Search This Blog

Thursday, September 17, 2015

Percy Jackson’s Greek Gods

Judul: Percy Jackson’s Greek Gods (Dewa-Dewi Yunani versi Percy Jackson)
Pengarang: Rick Riordan
Penerjemah: Nuraini Mastura
Penyunting: Reni Indardini
Sampul dan Ilustrasi: John Rococo
Tebal: 397 hlm
Cetakan: 1, Juli 2015
Penerbit: Mizan Fantasy





Dewa-Dewi Yunani, entitas-entitas kuno paling masyur dan begitu sering diagungkan dan dikaji di belahan Barat. Zeus sang Penguasa Langit, Poseidon yang mengatur Samudra, serta Hades yang memerintah Dunia Bawah. Sosok-sosok agung maha perkasa, berselimutkan cahaya kedewaan dengan patung-patung bertebaran di penjuru Yunani sebagai lambang pemujaan. Juga, jangan dilupakan Dewi Hera (yang digambarkan sebagai sosok bengis dalam serial Hercules), Aphrodite sang dewi cinta, juga Athena yang begitu jaya. Dewa-dewi Yunani, sumber sekaligus penopang Kebudayaan Barat. Begitu agung dan luar biasa! Tapi bayangkan jika sosok Ares yang Keji dan Aphrodite nan Anggun ditemukan dalam kondisi hanya memakai boxer GI Joe dan kaus kaki merah, sementara Zeus, Poseidon, Hera dan dewa-dewi lainnya sibuk memotret mereka untuk diunggah di Tumblr; ya hal-hal kocak macam itulah yang bakal kita jumpai di buku ini.

“Dewa pertama, kalau bisa dibilang begitu, adalah Kaos (Chaos)—sebuah kabut gelap pekat dengan semua massa dalam kosmos hanya mengambang di sekitar. … Akhirnya kekacauan Kaos semakin berkurang. Mungkin ia mulai bosan bersikap muram dan berkabut. Sebagian massanya mengumpul dan mengeras membentuk bumi, yang celakanya, berkembang menjadi pribadi yang hidup. Dia menyebut dirinya Gaea, Ibu Bumi. (hlm 1)




 Ouranos dan Gaia


Sejak Rick Riordan menulis seri Percy Jackson (dengan semua sekuel dan suplemennya yang entah sudah berapa banyak), pembaca dunia diperkenalkan kepada dewa-dewi Yunani dalam bentuknya yang lebih ‘ramah’ serta lebih ‘manusiawi’, walau kebanyakan sih dalam kadar yang konyol. Pembaca angkatan 90-an yang sempat menonton serial Hercules dan Xena , the Warrior Princess tentunya sudah hapal dan paham dengan tindak tanduk dewa-dewi Yunani yang memang suka semaunya sendiri itu (Yah, secara teknis mereka memang dewa sih jadi memang berhak bersikap demikian). Zeus yang suka berselingkuh, Hera yang demen banget hunting demigod brondong hasil perselingkuhan Zeus dengan wanita manusia, Ares yang dewa perang tapi sebenarnya menyebalkan (awas jangan sampai dia dengar), hingga Hephaestus yang buruk rupa namun lembut hatinya dan terampil tangannya. Kemudian, Rick Riordan datang dengan membawakan sosok-sosok dewata tersebut dalam dunia yang benar-benar baru, dunia Percy Jackson.

“Selagi Ares tumbuh besar, dia tak pernah menangis meminta botol susu atau dotnya. Dia haus akan darah. Sejak kecil, dia belajar melempari batu ke burung-burung dan menjatuhkan mereka dari langit. Dia mencopoti sayap-sayap serangga untuk melatih kemampuan motorik halusnya.” (270)

Buku Percy Jackson's Greek Gods ini semacam buku panduan praktis tentang dewa-dewi Yunani yang ditulis dari sudut pandang Percy Jackson. Kalau kalian sudah baca serinya, pasti sudah tahu juga bagaimana pendapat Percy tentang dewa-dewi yang disembah bangsa Yunani itu. Percy menggambarkan entitas agung itu dengan kocak, lepas dan sumpah bikin ngakak. Seolah, 12 dewa dewi agung Yunani dipretelin dari jubah keangungannya untuk kemudian dikorek masa lalu serta dosa-dosa mereka (dewa bisa berdosa nggak sih?) Lumayan lengkap deskripsi yang dituturkan Percy di buku ini, dan urut, sehingga kita bisa tahu bagaimana asal-usul dewa-dewi Yunani ini, sejak era penciptaan (eh atau terciptanya semesta) hingga Titan Kronos yang memuntahkan 12 dewa-dewi Yunani. Buku ini semacam buku panduan untuk membaca serial Percy Jackson (atau untuk belajar tentang mitologi Yunani) yang bisa dibaca sambil gelundungan megangin perut saking lucunya.

“Cobalah untuk tak terlalu bersemangat dulu, karena bab ini bercerita segala hal tentang Dewi gandum, Roti, dan Sereal. Demeter benar-benar keren, deh, kalau menyangkut karbohidrat.” (hlm 76)

Keunggulan dari karya-karya Rick Riordan (termasuk buku ini) adalah dia mampu membawa mitologi Yunani ke dalam bentuk yang lebih kekinian. Beliau pandai mengait-ngaitkan mitologi yang kuno dengan hal-hal update di dunia nyata. Inilah yang membuat membaca karya ini terasa menyenangkan, sama sekali tidak membosankan sebagaimana saat kita tertidur di kelas sejarah.

“Aku tidak yakin apa itu busi,” ucap Dionysus. “Tapi tetap saja, kau tak bisa menyimpan dendam selamanya. Kalau kau menahannya di dalam hati, yah … bahkan anggur terbaik pun akhirnya akan berubah menjadi cuka.” (hlm 294)

Bahkan mitos tiga musim di Yunani (konon Yunani memiliki 4 bulan musim dingin dalam setahun, yakni ketika Persephone tinggal di Dunia Bawah bersama suaminya, Hades) dikisahkan dengan kocak. Hades yang menculik Persephone membuat Demeter marah-marah sehingga membuat seluruh tanaman di dunia layu dan mati.

“Yang bisa mereka lakukan hanyalah merintih kesakitan, berdoa kepada dewa sepanjang hari! Yang membuat Zeus migrain berat. Selain itu, para dewa hanya bisa makan ambrosia dan nectar, yang segera saja membosankan. Tanpa gandum, mereka tidak bisa menikmati roti atau kadang brownies panggang lezat yang kadang dibuat Hera.” (108)

Begitulah, jika Percy Jakson’s Greek Gods adalah semacam buku suplemen, maka buku ini adalah pelengkap yang sangat penting untuk bisa mengikuti seri Percy Jackson secara lebih mendalam. Isinya adalah perpaduan tiga elemen surgawi: lucu, seru, dan penuh pengetahuan. Buku ini juga dilengkapi ilustrasi yang menawan. Selain berkisah tentang 12 dewa utama, sejumlah hal tentang mitologi Yunani turut dibahas di dalamnya. Kita jadi tahu banyak hal. Misalnya tentang Bulu Domba Emas yang melindungi Perkemahan Blasteran, yang dijelaskan juga di buku ini.


Pohon apel emas kesayangan Hera

“Yang membuatnya menjadi terkenal adalah karena Bulu Domba Emas berakhir di kerajaannya sehingga menjadikan tempat itu kebal dari penyakit, serangan perang, jatuhnya pasar saham, kunjungan dari Justin Bieber, dan kurang lebih bencana alam lainnya.” (hlm 278)

Kesimpulannya, penggemar kisah fantasi kudu punya buku ini!

2 comments: