Search This Blog

Wednesday, September 11, 2013

Embroideries (Bordir)


Judul                : Embroideries (Bordir)
Penulis             : Marjane Satrapi
Penerjemah                 : Tanti Lesmana
Ilustrasi Sampul          : Marjane Satrapi
Cetakan               : 1, 2006, 136 hlm
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama


                Membaca karya grafis Marjane Satrapi ibarat menemukan dua dunia yang saling bertolak belakang namun menyatu dalam satu ilustrasi dan kisah yang bukan hanya unik, namun juga mengugah. Antara goresan warna hitam blok yang memenuhi halaman serta lembar-lembar putih polos yang mengisi sela antar karakter. Antara sketsa tokoh yang bercorakkan tegas namun meliuk-liuk dengan balon kata tak beraturan yang penuh dengan kritik sosial. Di dalamnya, akan kita temukan cerminan dari kehidupan manusia di pelosok negara bernama Iran. Bordir bisa diibaratkan sebagai refleksi dari penulis terhadap kondisi Timur yang ia gambarkan secara Barat. Temanya juga rata-rata sama, tentang nasib wanita yang menjadi korban budaya yang sangat patriakal.


Bordir seperti hendak mengumandangkan pada khayalak bahwa manusia di manapun sebenarnya sama saja, tidak di Barat dan tidak di Timur. Barat punya kelebihan, Timur juga. Barat banyak kelemahan, Timur pun begitu. Jika lelaki cenderung mendominasi dan menang sendiri, maka wanita lebih suka bergosip di belakang punggung. Semuanya sama saja di mana-mana. Mungkin, itulah yang hendak ditekankan oleh Satrapi dalam Bordir.

               
                Novel grafis ini mengisahkan dengan lucu realitas para wanita di Iran yang ternyata juga suka bergosip. Di waktu luang setelah makan siang ketika para pria tidur, mereka akan bergerombol dan sejenak kemudian muncullah sebuah topik seru yang segera saja menjadi bahan perbincangan. Satu topik menyambung ke topik lain, kadang malah tidak ada hubungannya sama sekali namun wanita memang selalu pandai dalam berbicara sehingga topik apapun menjadi asyik. Mulai dari mengunjingkan tetangga hingga pengalaman seks di ranjang, siapa bilang wanita kurang bersemangat jika bicara soal seksualitas. Ketika pria absen sejenak dan mereka bergerombol dengan sesamanya, wanita akan membuka percakapan tentang apa saja, bahkan aib dan pengalaman memalukannya sendiri. Tidak jauh beda dengan pria sih jika mereka juga saling bertemu dengan sobat-sobat akrabnya.




                Tapi, sementara pria menyukai bola dan politik, wanita lebih menyukai pembicaraan tentang manusia. Dalam pergunjingan itu, terselip pula cerminan keadaan sosial dari suatu masyarakat. Melalui Bordir, terlontarlah semacam kritik sosial tidak langsung tentang kondisi wanita di Iran. Tentang bagaimana pernikahan masih sangat dipaksakan, tentang masih kurangnya penghargaan terhadap wanita. Kenapa pria selalu menuntut keperawanan padahal wanita juga berhak menuntut keperjakaan. Bordir sendiri adalah istilah yang pernah marak di Iran, yakni operasi untuk menambal selaput dara yang sudah robek sehingga wanita akan mengeluarkan darah pada malam pertama. Darah ini dianggap sebagai perlambang masih sucinya wanita. Padahal, robeknya selaput dara tidak melulu karena hubungan seksual. Olahraga dan kecelakaan yang tentu saja tak disengaja juga bisa menjadi penyebabnya. Pandangan kuno dan terlalu berbau patriakis inilah yang mungkin coba dikritik oleh Satrapi lewat komik grafisnya nan lucu dan memikat, namun sebenarnya sangat telak menyenang arogansi laki-laki atas wanita. 



                Masih banyak lagi cerita atau pengalaman unik, lucu, tragis, kdang malah bikin miris yang dialami oleh perempuan Iran dalam Bordir. Tapi, sepertinya memang buku ini sangat kental sekali aura feminismenya. Semua serba dipandang dari sudut pandang wanita (karena memang tokoh-tokohnya adalah para wanita) sehingga mungkin ada sementara pembaca yang menanggap Bordir terlalu feminis. Namun, goresan sketsa dan panel-panelnya yang unik adalah hiburan sendiri yang mampu menyampaikan lebih banyak makna dan isyarat ketimbang ratusan kata-kata. Sebuah novel grafis yang patut dikoleksi.

                “Begitulah yang namanya hidup. Kadang kau yang menunggangi kuda. Kadang, kuda yang menunggangimu. (hlm 130)

NB: Novel ini kok tidak ada angka halamannya ya? 

sumber foto: pinjambuku.com, goodreads.com

3 comments:

  1. Sudah saatnya para pelajar dan mahasiswa dan ibu rumah tangga belajar bisnis, setidaknya lewat Bisnis Online di Internet. Yang masih bingung, mari belajar bersama kami
    Pembicara Internet Marketing.

    ReplyDelete
  2. Sudah saatnya para pelajar dan mahasiswa dan ibu rumah tangga belajar bisnis, setidaknya lewat Bisnis Online di Internet. Yang masih bingung, mari belajar bersama kami
    Pembicara Internet Marketing.

    ReplyDelete