Search This Blog

Tuesday, September 29, 2015

Murder on the Orient Express


Judul: Murder on the Orient Express
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah: Gianny Buditjahja
Cetakan: 2007
Tebal: 360 hlm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



                 Saya membaca novel detektif-pembunuhan, saya selalu merasa kalau si penulislah sang penjahat utama yang sesungguhnya. Bila dipikir-pikir, penulis adalah si pembunuh yang kemudian menutupi jejaknya dengan menghadirkan banyak karakter serta peristiwa (kadang sampai mundur dulu ke masa lalu) sehingga pembaca gagal fokus untuk ujung-ujungnya dikagetkan dengan siapa si pelaku sesungguhnya, yang biasanya membuat pembaca kaget dan nggak menyangka! Sialan, gue nggak nyangka *sambil membanting bukunya ke kasur (sayang aja sih kalau rusak bukunya, kan bisa dijual lagi #eh hahaha nggak ding. Ini buku spesial jadi rugi banget kalau sampai dijual lagi.)


                Perasaan yang sama sering saya jumpai saat membaca karya-karya tante Agatha Christie. Bukan main produktifnya ini tante, dengan lebih dari 70 seri novel atau kumcer kriminalnya nan legendaris. Buku-bukunya, walau ditulis dengan setting jadul, tapi tetap enak dinikmati sepanjang zaman. Terutama yang paling special adalah kisah-kisah detektifnya yang khas, yang melanjutkan tradisi Sherlock Holmes-nya Doyle untuk kemudian dia munculkan versinya sendiri dalam sosok Hercule Poirot dan Miss rempong Marple. Salut!

                Dari nggak-sampai-sepuluh-judul karya Agatha Christie, saya hanya berhasil menebak ending di satu buku, yakni Pembunuhan Atas Roger Ackryoid. Sementara yang Sembilan lainnya, saya gagal total dan sukses ‘dikibulin’ Tante Agatha, termasuksaat membaca Pembunuhan di Orient Express ini. Rampung mmebaca buku ini, saya tidak habis pikir  betapa pada tahun 1920-an (itu Perang Dunia 1 kali ya?) ada seorang penulis yang mampu menuliskan kisah criminal secerdas ini. Rumit, tapi tetap asyik diikuti. Tingkat tinggi tapi juga enak dinikmati. Agatha Christie selalu mampu membuat rumit hal-hal sederhana menjadi terlihat rumit untuk kemudian dia sederhanakan lagi menjelang akhir cerita.

                Suatu malam yang dingin, Hercule Poirot terjebak bersama belasan penumpang lain di sebuah jalur kereta terpencil di kawasan Balkan. Salju turun begitu tebal sehingga kereta yang membawa mereka tidak bisa bergerak, begitu pula untuk keluar gerbong yang nyaris mustahil karena suhu udara yang sangat dingin. Dalam kondisi terisolir itulah terjadi pembunuhan sadis terhadap salah satu penumpang! Siapa yang terbunuh, dan siapa yang membunuh? Poirot kembali dihadapkan pada sebuah kasus unik karena ada dugaan kuat si pembunuh ada di antara 13 penumpang yang ikut dalam gerbong yang sama dengannya.

                Di buku ini, kita disuguhi kembali dengan kepiawaian Poirot dalam menyaring fakta dan membuang dugaan. Dengan metode yang rapi dan terencana, Poirot menyortir penumpang dengan mewawancarainya satu per satu, secara metodis dan berpola, sehingga akan di dapatkan semacam linimasa tentang urutan kejadian pembunuhan itu agar didapatkan siapa di antara penumpang yang tidak memiliki alibi atau alibinya cacat. Dengan metode seperti ini, seorang penyelidik bisa memandang sebuah kasus secara lebih logis dan objektif, yakni dengan menyisihkan bagian-bagian yang tidak berkaitan atau malah dibuat-buat.

                Sayangnya, kali ini Poirot seperti menghadapi musuh yang cerdas. Seluruh penumpang telah diwawancarai, tapi banyak sekali bolong di catatannya. Keterangan antara satu penumpang dengan penumpang lain sangat berlainan. Bahkan ketika dicek silang, muncul lagi fakta-fakta baru. Poirot harus putar otak karena kali ini dia menghadapi musuh yang lebih piawai, yang entah bagaimana bisa membuat kasus itu menjadi semakin rumit meskipun fakta-fakta baru terus bermunculan. Ketika akhirnya saya sampai di halaman-halaman terakhir, terlihatlah nyata bahwa novel ini memang beda dari karya-karya Agatha Christie yang lain. Pantas kalau Murder in the Orient Express masuk sebagai salah satu karya Tante Agatha Christie yang paling digemari.

No comments:

Post a Comment