Search This Blog

Tuesday, August 12, 2014

Old Death, the Wild West Journey (Winnetou 3)



Judul: Old Death, the Wild West Journey
Pengarang : Karl May
Penerjemah : Prety R Prabowo
Penyunting : Fitria Pratiwi dan Lis Sutinah
Cetakan : 1, 2014
Tebal : 160 hlm
Penerbit : Visi Media





            Petualangan Old Shatterhand di Amerika berlanjut. Kali ini, petualang Jerman itu bergerak ke selatan dan menjadi saksi serta terlibat langsung dalam salah satu peristiwa paling bersejarah di dataran Amerika Serikat, yakni perjuangan menghapuskan perbudakan. Upaya inilah yang berujung pada meletusnya perang saudara tahun 1861 – 1865 antara Negara-negara utara yang menentang perbudakan, dan Negara-negera selatan yang mendukung perbudakan. Old Shatterhand bergerak langsung menuju salah satu dari jantung Wild West, Texas, dan menyaksikan dengan pergolakan situasi yang semakin memanas seiring dengan perubahan politik serta munculnya sebuah gerakan rahasia Klux Klux Klan yang legendaries itu.

            Dalam buku sebelumnya, dikisahkan Old Shatterhand terpaksa berpisah dengan Winnetou untuk mengejar dua penjahat berbeda yang telah membunuh ayah dan adik Winnetou. Sementara Old Shatterhand mengejar Gibson, Winnetou akan mengejar Santer. Untuk buku ketiga ini, penulis menfokuskan cerita pada upaya Old Shatterhand untuk mengejar Gibson. Sayangnya, bencana badai menghantam Old Shatterhand di perairan Kuba, membawa seluruh uang miliknya tenggelam ke lautan, sehingga dia harus memulai dari awal dan terpaksa bekerja sebagai seorang detektif. Pekerjaan yang awalnya tidak ia sukai ini malah membawanya kepada petualangan baru yang tidak kalah seru. Jika di Wild West dia bertemu dan belajar kepada Winnetou, maka kali ini dia akan belajar dari seorang petualang sejati dari Wild West yang bernama Old Death.

            “Orang idiot paling pengecut dapat menjatuhkan seorang raksasa dengan sebutir peluru yang tidak lebih besar dari kacang. Itu sebabnya kita akan bertindak cerdas.” (hlm)

            Old Shatterhand dipekerjakan untuk mencari William Ohlert, putra seorang bankir yang telah diperalat oleh Gibson untuk menguras uang ayahnya atas nama sastra. Sekali melempar batu, bisa dapat dua lalat. Sambil mengejar Gibson, dia juga akan bisa mendapatkan bayaran. Maka, dimulailah pengejaran dan adu cepat menyusuri sungai Missouri hingga ke New Orleans, tempat dia bertemu dengan seorang westman bernama Old Death yang awalnya dia kira sebagai seorang tua sinting yang selalu membawa pelananya kemana-mana. Tidak disangka, Old Death inilah yang akan mengajarkan banyak hal tentang seni strategi, pengintaian, dan peperangan kepada Old Shatterhand. Tidak salah jika nama Old Death telah bergema dari api unggun yang satu ke api unggun yang lain, pria tua nyentrik itu memang luar biasa.

Satu-satunya rasa malu yang harus diderita seseorang adalah setelah dia melakukan kebodohan atau ketidakadilan.” (hlm 62)
           
            Ketika akhirnya Winnetou menemukan Old Shatterhand, dia memintanya agar tidak mengatakan siapa dirinya kepada Old Death. Baru ketahuan di belakang, mengapa si kepala suka apache nan bijak itu menyuruhnya berbuat demikian. Dengan mengaku sebagai seorang tanduk hijau, Old Shatterhand bisa belajar banyak hal dari orang tua itu, mulai dari penyergapan hingga merancang strategi perang tanpa pertumpahan darah. Di bagian pertama, dengan piawai Old Death menunjukkan taktiknya untuk membebaskan kapal yang mereka tumpangi di Missouri dari sekelompok perusuh pendukung perbudakan. Hebatnya lagi, ini dilakukan tanpa terjadinya pertumpahan darah. Di bagian kedua, ceritanya semakin seru karena mereka harus berhadapan dengan organisasi rahasia Klux Klux Klan.
          


Dibandingkan dengan dua buku sebelumnya, seri ketiga ini termasuk tipis meskipun kisah di dalamnya tidak kalah seru. Rupanya, buku ini adalah bab 1 dan bab 2 dari buku Winnetou 2 yang diterbitkan lebih awal. Semoga bab 3 dan 4 akan segera menyusul. Khas ciri tulisan Karl May adalah kalimat-kalimatnya yang penuh dengan pelajaran kehidupan yang disampaikan dengan gaya Wild West. Kali ini, pembaca akan belajar banyak dari Old Death. Jangan memandang pria tua nyentrik itu dari luar, sebab darinyalah berbagai pertempuran dimenangkan lewat strategi yang jitu. Kepiawaiannya terbukti lagi saat mereka harus berhadapan dengan organisasi paling berbahaya di Amerika, Klux Klux Klan.


Selain dari segi ketebalan, ada hal lain yang berbeda. Penerjemahnya sudah ganti, makanya kok saya seperti menemukan rasa baru dalam buku ini. Hanya saja, terjemahan di bagian-bagian awal agak kaku, terutama dalam segi penyusunan kalimatnya yang masih terasa patah-patah, meskipun masih bisa dipahami. Kalimatnya sudah bisa dipahami, tapi sepertinya strukturnya masih bisa diolah lagi agar lebih luwes. misalnya kalimat ini:


“Dia menemukan jejak lagi setelah berhari-hari tanpa hasil dengan jejak yang hilang.” (hlm 4)

“Ada pepatah Jerman yang baik dan bijak, kebijaksanaan memberikan hasil.” (hlm 98)


Keistimewaan lain di buku ini adalah  terdapat juga puisi yang ditulis oleh seorang yang sakit jiwa, yang tak lain dan tak bukan adalah refleksi kehidupan pribadi Karl May sendiri! Namun, pada sempalan bagian kedua dari trilogi Winnetou ini, Karl May masih mengusung topik yang sama, bahwa pada setiap perbuatan buruk yang dilakukan oleh orang-orang Indian, selalu saja ada orang kulit putih yang menjadi biang keladinya. Semoga, seri-seri berikutnya segera menyusul diterbitkan.


2 comments:

  1. Loh? Penerjemahnya sudah bukan Mel ya?

    ReplyDelete
  2. Iya, bukan Melody. Karena itulah rasa bahasanya agak beda.

    ReplyDelete