Search This Blog

Thursday, November 7, 2019

Stay Ugly, Jangan Tertipu dengan Tampilan Luar

Judul: Stay Ugly
Pengarang: Kahlui
Cetakan: Pertama, Oktober 2019
Tebal: 208 hlm

Penerbit: Clover



Magical Tales of Gandaloka: Stay Ugly

Seri kedua  Magical Tales of Gandaloka ini masih mengangkat tema yang sama, juga setting tempat yang serupa di Kota Gandaloka. Jadi, di Gandaloka, manusia dan demit hidup berdampingan. Para demit menyembunyikan identitas mereka tentu saja, walaupun mereka berperilaku persis seperti manusia. Mereka bersekolah, memiliki usaha, bahkan ikut teater. Salah satu demit itu adalah Sola alias Solaria.

Karena sebuah kutukan kuno, Sola kecil terkena kutukan sihir kelambu (bagus ya namanya) yang membuat wajah aslinya tertutup. Orang lain akan melihat wajah buruk rupa Sola, padahal Sola sendiri tidak menemukan ada yang salah pada wajahnya. Sihir kelambu yang menempel di wajahnya lah yg menjadikan orang melihat Sola sebagai sosok buruk rupa.



Kejadian traumatis saat SD dan SMP membuat Sola menarik diri dari pergaulan. Ia membenci orang yang hanya memandang dari penampilan, bukan dari kepribadiannya. Di sisi lain, Sola juga emoh jika orang baik kepadanya hanya karena wajahnya yang buruk rupa akibat kutukan. Hanya di ekskul teater HAWE, gadis itu merasa bisa menjadi dirinya sendiri dan dihargai karena bakatnya berakting, bukan karena rupa.

Di Hawe yang hanya terdiri dari empat siswa inilah Sola bertemu dengan Yasha (kenapa nggak dipanggil Yudis aja sih, kan malah keliatan gagah gitu drpd Yasha). Cowok cakep dan populer ini memang aneh. Bisa-bisanya ia gabung dengan klub ekskul teater yang dianggap cupu di SMA Gardaloka. Solo juga heran, tapi di kemudian hari terbukti kalau cowok itu memang passionnya main teater. Yasha juga bisa menjadi si logis untuk mengimbangi Sola yg emosional. Berdua, mereka menjadi inti dari Hawe.

Jika di Halfie demitnya muncul sedikit banget, di Stay Ugly ini kaum demitnya malah kayak diobral. Awalnya, saya mengira kaum demit ini mahkluk-mahkluk supranatural, tetapi setelah baca dua serinya, demit Gardaloka lebih mirip kaum mutant dengan keahliannya. Ada yang bisa menipu pandangan, memanipulasi kayu, berteleportasi, mengeluarkan materi hitam, menembakkan gelombang, hingga berubah jadi binatang buas. 

Tidak bermaksud membandingkan, tapi saya lebih suka konsep demit di buku ini ketimbang di Halfie. Walaupun masih membawa aroma X-Men, para demit di Stay Ugly terasa lebih manusiawi, remaja-remaja kebanyakan can relate dengan tokoh-tokoh demitnya. Ceritanya memang ala teenlit gitu, tapi saya suka karena seri Gardaloka ini menurut saya mampu memadukan genre fantasi dengan roman remaja. Mungkin dengan gaya mixed seperti inilah pembaca Indonesia bisa mulai menyukai membaca genre fantasi.

Yang bikin saya kasih bintang 4, cerita di buku ini nggak lurus lempeng. Banyak kelokan tajam, plottwist yang wow, adegan yang bergerak cepat, serta kelihatan banget perjuangan keras penulis untuk menjaga agar jangan sampai ada plothole. Satu hal yang cukup menonjok di buku ini, adalah bahwa selama ini kita terbiasa memandang mereka yang rupawan sebagai orang yang sombong dan sok. Padahal, banyak juga orang yang tampang sekaligus hatinya sama-sama cakep. 

Saya juga suka dengan aroma remaja yang kental banget di buku ini. Berkali-kali ngakak sama kelakuan dua demit di Hawe ini: 


"Jadi elu (demit) juga?"
"Elu juga?"
"Anjir"
"Anjir"
"Anjir"
"Anjir"

Juga kelakuan Sola yang nggak menye-menye. Walo sikapnya kadang keras dan terlalu apa adanya, ada alasan di balik itu semua. Romansanya juga nggak bikin eneg, karena ada andil tokoh tokoh yang SMA banget. Adegan pertempuran gimana? Ada juga dong. Konsepnya mirip dengan di Halfie.

Pokoknya ini bagus, saya suka! Jadi pengen baca tiga buku "The Magical Tales of Gandaloka" lainnya.

No comments:

Post a Comment