Search This Blog

Friday, February 28, 2014

The Dash of Magic



Judul : A Dash of Magic
Pengarang : Katryn Littlewood
Penerjemah : Sujatrini Liza
Penyunting : @putronugroho
Cetakan : 2, Oktober 2013
Halaman : 298 hlm
Penerbit : Mizan Fantasy


                Melanjutkan seri pertama dari The Bliss Trilogy, buku keduanya masih mengusung konsep yang sama, yakni sihir di dalam makanan. Dengan warna biru ajaib yang juga sama indahnya, menjadikan buku ini terasa begitu ajaib dan layak dimiliki meskipun secara cerita masih kurang greget dibanding buku pertamanya. Fokus buku kedua ini adalah pertempuran antara Keluarga Rose dengan Bibinya Lily, seorang koki terkenal yang telah mencuri buku resep ajaib keluarga Bliss, Booke, dan menggunakannya untuk membuat makanan-makanan ajaib yang membuat dunia jatuh cinta kepadanya. Kesal karena kebodohannya dan bertekad untuk menebus kesalahannya, Rose pun menantang Lily di televisi. Ia dan keluarga Bliss akan mengikuti Gala des Gateaux Grands, sebuah perlombaan memasak tingkat dunia yang bakal digelar di Paris, Prancis, salah satu kota kuliner paling termasyhur di Eropa. Jika Rose bisa menang, Bibi Lily berjanji akan mengembalikan Buku Resep Ajaib keluarga Bliss.

                Rose tahu ia nekat. Bibi Lily punya buku resep ajaib sementara dia hanya bermodalkan rasa tanggung jawabnya serta kemampuan memasaknya yang masih pas-pasan. Sementara Bibi Lily, perempuan itu hampir punya segalanya. Keterampilan memasak, ketenaran, uang, acara televisinya sendiri, berbotol-botol bubuk sihir ajaib Lily (bumbu penyedap masakan yang diracik dengan bantuan Buku Resep Ajaib keluarga Bliss). Tapi, ada satu hal yang tidak dimiliki Lily: keluarga. Dalam kondisi terjepit, Rose mendapati bahwa keluarganya selalu menyediakan perlindungan sekaligus senjata yang luar biasa. Tahulah dia bahwa Keluarga Bliss masih memiliki kerabat di Meksiko yang memegang satu salinan terakhir dari Booke, yang disalin dengan tangan.

                Booke tahu cara melindungi diri sendiri. Buku itu tidak bisa di-foto kopi, juga tidak bisa dicetak lagi. Satu-satunya jalan menggandakannya adalah dengan menyalinnya dengan tulisan tangan. Booke juga tidak dapat dipisah-pisahkan atau dilepas dari jilidnya, karena sihirnya akan langsung hilang jika buku itu tercerai-berai.  Baltazar, orang tua berusia hampir seratus tahun menjadi pemilik salinan kedua dari Booke ini, dan kepada dialah nasib Rose dan Keluarga Bliss dipertaruhkan di Paris. Maka, berangkatlah keluarga bahagia itu ke Prancis, menghadapi Lily dan kerajaan mininya, demi merebut kembali buku resep ajaib warisan keluarga Bliss.
               
                Kisah selanjutnya bisa ditebak: babak demi babak pertandingan memasak. Di sinilah saya merasa cerita di buku kedua ini kurang greget. Entah mengapa, saya selalu menganggap bahwa memasak adalah pekerjaan yang luar biasa indah, begitu universal dan baik sehingga memasak menjadi kehilangan keajaibannya ketika dipertandingkan. Mungkin ini yang membuat saya kurang suka nonton Masterc Chef Indonesia season 2 *halah. Namun, memang begitulah, Rose terpaku mencari bahan-bahan ajaib di penjuru Paris, mulai dari Rahasia Senyum Monalisa, Dentang Lonceng Notre Dame, Bisikan Kekasih, dan Hujan Murni dari Puncak Eiffel.

                Konsep orisinal dari Trilogi Bliss yang saya suka adalah bagaimana bahan-bahan seperti Senyum Monalisa bisa dibotolkan dakam botol mason warna biru dan dijadikan salah satu resep masakan. Pada buku pertama, konsep ini terasa begitu fresh dan menyenangkan, sehingga ok-ok saja. Tapi di buku kedua ini, tampak sekali bagaimana penulis menggampangkan konsep sihir masakan yang tiba-tiba ada begitu saja tanpa adanya penjelasan masuk akal. Well, untuk Hujan Murni dari Puncak Eiffel bisa diterima, airnya memang ada dan bisa dimasukkan botol. Tetapi, bagaimana Monalisa yang lukisan itu bisa tiba-tiba bicara kepada mereka tapi tidak dengan pengunjung lain? Juga, bagaimana penjelasannya sehingga patung-patung gargoyle di Gereja Notredame bisa tiba-tiba hidup dan diajak berdansa? Inilah yang kurang dari buku kedua. Ini sebuah buku masakan ajaib tapi sedikit sekali proses pembuatan masakan di dalamnya, sangat berbeda dengan buku pertama.

                Rose juga banyak galaunya di buku kedua ini. Untungnya, pembaca bakal dibuat ngakak cekikikan oleh tingkah Leigh, adik bungsu Rose yang tanpa sengaja memakan resep-resep aneh yang membuatnya dewasa sebelum waktunya. Juga karakter Thyme, abang Rose yang slengean serta suka sekali menggunakan sapaan-sapaan sopan dalam bahasa Spanyol (atau Meksiko?). Dua karakter yang sangat kuat inilah yang menjadi penghibur pembaca dalam menyelesaikan pembacaan atas buku kedua ini. Selain itu, tulisan-tulisan yang disalin dalam resep juga font-nya terlalu kecil. Mata dipaksa memincing untuk membacanya padahal font-font tulisan dalam novel ini gede dan sangat nyaman dibaca.
               
                Terlepas dari kekurangannya, The Dash of Magic masih setia mengungkapkan nilai-nilai positif dari sebuah keluarga. Kekompakan Keluarga Bliss yang bahu membahu menemani Rose ke Paris, perjuangan mereka yang tak kenal lelah dan kepercayaan mereka terhadap Rose, inilah yang sesungguhnya menjadi modal utama Rose dalam melawan Bibi Lily. Cinta dan keakraban dalam keluarga, salah dua dari hal-hal yang mampu menghangatkan dunia.
               
                “Hari ini, kau akan membuat polenta terlezat yang pernah kau buat. Berilah cinta ke dalamnya. Itu adalah bahan ajaib yang sesungguhnya dan kau memilikinya dalam jumlah banyak.” (hlm 257)

4 comments:

  1. Ah... belum baca buku pertamanya juga. Btw menurutku covernya juga gak se-kece cover buku pertama ya? Kapan-kapan mau coba baca seri ini deh.

    ReplyDelete
  2. Ugh, aku nyesel baca review ini.
    Padahal udah membulatkan tekad enggak mau baca yang kedua karena kecewa pada yang pertama.
    Ah, sebel >,<

    ReplyDelete
  3. Aku ga suka sama sikapnya Rose di buku kedua ini. Galau, egois, banyak negatifnya. Mending juga kakaknya.

    ReplyDelete