Search This Blog

Tuesday, November 3, 2020

Bernostalgia lewat Perjamuan Khong Guan Jokpin

 Judul: Perjamuan Khong Guan
Penyair: Joko Pinurbo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebit: Januari 2020
Tebal: 130 halaman





HATI KHONG GUAN

 

Hatiku yang biasa-biasa saja

sudah menjadi biskuit

dalam kaleng Khong Guan

Mula-mula dicuekin,

tak membangkitkan selera,

lama-lama, ha-ha, habis juga

(2019)

 

Momennya cocok, lebaran baca perjamuan Khong Guan (meskipun lebaran kali ini tidak beli. Tetapi sebagaimana tersirat dalam puisi Jokpin bahwa yang penting kalengnya, bukan isinya wkwk). Buku ini menemukan momennya setelah puisi-puisi beliau yang bertema salah satu merek biscuit legendaris ini dimuat di harian Kompas awal 2020. Puisi-puisi tersebut dapat ditemukan di buku ini (alasan lain kenapa kudu punya buku ini hehe) dalam kaleng yang terakhir.

Mengapa puisi Khong Guan ini begitu memesona? Karena keunikan sekaligus kedeatannya dengan kita. Hanya segelintir orang seperti Jokpin yang mampu memelintir “makanan umum” seperti biscuit Khong Guan menjadi larik-larik puisi yang menyenangkan. Puisi yang tidak hanya unik tapi juga asyik dan mengingatkan kita pada momen-momen istimewa di masa kecil saat tengah berebutan wafer dalam kaleng Khong Guan. Tidak heran jika foto puisi-puisi beliau di Kompas Minggu langsung mewarnai stori banyak teman di jagad whatsapp.

Jokpin memang pandai menangkap kesamaan kita semua, lalu digubah menjadi bahan puisi. Ini menyindir banyak kita yang kebingungan mencari inspirasi padahal masalahnya bukan ada atau tidaknya, tapi bisa atau tidak mengolahnya. Siapa hayo yang pas kecil hanya ngincer wafernya doang di antara semua isi kaleng Khong Guan? Kebiasaan yang sangat Indonesia banget dan mengingatkan kita pada masa masa itu. Ketampol juga sama sindirian beliau di salah satu puisi di buku ini: walau awalnya sok nggak doyan, tapi ha ha lama lama habis juga seluruh isi kaleng Khong Guannya.

Sebagaimana jamuan lebaran, ada empat kaleng puisi dalam buku ini yg masing masing dibagi per tema. Kaleng satu dan dua adalah kumpulan puisi Jokpin yang khas beliau, kaleng ketiga puisi puisi untuk seorang wanita istimewa, dan kaleng keempat adalah puisi puisi Khong Guan. Selain masih menampilkan puisi yang bercerita dengan ending bikin mak jenggirat, tidak lupa terselip pesan pesan sosial yang menggelitik.

"Maaf saya

sedang

berbahagia

negara

dilarang

masuk

ke hati saya"


2 comments: