Search This Blog

Thursday, August 22, 2013

MADRE, Kumpulan Cerita



Judul     : MADRE, Kumpulan Cerita
Pengarang          : Dee
Editor                    : Sitok Srengenge
Sampul                 : Fahmi Ilmansyah
Cetakan               : 1, 2011
Penerbit              : Bentang

 Madre (Kumpulan Cerita)

                Sungguh teliti Dee (atau mungkin pihak penerbit) memberi sub judul buku ini “kumpulan cerita” dan bukannya “kumpulan cerpen” karena isi dari Madre bukanlah cerita pendek yang pendek-pendek. Hampir separuh Madre adalah cerita panjang yang kini telah difilmkan, separuhnya lagi adalah cerita-cerita yang dimuat dalam bentuk cerita pendek maupun puisi. Yah, puisi toh memang bisa bercerita. Mengambil judul cerita pertama, Madre berkisah tentang kehidupan orang-orang muda dan (rata-rata) modern. Tipikal generasi 90-an yang telah mapan atau (dalam kasus Tansen) menemukan zona nyaman di usia mudanya dengan tinggal di kota besar. 

                Cerita paling menarik dalam kumpulan cerita ini tentu saja adalah Madre. Saya akui saya menemukan Dee yang baru dalam Madre. Dee yang saya rindukan (siapa sayaaaa?), yakni Dee seperti dalam Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Dee yang membawakan prosa yang hangat dan nyaman, seperti roti olahan Tan de Baker dengan biang Madre hasil racikan neneknya Tansen. Tansen, seorang pemuda berambut gimbal penyuka ombak, khas tipikal pemuda yang mudah kita jumpai di pantai-pantai Bali. Entah takdir apa yang mempermainkannya, yang jelas tiba-tiba ia mewarisi sebuah toko roti bersejarah dari seorang Tionghoa. Dari seorang pemuda bebas, Tanzen digiring menjadi seorang pemilik toko roti yang bertanggung jawab  penuh. Awalnya, ia ingin menjual toko kue itu. Pertemuannya dengan seorang pembaca blog-nya semakin memuluskan jalannya untuk segera menjual toko roti itu dan habis urusan. Namun, semuanya berubah begitu negar … haiah … semuanya berubah ketika ia berjumpa Madre, ya Madre, atau ibu dalam bahasa Spanyol.

                “Madre adalah adonan biang. Hasil perkawinan antara air, tepung, dan fungi bernama Saccharomyses exiguous” (hlm 13). Madre adalah ibu dari semua roti yang dibuat di toko Tan de Bakker. Dari sanalah semua kelezatan itu datang, dan lebih dari itu, Madre adalah sejarah itu sendiri. Tak dapat dipercaya, sebuah adonan ternyata mampu mengubah hidup seorang pemuda yang kurang bertanggung jawab menjadi lelaki yang lebih dewasa. Madre telah mempertemukan Tansen dengan orang-orang yang mencintai Tan de Bakker, dengan mereka yang mencintai cita rasa roti klasik, dan dengan sejarah itu sendiri. Sebuah kisah yang mendalam, yang ditulis sederhana tanpa kata-kata berat dan logika berputar-putar ala Dee dalam Akar, namun malah menghadirkan efek tak terlupakan di benak pembaca. 

                Rumah adalah tempat di mana saya dibutuhkan.”  (hlm 71)

                Untuk sebuah “Kumpulan Ceita”, bisa dibinga Madre kurang berwarna-warni. Setting dan tipe ceritanya hampir sama. Cerita kedua yang saya anggap menarik adalah cerita terakhir. Lagi-lagi, settingnya metropolitan, dengan orang-orang muda yang tengah meniti karier di belantara Jakarta. Tentang cinta yang terlambat dan juga kesepian karena karier yang diutamakan. Sebuah kisah penutup yang walau  berputar-putar di tengah namun diakhiri dengan pelukan manis. Di cerita terakhir inilah saya menemukan banyak sekali kutipan-kutipan menawan ala Dee.

                Bicara memang gampang, namun cinta luar biasa kompleks.” (hlm 140)

                Kamu ingin cinta tapi kamu takut jatuh cinta. But you know what? Kadang-kadang kamu harus terjun dan jadi basah untuk tahu air, Che. Bukan cuma nonton di pinggir dan berharap kecipratan.” (hlm 150)

No comments:

Post a Comment