Search This Blog

Friday, September 20, 2019

Cinta Segi Empat di Rumah Gema

Judul: Rumah Gema
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah:
Tebal: 401 hlm
Cetakan: 1993
Penerbit: Gramedia 




Membaca blurb buku-buku Agatha Christie selalu memunculkan rasa penarasan. Nuansa seram karena sebuah peristiwa pembunuhan, sekaligus mengundang pembaca untuk ikut menjadi "saksi" penuntasan misteri sebuah kasus.

***
Hercule Poirot merasa kesal dan jemu. Kematian sama sekali bukan hal yang menyenangkan. Tapi di sini mereka malah menggodanya dengan menyajikan suatu adegan pembunuhan. Di tepi kolam, sesosok tubuh digeletakkan secara artistik, lengannya terentang. Bahkan ada cat merah menetes-netes. Sosok itu sangat tampan. Beberapa orang berdiri mengelilinginya dalam pose-pose yang aneh. Semuanya sangat tidak profesional.


Namun sekonyong-konyong Poirot menyadari bahwa adegan ini amat nyata. Begitu nyata, hingga membuatnya tersentak bagai dihantam palu godam. Cairan yang menetes itu bukan cat merah, melainkan darah.

***

Beberapa orang diundang untuk menghabiskan libur akhir pekan di Puri The Hollow di pinggiran London. Kebanyakan adalah sanak keluarga Angkatell. Selain suami istri tuan rumah, ada juga pasangan Dr. John Christow dan istrinya, muda-mudi Edward, David, Henrietta, serta Midge. Juga seorang bintang Hollywood bernama Veronica. Malam Sabtu, acara perjamuan berjalan dengan lancar. Semua orang menikmati hidangan walaupun beberapa merasa terpaksa menikmati karena "keharusan". Hingga tiba-tiba muncul sosok Veronica yang ternyata memiliki "masa lalu" dengan Dr. John Christow yang tampan. Kejutan muncul lagi penghujung malam, ketika sesosok pria ditemukan tewas bersimbah darah di kolam renang komplek The Hollow, dan Hercule Poirot turut menjadi saksi pembunuhan kali ini. 

Tidak seperti di buku lain, karakter-karakter di buku ini menurut saya jauh lebih menarik ketimbang alurnya. Tidak heran jika Poirot hanya dimunculkan mulai di bagian tengah. Mungkin, penulis ingin memberikan sorotan lebih kepada para karakternya. Rumah Gema termasuk tebal untuk ukuran buku-buku Agatha Christie, total halamannya mencapai 401 (bacanya lama euy, hampir seminggu). Sengaja pilih buku ini untuk "Agatha Christie readathon-nya @selselkelabu" karena selain belum baca, bukunya jadul gila (terbit 1993, harga masih Rp7.000  wkwkwk), juga karena ada Hercule Poirotnya. Gara-gara racun dari mbak Ajjah yang bilang kalau Poirot lebih oke segala-segala daripada Holmes, saya jadi penasaran sama orang Belgia ini. 


Poirot baru muncul ketika cerita sudah bergulir hampir separuh buku. Dan asli dia itu 'ngeselin' banget: "soalnya pohon-pohon punya kebiasaan jorok, yaitu menjatuhkan daun seenaknya saja," (hlm 143). Dan sempat sempatnya lho beliau ini menjentik butir debu terakhir di sepatunya. Dulu pernah bahas sama Mbak Ajjah tentang sosok Poirot yang tidak mau terlalu berkotor-kotor dalam memecahkan kasus. 'Tidak perlu nyamar jadi tunawisma atau bersembunyi di semak semak dulu untuk memecahkan kasus rumit.' Ini kan sudah menyindir Holmes banget namanya *gulung lengan baju* . 

menurut saya, fokus Rumah gema ada pada karakter-karakternya. Ceritanya sendiri berputar-putar dan memanjang sampai kemana-mana. Kadang capek juga sih tapi anehnya saya malah jadi menikmatinya. Inilah bukti kepiawaian Agatha Christie dalam memesona pembaca. Tahu-tahu saja, cerita keluarga Angkatell begitu menarik. Ini ditambah dengan karakterisasinya yang sangat kuat dan unik. Kelebihan Agatha selain twist pelaku pembunuhannya adalah menciptakan karakter-karakter yang Inggris banget, sekaligus beda-beda jalan berpikirnya. Dalam bayangan saya, karakter-karajter itu memang beneran ada. 

Saya terhanyut sama anggota keluarga Angkatell yang orisinal dan unik-unik, terutama Lady Angkatell. Rumah Gema tidak terlalu menunjukkan superiotas Poirot. Ada karakter kuat yang ternyata menjadi lawan tangguhnya. Porsi Poirot kurang banyak di Rumah Gema ini, dia juga cenderung pasif. Karakter-karakternya sendiri yang dengan indah digerakkan oleh Agatha Christie sehingga membentuk alur hingga menemukan jalan permasalahannya.
Ditambah setting the Hollow yang Inggris pinggiran, ini bikin betah sekaligus kangen baca buku-buku seri AC. 

Dan di Rumah Gema, saya sekali lagi gagal menebak pelaku pembunuhannya. Walau saya sudah tahu kalau si A nggak mungkin, apalagi di B. Petunjuk sebenarnya bisa kita temukan di bab-bab awal andai saja--seperti kata Holmes--kita memperhatikan. Selamat buat Tante Agatha Christie yang kembali "menipu" pembaca dengan cara yang begitu memesona.


2 comments:

  1. Mantap bgt kaks!

    Kalau sempat main juga ke blog saya Cerita Alister N ya.... Makasih 🙏🙏

    ReplyDelete
  2. Ketimbang mrs. Marple, saya lebih suka petualangan Hercule Poirot, menurut saya lebih hidup. meskipun yang nulis sama sih, wkwkwk

    ReplyDelete