Search This Blog

Tuesday, April 1, 2014

Eldar, Violin dan Negeri Salju Abadi

Judul : Eldar, Violin dan Negeri Salju Abadi
Pengarang : KAZ Violin
Penyuting : Fanti Gemala
Tebal: 317 hlm
Cover dan Ilustrasi : Ricki Lie
Cetakan : Pertama, 2013
Penerbit: Grasindo



                Buku ini adalah seri pertama dari seri petualangan di dunia Araena, sebuah kawasan antah berantah yang “menyimpan”  Eldar yang ajaib. Ini sekaligus merupakan kisah pembuka dari petualangan Violin. Kisah pertama mengambil setting di Negeri Salju Abadi. Sebuah tempat di “pojok” Araena yang selalu berselimut salju tebal, sewarna putih sejauh mata memandang, hanya dihiasi oleh pegunungan-pegunungan es menjulang dan hutan-hutan pinus serta cemara. Di tempat inilah Violin dan kawan-kawannya tinggal. Kisah ini dimulai dengan sebuah dongeng yang menghangatkan di negeri salju, dan kemudian berakhir oleh sebuah petualangan berapi-api. Dimulai dari kisah tentang negeri Eldar nan magis, Violin dan kawan-kawan kecilnya mulai penasaran dengan berbagai kisah tentang Eldar, yang gerbangnya entah ada di mana. Oh ya, perlu saya tegaskan dulu ya kalau Violin ini anak cowok, walaupun namanya kayak cewek. Ini penting untuk ditegaskan karena sepanjang pembacaan Eldar ini, pembaca mungkin lupa kalau Violin ini cowok hihihi. Btw, penulisnya juga cowok.

                Alkisah, ketentraman Negeri Salju abadi koyak ketika suku Vassal—suku di mana Violin dan teman-temannya tinggal—menemukan bangkai seekor beruang yang hangus terbakar. Aneh karena bangkai itu terbakar ketika badai salju tengah turun dengan dahsyatnya. Es dan api, ada kekuatan-kekuatan aneh yang mengancam, dan anak-anak yang penasaran itu akhirnya terlalu terlambat untuk menyadari bahwa mereka dalam bahaya. Sekelompok serigala merah telah menyusup ke dunia dari Eldar. Mereka bukan serigala biasa, melainkan serigala merah yang mampu menyemburkan napas api. Dan, serigala itu kini mengincar anak-anak tersebut. Di saat yang genting inilah mereka diselamatkan oleh Ezra, seekor beruang ajaib yang mampu menyemburkan napas badai es, sang penjaga perbatasan antara dunia ajaib Eldar dengan Araena. Maka, jelaslah bagi anak-anak itu bahwa Eldar memang benar-benar ada.
               
                Kisah selanjutnya dapat ditebak. Sebagaimana Aslan yang membawa anak-anak ke Narnia, Ezra membawa Violin dan kawan-kawannya ke Eldar—tempat di mana seluruh keajaiban terjadi. Di negeri inilah anak-anak menjumpai bermacam keajaiban, keindahan, dan bahaya yang tidak terbayangkan sebelumnya. Tanpa diketahui, kedatangan anak-anak itu ke dunia Eldar merupakan permulaan dari sebuah pertarungan dahsyat antara kebaikan dan kejahatan. Di Eldar, kejahatan ditahan dengan cara menidurkan Dewi Skayla lewat nyanyian persembahan di bawah pohon kristal. Sang Dewi adalah pembawa kemusnahan sehingga dia harus tetap ditidurkan di puncak pohon kristal. Tapi, tanpa diketahui siapapun, seorang penyihir hitam telah berupaya membangunkan Skayla, dan salah satu di antara anak-anak itu adalah kuncinya.
               
                Maka, anak-anak yang semula tidak tahu apa-apa itu kini dihadapkan pada sebuah pertempuran besar antara seluruh penghuni Eldar melawan Dewi Skayla. Gabungan sihir hitam dan kekuatan Skayla langsung menjadi serangan yang luar biasa, memporak-porandakan Eldar. Seluruh penyihir dan knight berjuang membantu Raja mereka dalam menahan gempuran Skayla. Tetapi, dewi itu terlalu kuat. Dan, baik Violin maupun anak-anak akhirnya menyadari bahwa masing-masing mereka memiliki peran dalam Eldar. Mereka harus membantu teman-temannya di Eldar demi mengalahkan Skayla. Sebuah bantuan yang menuntut pengorbanan. Dan Violin akhirnya bertemu dengan fakta yang sekaligus menjadi mimpi buruknya selama ini: kehilangan.

                Membaca Eldar buku pertama ibarat membaca dongeng. Salut untuk si penulis yang tulisannya begitu rapi dan mengalir. Tepat seperti dibilang mas Azis di #JustWrite 2 kalau Violin ini memiliki bakat sebagai pengarang sekaligus pendongeng. Kalimatnya simpel namun diksinya kaya, mengalir dan membuai pembaca dengan kisah-kisah yang menyenangkan dan hangat. Ok Vio, ceritamu memang menghangatkan walau settingnya negeri salju. Sayangnya satu, aura “gadis” kecilnya begitu dominan. Bukan hanya karena nama Violin yang mirip nama cewek, tapi banyak adegan dan percakapan dalam Eldar yang bisa dibilang “too much romance between Violin and Firelia” walau tidak terlalu mengganggu bagian cerita. Mungkin karena kisah antara Violin dan Firelia ini yang nanti menjadi salah satu penggerak kisah besar di dunia ELdar.

 Separuh pertama buku ini memang terasa membaca dongeng, nah separuh belakang ketika masuk ke Eldar-lah kecepatannya mulai menanjak, ceritanya mulai “dewasa” dan tidak cenggeng, bahkan seru. Keseimbangan yang indah antara dongeng dan kisah fantasi yang penuh petualangan. Seri pertama ini mengangkat petualangan di Negeri Salju Abadi. Penulis konon sudah menulis 3 sekuel selanjutnya, masing-masing di Negeri Tanpa Hujan (gosong dong), Negeri Bunga Gugur, dan Negeri Seribu Peri. Tuh kan, diksinya Vio ini manis banget, seperti kisahnya (entah kalau penulisnya #eh).   


                

4 comments:

  1. Ngakak baca bagian penutupnya. :))
    Btw nama penulisnya sama dengan nama tokoh utama ya? Wow.
    Dan sepanjang membaca reviu ini, saya kebayang Mbak Melody Violine. :">

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nama asli si penulis bukan Violin bang tetapi R********** hahaha

      Delete
  2. hohoy >.< itu penutupnya apa-apaaaaaaan????? >.<

    ReplyDelete