Search This Blog

Monday, February 26, 2018

Puisi-Puisi Politik Jokpin dalam Celana



 Judul: Celana
Penyair: Joko Pinurbo
Cetakan: Februari 2018
Tebal: 88 hlm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



Di Festival Sastra Basabasi akhir 2017 lalu, ketika Jokpin dipertemukan dalam satu panggung dengan Sapardi Djoko Damono, beliau menyebut betapa Sapardi merupakan penyair yang menjadi inspirasi utama karya-karya awalnya. Sapardi pun menanggapi dengan sedikit bercanda, sambil bercerita sempat beliau jalan-jalan ke Shopping Center (pasar buku bekas di Jogja dulu, kini di kompleks Taman Pintar) dan menemukan salah satu buku puisinya. Di buku lecek itu tertera nama pemiliknya, yakni Joko Pinurbo. Jokpin sendiri langsung ingat bahwa dia pernah punya buku puisi karya Sapardi yang kemudian hilang entah kemana, dan ajaibnya malah ditemukan oleh penyairnya sendiri di pasar loak wkwk. 

Bukan hanya soal temuan buku puisi ini yang menarik. Lebih menarik lagi adalah betapa puisi-puisi Sapardi di buku milik Jokpin itu dicorat-coret oleh pemiliknya. Bukan sembarang coretan, tetapi coretan catatan. Jokpin seperti sedang membedah puisi-puisi Sapardi, mencari-cari keistimewaannya untuk kemudian ditandai, dan catatan hasil analisisnya itu dia tulis langsung di samping puisi yang tengah dibedah. Ini satu lagi bukti yang menunjukkan betapa guru terbaik seorang penulis (termasuk penyair) memang penulis (atau penyair) lainnya. 
Dalam Celana ini, kita menemukan puisi-puisi Jokpin dari era 1980 – 1998. Seperti puisi-puisi lain karyanya, Jokpin banyak menyorot tentang beragam masalah dan fenomena sosial yang lagi hits pada era itu. Pembredelan media yang marak pada awal 1990an diabadikan oleh Jokpin dalam banyak puisi di buku ini. Penangkapan terhadap kata-kata menyiratkan upaya membatasi gerak wartawan. Juga, penyebutan kata ‘caping’ merujuk pada pembredelan Majalah Tempo yang dilakukan dua kali (tahun 1982 dan 1994). Kita ingat caping adalah singkatan dari Catatan Pinggir, kolom tetap populer di majalah Tempo yang diasuh oleh Goenawan Mohammad. 

Ada sedikit perbedaan antara puisi-puisi di buku ini dengan puisi-puisi Jokpin di buku-buku lainnya. Saya merasakan puisi-puisi di Celana lebih panjang, dengan tema yang lebih berat. Meski ada beberapa yang mengingatkan kita pada puisi-puisi Jokpin populer yang pendek-pendek dengan rima yang menghibur (seperti “Kurcaci” dan “Celana”), lebih banyak puisi yang panjang menyerupai paragraf cerita. Sedikit mengingatkan saya pada puisi-puisi Sapardi. Seolah, Celana merupakan bukti awal ‘peniruan kreatif’ dari puisi-puisi karya Sapardi.

Secara materi, Celana juga sarat dengan puisi-puisi yang terkait erat dengan beragam peristiwa politik di era Orde Baru hingga keruntuhannya pada tahun 1998.  Pembredelan media yang tidak mau tunduk pada penguasa, penangkapan para aktivis dan mahasiswa, penghilangan orang secara paksa, penjemputan sejumlah orang yang vokal pada pemerintahan. Sesungguhnya ada banyak peristiwa besar di balik puisi-puisi yang mengalir lancar di buku ini. Sambil iseng googling sejarah bangsa, kita bisa belajar banyak dengan menyimak puisi-puisi di buku ini.   


KURCACI


Kata-kata adalah kurcaci yang muncul tengah malam
dan ia bukan pertapa suci yang kebal terhadap godaan.

Kurcaci merubung tubuhnya yang berlumuran darah,
sementara pena yang dihunusnya belum mau patah.

(1998)

4 comments:

  1. Hampir mau baca buku ini pas ada di Gramedia Digital. Sayangnya karena kumpulan puisi, saya mundur. Masih belum paham bagaimana menikmati puisi. Sekadar baca pasti tak berbekas. Menduga maknanya bakal butuh waktu panjang. Bingung sekali cah kalau menemukan buku serupa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mau mulai baca Jokpin, saya sarankan baca yang Selamat Menunaikan Ibadah Puisi dulu, yang ini berat ...biar aku saja.

      Delete
    2. wkwkwkwkw. Biar berat pun, saya punya jiwa setangguh karang. Ini bukan berat memikul, ini tentang waktu yang dijajah kebingungan.

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete