Search This Blog

Monday, October 21, 2013

Aurora di Langit Alengka, Tangan-Tangan Hebat Penyelamat Dewi Sinta



Judul : Aurora di Langit Alengka, Tangan-Tangan Hebat Penyelamat Dewi Sinta
Pengarang : Agus Andoko
Editor : Misni P
Halaman : 606 halaman
Cetakan: 1, Maret 2013
Penerbit : DIVA Press

18658043


            Jika ada sebuah cara yang begitu menyenangkan untuk kita bisa belajar tentang dunia wayang, maka membaca buku ini adalah salah satunya. Penggabungan yang sangat berani antara cerita fantasi dan dunia Ramayana yang begitu apik, dengan beragam pengetahuan lokal tentang makanan, obat-obatan, tradisi, serta kekayaan alam Nusantara. Aurora di Langit Alengka adalah sebuah buku tebal yang sarat akan isi. Pembaca akan mencapatkan 3 hal sekaligus dengan membaca buku ini: penghiburan lewat kisahnya yang seru, pengetahuan tentang dunia wayang dan Ramayana, serta khazanah kekayaan lokal (terutama bangsa Jawa). Sebuah buku yang patut diapresiasi, tidak heran jika bahkan Dalang Ki Mantep Soedhaesono pun ikut memberikan dukungan bagi penulisan novel ini.

            Dari segi cerita, Aurora di Langit Alengka memadukan antara kisah fantasi dengan dunia perwayangan. Dikisahkan, empat orang sahabat (Bara, Radit, Laras, dan Mambang) yang masih remaja tanpa sengaja menemukan sebuah jalan rahasia untuk masuk ke dunia Ramayana saat mereka berlibur di rumah eyangnya di Klaten. Tahu-tahu, mereka muncul di bukaan pohon beringin yang ternyata ada di tengah alun-alun ibu kota Kosala. Bayangkan keterkejutan (sekaligus kegembiraan) mereka  karena kebetulan keempat anak muda ini juga sangat menggemari dunia wayang. Laras, satu-satunya cewek dalam kelompok itu, tentu saja merasa sangat senang karena ia akhirnya bisa menyaksikan langsung idolanya di dunia wayang, Dewi Sinta.

            Tak butuh lama, keempatnya kemudian berbaur ke kehidupan Alengka. Mereka tinggal bersama sebuah keluarga sederhana, menikmati keindahan dari masa-masa tempo dulu ketika teknologi belum ada: membajak sawah dengan kerbau, mandi di sungai, berburu di hutan sepertlunya, menyantap makanan yang sederhana namun nikmat, mengikuti upacara sesaji desa yang penuh kehangatan, dan puncaknnya, menghadiri acara pernikahan antara Rama dan Sinta. Bahkan, mereka bisa melihat para bidadari dari kayangan yang asli, serta para dewa-dewi, batara-batari penguasa alam. Puas dengan segala keajaiban itu, Laras yang begitu nge-fans dengan Sinta memutuskan untuk mengubah jalannya cerita Ramayana. Ia ingin menyelamatkan Sinta dari penculikan yang dilakukan Rahwana.
            Maka rencana disusunlah. Keempatnya kemudian masuk ke Hutan Dandaka, lokasi di mana Sinta akan  diculik oleh Rahwana. Selama di hutan, keempat anak muda itu telah belajar ilmu berburu kepada Suku Hutan jadi ketika akhirnya mereka bertemu dengan rombongan Rama, Laksmana, dan Sinta; keempatnya terbukti menjadi sahabat-sahabat yang senasib-sepenanggunggan, sama-sama berburu dan berjuang menghabiskan masa pembuangan di hutan. Cerita pun bergulir sebagaimana Ramayana dikisahkan. Salah satu antek Rahwana mencoba menarik Sinta dengan mengubah diri menjadi kijang kencana. Tapi, Laras yang sudah tahu hal ini memperingatkan Sinta. Rahwana gagal menculik Sinta, tapi sebagai akibatnya, Laras lah yang diculik dan dibawa ke negeri Alengka.  

            Entah bagaimana, kisah pun bergulir mengikuti pakem yang sudah ditetapkan dalam Ramayana, kecuali dalam hal ini yang diculik adalah Laras dan bukannya Sinta. Merasa berutang budi, Rama pun betekad membebaskan sahabatnya itu. Dikumpulkannya semua tokoh-tokoh yang ada du pewayangan untuk menggempur Alengka. Dan, perang besar pun menanti di depan. Sebuah perang epic tentang Ramayana yang luar biasa, penuh keajaiban dan juga darah, namun banyak mengajarkan tentang kesetiaan, nasionalisme, pengurbanan, jiwa ksatria, serta keberanian.

 Saya belajar banyak sekali tentang tokoh-tokoh Ramayana dari buku ini walaupun belum membaca versi yang asli. Siapa orang tua Sinta, tentang gugurnya Kumbakarna, tentang berbagai senjata milik pada tokoh pewayangan, tentang Jatayu, Hanoman, dan Sugriwa, mengapa Rama dan Sinta dibuang ke Dandaka, asal-usul Rahwana, juga tentang garis besar dari pertempuran dalam Ramayana yang sangat epic itu. Sebagai tambahan, penulis juga menyisipkan berbagai pengetahuan lokal (local genius) yang begitu berlimpah dalam buku ini. Tentang beragam jenis makanan dan obat-obatan, tentang kebiasaan dan kehidupan orang-orang zaman dulu, tentang adat-istiadat di negeri-negeri jauh, juga tentang sikap-sikap luhur yang dulu  pernah begitu dijunjung tinggi oleh para leluhur. Ini benar-benar sebuah buku fantasi karya anak negeri yang digarap dengan sangat kreatif dan berbobot.

No comments:

Post a Comment