 1, February 2014
Penerbit: Elex Media Komputindo 




20894994



Jangan pernah bermain-main dengan waktu. Peringatan ini terus menerus disuarakan oleh banyak tokoh besar, mulai dari Dumbledore hingga Waldstein. Yang disebut terakhir tadi adalah sang penemu mesin perjalanan waktu dalam seri Time Riders karya Alex Scarrow ini. Si penemu berbalik menjadi penentang karena dia telah melihat sendiri neraka dengan mesin waktu yang telah diciptakannya itu. Berkat kampanyenya yang tak kenal, pada tahun 2050, Hukum Internasional telah melarang dengan tegas dilakukannya perjalanan waktu karena efek mengerikan yang dapat ditimbulkannya dalam mengubah sejarah. Maka, berbeda dengan perjalanan waktu yang sepertinya menyenangkan di film Doraemon, dalam seri Time Riders sang penulis konsekuen menunjukkan pandangannya bahwa perjalanan waktu adalah sesuatu yang sangat berbahaya.

Friday, August 19, 2016

Somewhere Only We Know

Judul: Somewhere Only We Know
Penulis: Alexander Thian
Editor: Mita M. Supardi & Tesara Rafiantika
Desainer sampul: Agung Nugroho
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-830-0
Cetakan: pertama, 2015
Tebal: 338 halaman



26058244

Buku yang sudah booming duluan sebelum terbit ini memang pernah bikin heboh linimasa Goodreads tahun 2015. Melihat ulasan yang bertebaran, saya pun ikut tergoda membacanya, namun keinginan itu masih kalah kuat dibanding keinginan menimbun sehingga baru setahun kemudian saya membacanya (dan buku ini sudah cetak ulang lima kali). Apa yang membuat novel ini rame? Yah, pertama mungkin karena si penulis yang seorang selebtwit sehingga karya-karyanya langsung diburu followers. Kedua, rancang bangun *halah* novel ini menawarkan cerita cinta yang berbeda: dua cinta dan dua cerita dalam satu buku. Lewat Somewhere Only We Know (untuk selanjutkan akan disingkat SOWK), kita disuguhi dua cerita dengan dua rasa yang berbeda, oleh dua sosok yang juga lain. Mungkin inilah yang menjadikan membaca novel ini jadi menarik dan unik. Yah, selain kisah Kenzo yang tidak biasa itu, juga karena kepiawaian penulis menggali dua karakter utamanya sampai lapis-lapis terdalam. Manusia dengan segala keunikan mereka memang merupakan sumber ide kisah yang tak akan ada habisnya.

Thursday, August 18, 2016

Mengenalkan Dunia Menulis Sejak Dini

Judul: Nulis itu Gampang
Penulis: Rien DJ
Penyunting: Ayu Wulan
Sampul: Andhi Rasydan
Cetakan: 1, November 2015
Tebal: 144 hlm
Penerbit: Indiva Media Kreasi


27870167

Buku ini untuk kalian yang mencintai kata
Kalian yang ingin mengikuti tradisi para ulama
Kalian yang ingin berbagi kebaikan dengan tulisan
Kalian yang ingin menginspirasi pembaca
Kalian yang ingin mengubah dunia dengan kata-kata. (hlm. 3)

Saat ini, kita bisa dengan mudah menemukan berbagai buku panduan menulis di pasaran. Mulai dari panduan menulis untuk pemula hingga buku mudah menulis fiksi, semua ada. Pembaca Indonesia saat ini benar-benar memiliki beragam pilihan judul buku dalam hampir semua tema, termasuk dalam menulis. Sayangnya, buku menulis yang khusus ditulis bagi anak-anak masih sangat jarang. Setahu saya, baru ada satu buku dengan tema ini yang digarap dengan cukup bagus, yakni Teknik Menilis Cerita Anak karya Titik W.S dkk (2003) yang diterbitkan Pink Books bekerja sama dengan Pusbuk. Karena itu, ketika Mbak Rien DJ
menerbitkan buku terbarunya ini, saya langsung pesan. Walau kenyataannya, saya baru benar-benar mendapatkan buku bagus ini hampir setahun kemudian. Saya membeli buku ini  langsung ke penulisnya setelah berbulan-bulan lupa terus setiap kali mau beli ini buku di TM. 


Tuesday, August 16, 2016

Buku Kedelapan Harry Potter



Title: Harry Potter and the Cursed Child - Parts I & II (Harry Potter, #8)
Author: J.K. Rowling, Jack Thorne & John Tiffany
Publisher: Little, Brown
Pages: 343 pages
Format: Hardcover
Published: July, 2016



Setelah bertahun-tahun, dengan diselingi dengan munculnya beragam fanfic lanjutan tentang kisah Harry Potter, Tante JK. Rowling dengan resmi memilih dan merilis satu seri lanjutan dari serial penyihir kesukaan dunia ini. Mungkin dengan tujuan agar tidak melanggar sumpahnya untuk tidak lagi menulis tentang Harry Potter, Rowling menyiasatinya dengan menulis versi dramanya. Dengan kata lain, buku ini sama sekali bukan novel seperti 7 buku Harry Potter sebelumnya. Buku ini ibarat naskah drama yang dibukukan. Dalam menyusun naskah yang kemudian dipentaskan ini, Rowling bekerja sama dengan John Tiffany dan Jack Thorne untuk menulis buku yang kemudian resmi dirilis sebagai buku seri Harry Potter yang kedelapan.