Search This Blog

Thursday, January 19, 2017

Membaca Sastra Melembutkan Dunia



Judul: Membaca Sastra Membaca Dunia
Penyusun: Azwar, S.S., M.Si.
Penyunting: Muhajjah Saratini
Tebal:176 hlm
Sampul: Ferdika
Cetakan: Pertama, Desember 2016
Penerbit: Basabasi




Salah satu tema menarik yang dibahas di buku ini terkait ‘matinya’ pengarang setelah karyanya diterbitkan dan dilempar ke pasar. Pernyataan Barthez ini sekian lama telah menjadi topik hangat di dunia perbukuan. Tulisan sebagai sebuah teks adalah sesuatu yang sifatnya otonom. Ia memang diciptakan oleh si pengarang tetapi setelah dicetak, ia menjadi sesuatu yang baru dan berdiri sendiri. Terlepas dari ada nama pengarang dalam sampul buku itu, sebuah buku adalah sesuatu yang bukan penulisnya. Benarkah begitu? Menarik menyimak sanggahan penulis terhadap teori Barthez ini. Pada kenyataannya, banyak pembaca di Indonesia yang masih membeli buku karena nama besar penulisnya. Faktanya, dalam kasus saya, saya membaca Bumi Manusia karena yang nulis Pram. Pram yang itu loh! Di luar sana, ada ribuan anak-anak muda yang tengah mengandrungi buku-buku kekinian karya penulis terkini, macam Dee, Seno Gumira Ajidharma, dan tak lupa Tereliye. Sulit membayangkan apakah anak-anak muda itu akan tetap membeli buku Hujan atau Rindu seandainya mereka tidak tahu kalau penulisnya Tereliye. 

“Sastra memang tidak membangun secara fisik, sebagaimana membangun jembatan atau gedung, tetapi sastra membangun manusia yang akan membangun peradaban.” (hlm. 45)


Selain tema di atas, ada beberapa ide menarik lain tentang sastra yang diangkat penulis di buku ini. Tapi saya terutama suka sama cara penulis yang memulai atau menyusun esai-esainya berdasarkan satu buku yang beliau baca. Dengan kata lain, esai-esai di buku ini agak mirip dengan tulisan tentang ulasan buku yang diperdalam. Bab 4 tentang “Sastra yang Memihak” misalnya, disusun berdasarkan pembacaan penulis tentang Bumi Manusia-nya Pram. Lewat novel atau tulisannya, penulis menunjukkan keberpihakkannya kepada sesuatu atau sekelompok orang tertentu. Dalam kasus Pram, lewat Tetralogi Buru-nya itu beliau menunjukkan keberpihakkannya pada orang-orang pribumi yang tertindas di masa penjajah. Jadi, adakah karya sastra yang tidak memihak? Sulit, kalau tidak bisa dibilang mustahil karena setiap penulis pasti menulis karena dorongan keberpihakan tententu, sekecil apa pun itu. Bahkan seandainya ada satu karya sastra yang murni dipersembahkan untuk kemanusiaan pun, dia tetap memihak.

“Karya sastra juga sebuah media perjuangan mewujudkan manusia yang bermartabat, manusia yang hidup berkeadilan, dan manusia yang menyadari seutuhnya bahwa semua manusia sama-sama berhak untuk hidup di dunia ini.” (hlm. 66)

Sastra dapat digunakan untuk mengomunikasikan gagasan-gagasan besar tanpa terasa mengurui dan menghakimi. Ungkapan ini benar adanya karena sering kali gagasan-gagasan kemanusiaan bisa lebih tersampaikan lewat jalan cerita ketimbang khutbah semata. Betapa banyak dari kita yang jadi lebih peka, lebih mau berempati, dan lebih mau memandang dari sudaut pandang orang lain setelah membaca banyak karya sastra. Dalam hal inilah, sastra memenuhi tugasnya sebagai guru yang tidak mengurui. Ia menunjukkan lewat contoh, mengajak pembaca menyelusup masuk dalam kehidupan tokoh-tokohnya agar kita bisa ikut merasakan secara langsung apa yang dirasakan orang lain tanpa kita harus mengalaminya secara langsung. Jadi benar kata ungkapan, bahwa para pembaca sastra bisa mengalami seribu kehidupan dalam satu kehidupannya.

“Seorang sastrawan yang baik akan mengatakan ‘dengan sastra aku melawan.” (hlm. 90)

Satu kecenderungan yang sangat tampak di buku ini adalah keberpihakkannya pada sastra Islami. Nama Helvy Tiana Rosa dan komunitas Forum Lingkar Pena berulang kali disebut untuk menjelaskan tema-tema tentang sastra Islami. Penulis rupanya agak kurang setuju dengan jargon sastra untuk sastra sebagaimana diusung oleh para sastrawan kawakan Indonesia. Sastra juga bisa digunakan sebagai media dakwah asal disampaikan dengan cara yang halus, elegan, dan tidak mengurui. Ini berbeda dengan pendapat Seno Gumira Ajidarma yang pernah bilang bahwa sastra bukan buku agama sehingga semestinya tidak berisi khutbah keagamaan. Sah-sah saja setiap penulis memiliki kecenderungan berbeda seperti ini. Hal ini malah semakin membuktikan keberpihakan sastra sebagaimana disinggung penulis di bab 4. Sayangnya, sepertinya penulis kurang menunjukkan ragam bacaan yang luas untuk tema sastra islami karena contoh-contoh yang diangkat hanya HTR saja, padahal masih ada tokoh-tokoh sastra Islami lain seperti Asma Nadia, Wahyu Sujani, dan Habiburrahman el Shirazy. 

“Membaca karya sastra yang bai sama dengan menyuruh orang berbuat baik dan benar.” (A.A. Navis, hlm 160)

Akhirnya, kita diajak untuk mencintai sastra dengan cara semakin banyak membaca buku-buku sastra. Karena kecintaan sastra adalah bukti kemajuan peradaban suatu bangsa. Di negara-negara maju, membaca sastra ibarat sudah menjadi kebutuhan. Sementara di negara kita, membaca sastra sepertinya masih menjadi hak eklusif bagi kalangan  tertentu saja. Padahal, sastra dapat mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang manusiawi serta untuk memanusiakan manusia secara manusiawi. Sastra, kata penulis, tidak mengajarkan kita tentang memandang dari fisiknya, dari kekayaannya, atau dari kekuasaannya. Sastra mengajak kita menghormati dan mencintai manusia karena dia juga manusia. Buku ini, walau tipis dan beberapa bahasan di dalamnya agak kurang fokus, menghadirkan ide-ide segar tekait dunia kesusastraan. Beberapa tulisan di dalamnya mengundang kita untuk melengkapi atau mungkin membantahnya lewat tulisan; dan ini sah-sah saja selama dilakukan dengan baik serta lewat referensi yang terpercaya. Pada akhirnya, ketika ada yang bertanya apa sastra itu? Maka, buku ini menyodorkan jawaban yang sangat indah.

“Sastra adalah cara untuk mencintai nilai-nilai kemanusiaan.” (hlm 157)

No comments:

Post a Comment