Search This Blog

Tuesday, December 17, 2019

Jalan-Jalan Gratis bersama Traveling Aja Dulu!

Judul: Traveling Aja Dulu!
Penulis: Olivia Dianina Purba
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2018
Tebal: 256 halaman




Mengapa kita disarankan untuk bepergian untuk jalan-jalan alias travelling? Alasannya banyak sekali. Olivia telah merangkumkan sebagian besar alasannya di buku ini. Travelling itu penting, di antaranya selain dapat membuat kita bahagia dan rileks, travelling juga menjadikan kita pribadi yang lebih ramah dan berpikiran terbuka, mengasah kemampuan memecahkan masalah, menambah pengalaman, menjajal keberanian, mendapat banyak teman, dan masih banyak lagi. Dalam bahasa yang agak lebai, bisa dikatakan bahwa seorang manusia belum menjadi seorang manusia yang utuh, yang telah selesai dengan dirinya sendiri, jika dia belum pernah traveling. Jadi, nggak rugi kok buat kamu yang memang suka travelling alias jalan-jalan.

Traveling mahal? Ya, memang nggak salah juga sih. Apalagi jalan-jalan ke luar negeri tentunya membutuhkan uang saku, biaya transportasi, serta akomodasi yang tidak sedikit. Tapi, selalu ada jalan ketika kita mau berusaha. Olivia membuktikan hal ini. Dalam bukunya yang sangat padat isi ini, penulis membuktikan bahwa hobi travelling yang dikenal mahal ternyata bisa diakali dengan banyak cara. Tentunya diakali di sini adalah dengan cara yang baik-baik serta tidak melanggar hukum. Misalnya saja, Olivia menggunakan kelebihannya di bilang intelektual dan pendidikan untuk bisa melanglang buana ke setidaknya 35 negara berbeda di penjuru dunia. GRATIS pula!

Kok bisa? Bisa kok. Ada banyak cara untuk menjadi traveller. Cara paling gampang sih punya uang dalam jumlah banyak atau bekerja sebagai duta besar. Tetapi, jika kamu belum keduanya, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Kadang, jawaban itu ada di dalam diri kita sendiri. Olivia dalam buku ini menunjukkan caranya dengan berperan aktif dalam bidang yang dia tekuni: dunia kampus. Dengan kecerdasan otak serta kematangan intelektualnya, Olivia mengejar cita-cita untuk berkeliling dunia gratis lewat jalur pendidikan. Entah sudah berapa kali dia menjadi perwakilan kampus untuk acara-acara pertemuan muda-mudi internasional, atau ikut program voluntering alias menjadi sukarelawan dalam proyek-proyek internasional.

Tentu tidak mudah untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis. Dalam buku ini, Olivia menjelaskan dengan rinci langkah-langkah yang harus dilaluinya hingga dia bisa menjadi seorang traveller gratisan tapi tetap bermartabat seperti saat ini. Diawali dengan perjuangan masuk universitas paling bergengsi di Indonesia, di mana lagi kalau bukan di Universitas Indonesia. Sebagai universitas yang dianggap mewakili Indonesia, kampus ini tentu memiliki jaringan kuat dengan berbagai kampus atau institusi dari penjuru dunia. Bisa berkuliah di UI menjadi langkah strategis bagi Olivia untuk memulai perjalanan gratisnya ke seluruh dunia.

Perjuangan ini tentunya tidak mudah. Dalam bab-bab di dalam buku ini, kita bisa melihat jatuh bangun Olivia dalam mendaftar program internasional, lalu berlomba dengan ratusan calon peserta lain sampai akhirnya dia bisa lolos mewakili entah kampus, entah lembaga, entah negara tercinta di berbagai negara asing. Lucunya, Olivia yang berasal dari Indonesia malah pernah ditunjuk untuk mewakili negara Australia di sebuah forum Internasional MIKTA  yang diadakan di Seoul, Korea Selatan. Seru juga mengikuti berbagai kegiatan muda-mudi internasional ini.

Lah, dari tadi kegiatan formal internasional melulu, kapan jalan-jalannya? Nah di sinilah cerdiknya Olivia. Di sela-sela mengikuti berbagai kegiatan internasional inilah Olivia jalan-jalan. Kadang, dia datang sehari-dua hari lebih awal dari acara, atau pulang lebih lambat dua atau tiga hari. Waktu sela ini ia gunakan untuk travelling solo di tempat-tempat yang berada di sekitar tempat berlangsungnya konferensi. Di buku ini, kita bisa mengintip jalan-jalannya saat di Srilanka, Beijing, Kamboja, Vietnam, Kanada, dan masih banyak lagi. Kadang, dia malah dapat rekan seper-travelling-an yang sama-sama peserta konferensi. Asyik deh.

Hanya saja, karena terfokus pada kegiatan konferensinya, acara jalan-jalan di buku ini menurut saya jadi kurang banyak. Foto-fotonya juga kurang banyak, dan kalau ada pun fotonya juga tidak berwarna. Berbagai tempat keren digambarkan sekadar asal lalu saja sehingga pembaca hanya bisa mupeng dan (kalau rajin) mencari sendiri info serta foto-fotonya di internet. Namun, kekurangan ini terbayar dengan berbagai kisah seru mulai dari lucu hingga horor yang dibagikan penulis di buku ini. Selesai membaca buku ini, saya semakin sadar bahwa setiap impian layak untuk dikejar. Dan, bahwa tidak ada sesuatu pun yang mustahil dicapai ketika kita bersedia untuk berjuang sekuat tenaga dan sepenuh hati, termasuk jalan-jalan keliling dunia gratis.

No comments:

Post a Comment