Search This Blog

Tuesday, May 6, 2014

Assassin’s Creed, Forsaken

Judul : Assassin’s Creed, Forsaken
Pengarang : Oliver Bowden
Penerjemah : Melody Violine
Penerbit : Fantasious
Tebal : 520 hlm
Cetakan : 1, April 2014



                “Karena di samping jalanku ada harapan. Meskipun segala rintangan itu menyuruhku berbalik, aku tetap berjalan. Inilah kompromiku.” (hlm 514)

                Haytham Kenway adalah seorang bocah Inggris kebanyakan. Dia dibesarkan dalam sebuah keluarga yang cukup berada di London tahun 1700-an, dilimpahi kasih saying, dicukupi kebutuhannya, dan disayangi baik oleh keluarga maupun para pelayan rumahnya. Secara fisik, tidak ada yang membedakan Haytham dengan bocah-bocah dari keluarga kelas menengah London lainnya, kecuali nama depannya yang diambil dari bahasa Arab, haytham atau elang muda. Haytham adalah putra seorang assassin.

                Sebagai penerus sang ayah, Haytham muda telah dididik dengan aneka teknik bela diri dan permainan pedang sejak tangannya bisa memegang pedang. Ketika bocah-bocah lain seusianya sibuk belajar bahasa Latin, dia dan ayahnya sibuk bermain pedang dan melempar pisau. Dalam usia semuda itu, ketika bocah-bocah lain bermimpi bisa menjadi seorang ksatria yang gagah berani, Haytham telah tumbuh menjadi sosok assassin yang tangguh.

                Sampai usia 9 tahun, Haytham sama sekali tidak tahu apa alasan ayahnya mengajarkan dan memaksa dirinya belajar ilmu pedang dan  ilmu bertarung. Sampai malam ketika terjadinya serangan itu. Sekelompok pria bertopeng menyerbu ke rumah keluarga Kenway, menculik kakak perempuannya, dan—setelah pertarungan yang sengit dan tidak seimbang—menewaskan ayahnya. Haytham kecil harus berjuang melindungi nyawa ibunya, dan dia melakukannya dengan satu-satunya kemampuan yang ia miliki: membunuh. Dan di usia semuda itu, Haytham telah menetapkan jalan kehidupannya sebagai seorang pembunuh.

                 Dipenuhi amarah dan keinginan membalas dendam, Haytham kecil tumbuh dan dididik oleh Reginald Birch, seorang sahabat ayahnya yang juga seorang Kastria Ordo Templar. Masa remajanya kemudian dihabiskan dalam latihan keras, mentoring ketat, dan perjalanan mengelilingi negeri-negeri Eropa. Untuk kali pertama, Haytham menyadari bahwa dunia di masa perang tidaklah sehitam-putih sebagaimana sebelumnya. Intrik politik, pembunuhan rahasia, taktir kotor, dendam, dan harta telah mengubah dunia menjadi sedemikian hitam dan kotor. Inilah yang membuat Haytham tumbuh menjadi seorang pembunuh yang terkesan sadis, banyak sekali pembunuhan di dalam buku ini.

                Ketika akhirnya Haytham menemukan siapa pembunuh ayahnya, segalanya telah terlambat. Dendam dan pengkhianatan telah menjadikan Haytham seorang pembunuh yang tak ragu-ragu dalam menghabisi lawannya. Tanpa sadar, ia telah terseret dalam pertentangan kuno antara Ordo Templar dan Kelompok Assasin. Sungguh menarik mencermati perubahan dan pertumbuhan karakter dari sosok Haytham, dari bocah lugu hingga menjadi seorang pembunuh yang mematikan. Benar-benar gelap dan buku ini menceritakannya secara detail dan apa adanya. Dan, pilihan terakhir Haytham akhirnya diputuskan ketika dia harus melawan putranya sendiri, seorang assassin bernama Connor Kenway.

                Seperti saya bilang di atas, ada begitu banyak pembunuhan di novel ini. Tidak mengejutkan sebenarnya karena novel ini sendiri adalah tentang Assasin. Ceritanya yang diangkat dari sebuah game terkenal semakin menegaskan mengapa begitu banyak darah dan pembunuhan dalam novel ini. Pembaca terutama akan sangat menyukai banyaknya adegan pertempuran jarak dekat yang digambarkan dalam novel ini, begitu sarat aksi, penuh teknik pertarungan yang serasa nyata, seolah-olah kita sedang melihat adegannya di TV. Selain itu, Haytham juga tidak pelit mengobral jurus dan trik yang ia gunakan untuk membunuh, bagian-bagian tubuh mana saja yang fatal saat dilukai, bagaimana teknik mengendap dan mengintai musuh, juga apa yang harus dilakukan ketika kita dalam posisi terkepung.

                Dengan setting abad ke-18 yang eksotis, novel ini menyuguhkan panorama pelosok London dan negeri-negeri Eropa yang masih berbentuk kerajaan. Pembaca juga akan diajak ke New York dan Boston, menjadi saksi perang saudara dan peristiwa Pembuangan Teh di pelabuhan Boston yang sangat legendaries itu. Sayangnya, detail tempat dan waktu kurang digambarkan secara detail dalam buku ini, hanya terlihat sekadar tempelan semata. Sayang sekali, padahal kalau diolah dan lebih detail, novel ini akan sangat terpercaya sebagai sebuah novel sejarah. Tapi, banyaknya adegan aksi dalam buku ini sudah lebih dari cukup untuk membuat pembaca terpaku takjub pada halaman-halaman di dalamnya.
                 



1 comment:

  1. Trims udah review Forsaken ini. Udah ditimbang2 utk lengkapi 3 seri Assassin Creed yg ada. Kapan review lack Flag? ;-)

    ReplyDelete