Search This Blog

Monday, May 26, 2014

Nyai Gowok

Judul : Nyai Gowok, Novel Kamasutra dari Jawa
Pengarang : Budi Sardjono
Penyunting : Addin Negara
Sampul : Ferdika
Tebal :  332 hlm
Cetakan: 1, Mei 2014
Penerbit : DIVA Press



                 “… wanita paling senang jika disentuh dengan lembut. Pelan-pelan, tidak usah tergesa-gesa, …”  (hlm 310)

                Dari judulnya (plus subjudulnya) yang agak provokatif sekaligus memancing rasa penasaran, novel ini memang menghadirkan banyak cerita sekaligus pelajaran tentang urusan ranjang, terutama pengetahuan yang penting diketahui oleh seorang laki-laki tentang seluk beluk seksualitas perempuan. Bersetting kota Temanggung tahun 1955, Nyai Gowok mengisahkan tentang pengalaman seorang remaja laki-laki bernama Bagus Sasongko, putra seorang wedana di Randu Pitu yang nyantrik di rumah Nyai Gowok selama beberapa minggu. Konon, dalam tradisi Jawa tempo dulu, sudah umum jika remaja pria yang habis disunat “dititipkan” untuk tinggal serumah dengan seorang gowok yang akan mengajarinya berbagai hal tentang seluk tubuh perempuan, dengan tujuan kelak agar si pemuda bisa membahagiakan istrinya dalam urusan “ranjang.”

                Tradisi gowok sendiri konon berasal dari Tiongkok, yang kemudian tiba ke Jawa dengan dibawa oleh seorang wanita bernama Goo Wook Niang. Tugasnya adalah memperkenalkan remaja lelaki yang akan beranjak dewasa kepada seluk beluk tubuh perempuan, agar mereka tahu bagaimana membahagiakan perempuan secara lahir maupun batin. Karena nama Goo Wook Niang susah dilafalkan oleh lidah Jawa, maka lama kelamaan istilah ini disederhanakan menjadi gowok. Sebagai putra seorang pembesar, adalah sudah lumrah jika Bagus Sasongko dititipkan kepada seorang gowok, dan dia akan tinggal bersama Nyai Lindri, seorang gowok yang tinggal di dusun Gowangan.

                Sebagai seorang gowok, Nyai Lindri bertugas mendidik Bagus agar menjadi seorang lelaki yang sejati, dalam hal ini terutama sejati secara seksualitas. Bahwa lelaki yang sejati bukanlah lelaki dengan kemampuan seks luar biasa dan tahan lama di ranjang, lebih dari itu. Lelaki sejati menurut Nyai Lindri adalah lelaki yang bisa menghargai wanita sebagai pasangan hidupnya, yang mampu memuaskan istrinya baik secara lahir maupun batin, cukup sandang, pangan, dan papan. Diajarkan pula aneka teknik untuk memuaskan wanita, titik-titik mana saja yang harus disentuh atau dibelai dari tubuh wanita yang akan membuat istri menjadi nyaman untuk diajak memadu kasih.  Dengan telaten, diajarinya Bagus Sasongko tentang bagaimana “melayani” wanita, menjadikan istrinya terbang ke nirwana saat keduanya tengah bercinta. Benar sekali, buku ini begitu sarat dengan aneka pengetahuan seksual tentang perempuan.

                Selama nyantrik di rumah Nyai Lindri, Bagus Sasongko juga “belajar” dari Martinah—pembantu Nyai Lindri—yang rupanya juga memiliki bakat sebagai gowok. Dari wanita separuh baya namun bertubuh sintal inilah Bagus Sasongko mewujudkan fantasi-fantasi erotisnya dan mengalami (maaf) mimpi basahnya berulang kali. Kondisi rumah Nyai Lindri memang sangat mendukung. Entah berapa kali Bagus Sasongko secara tidak sengaja mendapatkan pemandangan lekuk tubuh wanita yang molek, entah itu betis entah itu bagian belakang leher.  Semuanya seolah disengaja agar dia sebagai pria mampu mengetahui dan lalu menghargai seluruh bagian tubuh wanita.

                “Wanita itu, Mas, dari ujung jari kaki sampai ubun-ubun ibaratnya mudah kena setrum. Tetapi, ada bagian-bagian tertentu yang setrumnya lemah, ada juga yang setrumnya menyengat, membuat wanita kaget mak jenggirat.”  (hlm 129)

                Selain banyaknya pengetahuan seksual tentang tubuh perempuan, keunggulan lain dari novel ini adalah pengetahuan sejarahnya yang cukup informatif. Dalam perjalanan piknik mereka menuju Jogja, Nyai Lindri sempat bercerita kepada Bagus tentang sejarah kereta api di Jawa Tengah, apa saja stasiun-stasiun yang menghubungkan antara Temanggung – Secang - Ambarawa  - Magelang – Jogja, tentang rel yang bergerigi karena jalurnya menanjak, juga bahwa dulu pernah ada kereta jurusan Magelang – Jogja yang relnya berdekatan dengan jalan raya. Sayang sekali jalur ini sudah tidak ada, digantikan oleh jalur bus yang sudah begitu banyaknya. Ada juga sekelumit kisah tentang perjuangan Pangeran Diponegoro, juga kutipan dari mantra ajian jarang goyang (ajian untuk memikat lawan jenis) serta pupuh untuk menolak ajian tersebut.

                Dalam bab-bab terakhir, Nyai LIndri juga mengutip kitab kuno dari Bali, Rahasya Sanggama, yang berisi tiga teknik untuk membahagiakan wanita di atas ranjang, yakni dengan angguliprawesa, jihwaprawesa, dan purusaprawesa. Apakah artinya dan bagaimana tekniknya? Silakan baca sendiri di buku ini soalnya (maaf) agak-agak berbau pornografi meskipun sebenarnya tidak mengapa bila dibaca oleh mereka yang sudah cukup umur dan berumah tangga, karena tujuan utamanya memang untuk mengharmoniskan hubungan suami – istri di ranjang.

                Dan, ketika tiba akhirnya Bagus Sasongko harus meninggalkan rumah Nyai Lindri, ia telah berubah menjadi lelaki yang lebih dewasa. Tubuhnya masih remaja, tetapi dalam hal olah seksual dan pemikiran ia telah menjadi seorang pria yang jauh lebih dewasa. Terutama mengenai bagaimana cara menghargai dan memperlakukan perempuan, serta membahagiakannya. Sedikit kritikan mungkin pada banyaknya kata “he he he” dan “hi hi hi” yang bertebaran di buku ini. Entah mengapa, suara tawa yang slengean ini terasa kurang cocok bagi sosok Nyai Lindri yang begitu penuh (penuh apa Yon? Penuh pengetahuan dan pengalaman hehehe). Dengan segala kualitasnya, Nyai Gowok bisa menjadi bacaan yang mencerahkan, dengan syarat: Anda berpikiran terbuka dan tidak picik. Selamat membaca.

“Menjadi seorang lelaki yang bisa disebut sebagai lelanangin jagad itu kalau dia bisa mengendalikan hawa nafsunya. Ingat itu ya, Mas. Hargailah wanita, jangan sekali-kali memandang bahwa mereka hanya sekadar obyek pemuas nafsu. Jangan. Bagaimanapun Mas Bagus lahir dari rahim seorang wanita, bukan lahir dari batu gunung.” (hlm 323)


3 comments:

  1. Ehem....sepertinya cocok untuk saya yang sudah menikah buku inih hihihi (gak pa2 kan ya pke hihihi, kan saya belum penuh ...*dikeplak)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngomong-omong, apakah Mbak Esti Sulistyawan setelah membaca artikel di atas, terobsesi untuk menjadi Gowok terhadap pria muda (baca : perjaka ?)

      Delete