Search This Blog

Friday, November 6, 2015

Kumpulan Dongeng Khas dari Negeri Jerman

Judul: Kumpulan Dongeng Khas dari Negeri Jerman
Penyusun: Annisaa T. Kusumadewi
Penyunting: Mahadewa Adiseta
Cetakan: Pertama, Oktober 2015
Tebal: 144 hlm
Penerbit: Saufa Kid




Menjadi baik atau buruk adalah pilihan. Namun, balasan dari keduanya sangatlah berbeda." (hlm 63)

Dongeng-dongeng seperti 'Itik Buruk Rupa', 'Cinderella', dan 'Hansel and Gretel' telah begitu dikenal di penjuru dunia. Kita melewatkan masa kecil dengan membaca kisah-kisah ajaib tersebut, kemudian membaca versi komiknya, menonton versi kartun Disneynya, hingga membaca/menonton adaptasi dari dongeng-dongeng termahyur asal Eropa ini. Dari kisah-kisah negeri jauh itulah kita dulu diperkenalkan dengan kekuatan berbuat baik, hebatnya kesetiaan, serta agungnya ketekunan. Di sisi lain, dongeng-dongeng ini juga memunculkan stereotipe negatif terhadap beberapa hal, seperti ibu tiri yang seolah semuanya jahat, penyihir yang suka menangkap anak kecil, serta angkernya hutan. Kehidupan, selalu ada baik dan buruknya. Selama hidup, kita menjalani banyak hal untuk kemudian belajar lebih bijak dan dewasa. Tapi, dengan membaca atau mendengar dongeng, kita juga bisa belajar.

"Dengan kekuatan, kita bisa mematahkan sebatang kayu. Namun dengan kecerdasan, kisa bisa menumbangkan pohon." (hlm 108)

Kisah-kisah ajaib yang mewarnai masa kecil kita sejatinya adalah hasil jerih payah Hans Christian Andersen yang mengumpulkan (atau mungkin menuliskan) kemudian menerbitkannya dalam sebuah kumpulan dongeng. Darinya, dongeng-dongeng rakyat Jerman ini kemudian menyebar ke penjuru dunia dan entah sudah berapa juta anak-anak dunia yang telah membaca atau mendengarnya. Namun, banyak hal yang sejatinya kurang cocok untuk dibaca anak-anak dalam dongeng-dongeng ini. Dalam beberapa versi asli Cinderella misalnya, si ibu tiri konon dihukum dengan dipaksa mengenakan sepatu ajaib yang memaksanya untuk terus menari sampai mati!!! Untungnya, dalam banyak versi yang beredar dan kita kenal, adegan kasar ini tidak keluar. 

"Niat baik akan membuahkan hasil baik. Keinginan jahat pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal." (hlm 20)

Namun, untuk beberapa hal, sejumlah muatan dalam dongeng-dongeng Ardersen yang sudah diperhalus ternyata masih terdapat beberapa konten yang kayaknya masih terlampau kasar, terutama jika ditujukan untuk pembaca kanak-kanak. Adegan pangeran yang membangunkan Snowhite dengan mencium bibirnya, misalnya. Bayangkan kalau adegan ini dibacakan pada anak-anak usia PAUD dan TK. Karena itu, perlu dilakukan sedikit modifikasi untuk memperhalus  bagian-bagian yang dirasa masih kurang ramah untuk dibaca anak.

"Suatu keinginan akan terlaksana jika ada niat dan usaha. Ketika dua hal tersebut sudah dilakukan, maka pasti akan memperoleh hasil." (hlm 105)

Dalam buku kumpulan dongeng ini, penulis telah melakukan semacam sadur-modifikasi untuk membuat dongeng-dongeng Andersen terasa lebih lembut untuk dibaca anak. Banyak hal yang diganti, misalnya adegan mencium bibir diganti mencium tangan, itik buruk rupa yang dikisahkan masih tetap tinggal bersama saudara-saudara itiknya (meskipun dia sudah menjelma angsa), serta adegan penyihir yang dimasukkan dalam pemanggang (tanpa disebut kalau pemanggang itu tengah dinyalakan). Selain bahasa yang lebih lembut, buku ini juga dihiasi dengan ilustrasi cantik. Saya suka warna-warna halamannya yang terang dan jelas (yang pasti akan lebih semarak jika dicetak pada kertas glossy). 

Yang saya bingung, Andersen kan dari Denmark ya, bukan Jerman? Lalu, kenapa judul kumpulan dongeng ini menggunakan nama 'Jerman' dan bukan 'Denmark'?

No comments:

Post a Comment