Search This Blog

Wednesday, September 8, 2021

Majava, Cinta Terlarang di Sunda Distopia

Judul: Majava

Pengarang: S.J. Munkian

242 pages

Published November 11th 2020 

Penerbit Storial x NulisBuku


Selamat datang di Lembah Sarongge, lembah luas yang dikepung oleh tebing batu tinggi dan mustahil didaki karena curamnya. Dibelah oleh sungai Kanuha yang berair melimpah, di lembah inilah hidup dua komunitas suku yang saling menghindari, suku Vanartara dan Varsha. Keduanya tinggal di dua sisi sungai yang berbeda dan memang dilarang untuk dipersatukan. Kehidupan di Sarongge diatur oleh ajaran kitab suci yang diturunkan oleh Dewa Vitarah. Warga dari kedua suku begitu menghormati dan menaati ajaran Vitarah. Hukuman berat menanti bagi mereka yang melanggar. Sebuah lembaga perwakilan yang menjembatani pemerintahan kedua suku dibentuk dengan nama Tarum. Lembaga independen ini memiliki kedudukan setara dengan kepala suku bahkan lebih tinggi. 

Ada tiga belas pantangan dalam ajaran Vitarah. Salah satunya: haram hukumnya anggota suku yang satu berinteraksi apalagi mengunjungi suku yang satunya. Mereka yang melanggar pantangan akan menjadi orang terkutuk dan harus diasingkan serta menyandang gelar sebagai Majava. Banyak warga Sarongge yang memilih untuk dihukum mati ketimbang diasingkan menjadi Majava. Menjadi Majava berarti harus hidup di tengah hutan di kawasan Hutan Terlarang yang berada di kawasan hilir sungai Kanuha. Konon, tidak ada tanaman pangan yang bisa tumbuh subur di Hutan Terlarang tersebut selain pohon berbuah pahit yang disebut pohon maja. Ya, pohon maja atau mojo yang menjadi asal-usul penamaan kerajaan Majapahit. Buah yang konon diucapkan oleh Mahapatih Gadjah Mada saat dia mengucapkan sumpah Amukti Palapanya.

Kembali ke Majava. Awalnya saya bingung membaca awal novel ini. Penulisnya bilang kalau Majava adalah sekuel dari Arterio yang penuh sihir dan fantasi sekali. Karenanya, saya mencari-cari kaitan antara Sarongge dengan kerajaan Kartanaraya, yang ternyata tidak ada. Majava sama sekali berbeda dengan Arterio. Kisah ini seperti Romeo Juliet era distopia yang terjadi di Sunda masa lampau. Sangsaka dan Kalinda yang berasal dari dua suku berbeda saling jatuh cinta. Mereka bertekad untuk melakukan Ritus Angkara yang akan menjadikan mereka Majava di Sarongge. Tetapi kisah ini ternyata bukan sekadar kisah kasih terlarang yang tak sampai, tapi juga melibatkan intrik berusia setengah abad, perang antar suku, pengkhianatan, dan juga tentang murninya cinta dan juga ikatan kekeluargaan.

Bagian awal Majava sangat lambat, mungkin karena penulis hendak memperkenalkan bangun dunia dari kisah Majava yang bersetting di Lembah Sarongge. Tidak dijelaskan di mana lembah ini berada, juga kapan setting waktu terjadinya kisah. Jika Arterio agak mirip Divergent, maka Majava mengingatkan saya pada The Maze Runner. Warga Sarongge terkurung dalam sebuah lembah tertutup yang dikelilingi tebing batu tinggi nan curam. Mustahil memanjat dinding batu cadas itu sehingga selamanya mereka seperti terkurung di sana. Apa yang ada di luar Lembah Sarongge juga tidak dijelaskan. Ini seharusnya bisa lebih dikembangkan lagi sama penulis. Tetapi, mari kita tunggu saja di tulisan selanjutnya. Siapa tahu ada kaitan besar antara Lembah Sarongge dengan Sekolah Nimbel.

Meski alur lambat, detail novel ini layak mendapat acungan jempol. Dengan pelan namun mengalir, penulis mengajak pembaca mengikuti kisah cinta terlarang Sangsaka dan Kalinda. Bagaimana keduanya jatuh cinta dan memutuskan mempertahankan cintanya dikisahkan dengan setting kehidupan masyarakat di kedua suku dengan begitu detail. Lengkap dari sistem kepercayaannya, bagaimana kedua suku mencari nafkah, berbagai festival yang diadakan, ciri khas kedua suku, pemerintahan dengan sistem perwakilan yang dipegang Tarum, dan masih banyak lagi. Elemen Sunda sebagai latar budaya si penulis bisa dilihat pada banyaknya diksi bahasa Sunda yang digunakan. Tingkah laku kedua suku juga sepertinya "Sunda" banget, halusssss pisan. 

Lalu mengapa Majava? Mungkinkan pernikahan terlarang antara anggota Vanartara dan Varsha terinpsirasi oleh sebuah mitos di pulau Jawa: tentang pantangan menikah antara suku Jawa dan suku Sunda. Konon, jika ada pria Jawa yang menikahi gadis Sunda (atau sebaliknya?) maka pernikahannya tidak akan langgeng dan banyak konflik. Benarkah Majava melambangkan mitos ini? Jika memang benar demikian, apakah Lembah Sarongge itu pulau Jawa? Entahlah, mari kita tunggu konfirmasi dari penulisnya.

Ditulis dengan sangat detail, dengan diksi dan aroma budaya Sunda yang kental dan world building yang begitu terperinci. Alur lambat tetapi memikat karena memang mas Aji nulisnya ngalir banget, selancar aliran Sungai Kanuha. Menyelesaikan membaca Majava menghadirkan perasaan dingin namun sejuk seperti ketika kita tengah memandang lembah luas Sarongge dari salah satu tingkat Bale Undagian. Sebuah kelanjutan yang menyegarkan dari Arterio. 



No comments:

Post a Comment