Search This Blog

Monday, January 12, 2015

Erau Kota Raja

Judul : Erau Kota Raja
Penulis : Endik Koeswoyo
Penyunting: Diaz
Korektor: Aini, RN
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: 204 hlm
Penerbit: Ping!!!

23657332

Tepat tanggal 8 Januari lalu, film Erau diputar perdana secara serentak di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Sementara, versi novelnya sendiri, yang ditulis oleh Mas Endik Koeswoyo sudah diluncurkan di pasar pada Desember tahun lalu. Karena itu, saya merasa bangga juga bisa menjadi salah satu pembaca pertama Erau sebelum versi filmnya diluncurkan. Kok bisa? Yak karena numpang baca di kantor dan versi novel Erau kebetulan juga diterbitkan oleh kantor tempat saya bekerja. Jadi, sekali membaca, dua-tiga reading challenge terlampaui #ObsesiRC2015 LOL. Mangkanya, kalau cari kerja itu kalau bisa yang esuai dengan renjana *haiah* kita

"Beruntunglah mereka yang bekerja dengan hati, mereka yang mencintai pekerjaan, dan bekerja dengan bahagia." 

Walau novelnya tipis dan bisa selesai dalam satu-dua kali duduk, banyak hal baru yang saya dapatkan dari novel ini, terutama yang terkait dengan festival Erau yang ternyata sudah masuk dalam kalender tahunan pariwisata Republik Indonesia. Dari novel ini, saya semakin disadarkan betapa Indonesia begitu kaya akan aneka ragam budaya, yang jika bisa dikelola dan dipromosikan dengan baik (sebagaimana yang dilakukan oleh Reza) pasti mampu mendatangkan banyak wisatawan untuk berkunjung, baik wisman maupun domestic (ini review apa lembar jawab ujian PPKN ya? wkwkwk)

Perpaduan antara cerita cinta dengan budaya lokal memang bukan tema yang baru dalam dunia kepenulisan di Indonesia. Sebelum Erau, ada Kei dan Nias, serta Toraja yang menggunakan model "fiction-travelling". Namun, Erau memberikan warna tersediri bagi saya karena daerah yang diangkat dan festival yang disertakan di dalamnya berasal dari kawasan yang mungkin belum terlalu dikenal, yakni Kutai Kartanegara (atau mungkin karena sayanya yang kuper hiks). Gara-gara Erau ini saya sampai gooling buat mencari kalung sesuatu (lupa namanya) yang konon hanya ada dua biji di dunia, satunya di India dan satunya lagi di sebuah museum di Kutai Kartanegara. Keren kan ya? keren yak gue kepo? Udah malam, iyain aja ih biar cepet zzzzzz *plak

Selain lebih tahu tentang festival Erau, novel ini juga berisi banyak sekali kalimat-kalimat yang quotable, yang oleh penulis sudah dicuplikkan sebagai judul-judul babnya. Saya jadi bisa langsung comot tanpa repot-repot menempelkan stiker post it notes warna ijo ngejreng di bukunya. Lagian, itu buku pinjeman dan ngak boleh asal ditempelin (bilang aja elu males, Yon!) Walau judulnya Erau, tapi novel ini lebih banyak membahas tentang *uhuk* jodoh *uhuk* serta sa;ah satu problem klasik yang dihadapi oleh kaum muda yang mapan ala metropolitan, yakni tentang jodoh. Tapi, kehadiran Reza memberikan warna lain tentang jodoh dalam Erau. 

Erau berkisah tentang Kirana (di filmnya diperankan oleh Nadine Candrawinata aww) yang tengah galau karena tidak kunjung dilamar oleh pacarnya (diperankan oleh Doni, iya DONI ADA BAND yang itu!). Kirana ini galau karena usianya sudah beranjak 26 (err saya mau lihat KTP saya dulu) namun Doni tidak juga memberikan kepastian tentang kapan cowok itu akan melamarnya. Setelah mengalami kegalauan berkepanjangan, Kirana akhirnya memutuskan Doni, dan kemudian dia galau lagi. Dalam kondisi galau gitu, si bos masih tega-teganya memberikan tugas kepada Kirana untuk meliput festival Erau di Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur. Rese nggak sih? Habis putus malah suruh pergi-pergi! 

Tapi, kehidupan selalu memiliki kejutan. Tanpa diketahui Kirana, kehidupan telah mempersiapkan obat bagi kegelisahan Kirana di Kutai Kartanegara. Ketika Kirana menjejakkan kaki di kabupaten tersebuit, dia dipertemukan dengan Reza (diperakan oleh Denny Sumargo, yang pebasket itu), sosok pemuda asli yang rela melepaskan gelar dokternya demi membantu mengembangkan potensi lokal. Dari pemuda ini, Kirana belajar banyak tentang makna dari mengikuti dan memperjuangkan pilihan hidup. Dan, tanpa sadar, benih-benih cinta pun mulai tumbuh di hatinya. Apakah Kirana telah bertemu dengan jodohnya? Atau, rasa apa yang ada di da;am hatinya itu? Cinta ataukan hanya sebatas ungkapan kekaguman? 

Perjalanan cinta antara Kirana dan Reza cukup rumit, konfliknya semakin diperluas dengan ibunda Reza yang diam-diam telah memilihkan wanita lain sebagai pendamping Reza. Sementara, Reza sendiri terbelah antara mengikuti keinginan hatinya untuk membantu warga ataukah menuruti permintaan ibunya yang ingin anaknya membuka praktik dokter. Setelah masalah Kirana, pembaca disuguhi oleh konflik batin Reza, yang ternyata jauh lebih kompleks lagi. Bagaimana akhir dari cerita Erau? Apakah Kirada dan Reza memang berjodoh? Err… ada sebuah twist banget di halaman-halaman novel ini, jenis twist yang mengangetkan namun kurang populer, bisa dibilang kurang nendang. Ibaratnya penulis mau “mengelabui” pembaca, tapi apa daya pembacanya kurang terlalu suka dengan pilihan yang diambil penulis.

Meskipun demikian, Erau tetaplah sebuah novel yang layak mendapat apresiasi. Lupakan dulu endingnya, mari nikmati saja perjalanan Reza dan Kirana menyusuri jalan-jalan di tepian sungai di Kutai Kertanegara, merayakan ramainya festival Erau, serta mengambil hikmah dari kalimat-kalimat indah tentang kehidupan yang bertebaran di buku ini. jadi apakah jodoh itu?

"Jodoh adalah orang yang mampu bertahan dengan kita, bagaimanapun keadaannya, dia akan bertahan dan mempertahankan cintanya tetap ada." (hlm 190)

No comments:

Post a Comment