Search This Blog

Monday, September 14, 2020

Surga di Andalusia

26013427. sy475

Spanyol Andalusia di abad 10 M adalah satu dari dua puncak peradaban Islam (satunya lagi di Baghdad pada abad 8 M) yang kini hanya dapat kita kenang. Tidak banyak yg tertinggal dari bumi Andalusia selain masjid agung Cordoba yg kini ditengahnya dibangun altar, istana Alhambra yg untungnya masih terjaga di Granada, serta menara la Girda yg dulu dipakai sebagai tempat adzan dan kini jadi menara katedral. Sedih rasanya kalau mengingat masjid agung Seville yang diruntuhkan pada abad 15 M dan digantikan dengan katedral Gothik terbsar di dunia.

Peristiwa recoungista atau penaklukan kembali Spanyol oleh kaum Kristen selama ini dipandang sebagai satu satunya penyebab runtuhnya Andalusia Islam. Tetapi membaca buku ini, kita jadi tersadar bahwa sebagaimana manusia, peradaban itu tumbuh berkembang lalu runtuh sebagaimana dikatakan Ibnu Khaldun. Andalusia Islam runtuh bukan hanya karena serangan kerajaan Kristen tetapi juga serangan kerajaan Islam bangsa Berber dari Afrika Utara. Bahkan, melemahnya Andalusia juga lebih dikarenakan umat muslim yg terpecah jadi kota kota kerajaan yg saling berperang satu sama lain. Kerusakan terbesar monumen Islam,, yakni ambyarnya kompleks Madina Al Zahra tenryata dilakukan oleh suku suku Islam dari Afrika Utara. Pernah ada sebuah kekhalifahan besar di Cordoba, yang runtuh akhir abad 10 dan digantikan oleh taifa taifa kecil yang saling berseteru, padahal mereka saudara seiman. Ini membuktikan bahwa sejatinya perang antaragama itu tidak lebih dari perang politik. Dalam sejarah, tidak ada pihak yg sepenuhnya hitam dan sepenuhnya biru. Ada berbagai variabel, tokoh, kebijakan, politik, dan kepentingan dalam setiap peristiwa.

Kita mengenang Andalusia dengan peradaban tingginya. Tetapi ada satu lagi pencapaian Islam Andalusia yg terlewatkan: tenggang rasa. Era kekhalifahan Cordoba adalah masa ketika umat Islam, Kristen, dan Yahudi bisa hidup saling berdampingan bahkan bekerja sama. Seorang Yahudi bahkan pernah menjabat perdana menteri yg disegani. Di era ini pula, ketiga pemeluk agama slaing bersatu mengumpulkan ilmu, mengerjakan terjemahan, sibuk menyelamatkan bahkan mengembangkan ilmu kuno warisan Yunani. Bahkan selepas Andalusia jatuh ke tangan penguasa Kristen Kastilia, pernah ada masa ketika tenggang rasa khas Andalusia itu tetap terjaga.

Andalusia lama selayaknya menjadi cermin bagi umat Islam modern. Tidak hanya dari segi pencapaian ilmu pengetahuan, bahasa, arsitektur, dan filsafatnya; tetapi juga tentang sikap tenggang rasa dan menjunjung tinggi pluralisme antar pemeluk agama yang akhir akhir ini sering terabaikan. Dari sejarah Andalusia, kita belajar bahwa pencapaian emas tidak hanya dalam bentuk peninggalan materi, tetapi juga sikap tepo seliro marang liyan.

No comments:

Post a Comment