Judul: Percy Jackson and the Chalice of Gods
Pengarang: Rick Riordan
Penerjemah:
Tebal: 252 hlm, Paperback
Cetakan: Oktober 2023
Penerbit: Mizan
Agak susah menulis ulasan novel ini tanpa sedikit spoiler karena (1) judulnya aja udah spoiler sehingga tidak dicantumkan terjemahannya dan (2) bonus dan sampulnya juga agak spoiler. Tapi, buku ini tetap bacaan menghibur yang menawarkan banyak kejutan. Alurnya tetap sama, Percy dapat misi dari dewa entah siapa, dan lalu ia harus melawan entah monster entah separuh dewa (atau dewi).
Jadi Percy ini dihukum karena dia anak Poseidon. Dikisahkan kalo tiga dewa utama (Zeus, Poseidon, dan Hades) tidak boleh punya anak dengan wanita fana sejak tahun 1900an karena anak anak mereka bakal terlalu kuat. Tapi, ya seperti bisa ditebak, larangan ada untuk dilanggar. Muncullah Percy, Thalia, dan Nico.
Sebagai hukuman, Percy dkk harus menghadapi amukan para dewa. Ga bisa ngamuk ke bapaknya, maka anaknya jadi korban. Dan ketika Percy mau kuliah ke Universitas Roma Baru, dia diharuskan mendapatkan surat rekomendasi dari tiga dewa dewi, yang akan memgontaknya dan memberinya misi. Setelah misi selesai, barulah surat itu turun. Yang salah bapak, yang repot Percy. Heran.
Misi pertama (semoga ga spoiler), adalah mencari sesuai di judul ini. Ada gambar sesuatu seperti piala atau cawan atau ceper. Dewa yang bawa bawa piala siapa hayo, nah itu. Jadi di buku ini Percy akan berinteraksi sama minimal 4 dewa yang termasuk minor di Olympus. Ini yang bikin asyik,.karena kita jadi tahu lebih banyak tentang dewa dewi terpinggirkan ini. Paling seru, akhirnya bisa interaksi agak lama dengan dewi yang jasanya palibg sering dipakai tapi dia sendiri jarang keluar. Siapa tebak? Ada hububgannya dengan pelembab udara dan pelangi, Dewi Iris.
Riordan sekali lagi memperkenalkan kekayaan mitologi Yunani dengan asyik. Kali ini, dewa dewi minor dapat panggung, sementara dewa dewi mayor sekadar numpang dengan tingkah ponggahnya. Perkecualian untuk Athena yang bijak banget. Humor khas Riordan juga masih ada, dengan mengabungkan elemen modern dan kuno ( tongkat Iris yang mengebuki kang paket dan dewa dewi yang kursus yoga. Pesan bijak tentu ada. Percy bikin adegan yang bikin Anabeth dan Grover mencucurkan air mata.
Seperti biasa, ada satu PETUAH BESAR yang hendak disampaikan Riordan dalam setiap karyanya. Di novel ini, adalah bagaimana kita merangkul sesuatu yang sudah pasti dan tak bisa dihindair tetapi cenderung kita jauhi: usia tua. Saking terobsesinya dengan tetap muda, kita pasti lupa bahwa menjadi dewasa dan menua itu niscaya. Hidup lalu dihabiskan dalam upaya agar tetap muda. Segala yang tua dan uzur dijauhi, sementara yang muda mudi dipuji. Tidak heran jika usia tua menjadi semakin menakutkan karena ada kesepian di sana.
Kita semua (yang diberikan kesempatan) akan menua pada akhirnya. Cukup jalani saja, nikmati prosesnya. Tidak usah takut menjadi tua, takut lah menjadi tua tapi tidak bahagia.
No comments:
Post a Comment