Search This Blog

Tuesday, March 5, 2013

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran



Judul     : Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran
Penulis            : Mark Haddon
Penerjemah    : Hendarto Setiaji
Editor              : Pax benedarto
Pembaca ahli : F. Sulungbudi
Tebal               : 336 halaman
Cetakan          : 4, Juli 2012              
Sampul           : Boy B. Anggara
Penerbit         : Kepustakaan Populer Gramedia


 

            Dari judulnya yang panjang dan ganjil, serta covernya yang pink menyala (padahal ini bukan buku teenlit), buku ini memang benar-benar membikin orang penasaran untuk membacanya. Bagi pembaca yang cermat, ia akan menemukan permata berkilauan dalam cover pink ini, sementara bagi yang kurang awas mungkin akan melewatkan buku ini tergeletak begitu saja di toko buku karena sampulnya yang “enggak banget”. Dan, saya termasuk pembaca yang kurang awas itu. Sudah bertahun-tahun saya berkali-kali melihat buku ini tergeletak begitu saja di toko buku tanpa ada keinginan untuk membuka apalagi membelinya. Cover pink ngejrengnya benar-benar menipu karena saya selalu menganggapnya novel teenlit/chicklit, palagi ditambah fakta bahwa bukunya masih segel dan backcover di halaman belakang ditulis dengan huruf kecil dan warna putih pula. Untung, berbagai resensi di Goodreads telah menyadarkan saya dari keteledoran. Dan, setelah saya rampung membaca buku yang bikin penasaran ini, nyata benar bahwa buku ini memang luar biasa.

            Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran (IADTMYBP) karya Mark Haddon bercerita tentang seorang remaja penderita sindrom Aspenger bernama Christopher Boone. Penyakit ini hampir mirip dengan gejala autis, dan pada Christopher, gejalanya ditunjukkan dengan kebiasaannya yang menyukai keteraturan  dan ketidaksukaannya pada warna kuning dan cokelat. Bila perabot rumahnya bergeser sedikit saja (yg berarti tidak teratur) ia akan berteriak-teriak sendiri). Ia juga tidak menyadari ketika orang marah akibat perbuatannya dan bahkan akan langsung memukul orang lain yang tidak ia kenal dan membuatnya tidak nyaman (termasuk guru dan ayahnya sendiri).  Tapi, kekurangan dalam satu hal biasanya akan diimbangi dengan kelebihan di sisi lain. Christopher adalah anak yang luar biasa cerdas dalam memcahkan soal matematika dan komputer. Bisa dikatakan, ia adalah seorang remaja cerdas namun kikuk dalam bergaul dalam orang lain. Ia seperti punya dunianya sendiri dan sangat nyaman bergelung dalam dunianya sendiri.

            Alkisah, Christopher menjumpai anjing tetangganya mati ditusuk dengan garpu taman. Tidak ada orang yang mau repot-repot untuk mengusut kasus itu. Tapi, dengan logika dan kecerdasannya yang di atas rata-rata, Christopher merasa ada yang aneh (yang tidak teratur) dalam kasus biasa ini sehingga dengan polosnya ia pun menjadi penyelidik. Seluruh logika dan pemikirannya yang serba teratur menggiringnya pada kesimpulan yang mengejutkan, yang ternyata memang benar. Ia berhasil menemukan pembunuhnya (yang ternyata adalah orang yang tidak disangka-sangka). Peristiwa ini pun mengarahkannya untuk melakukan tindakan-tindakan lain yang lebih esktrem, yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

            IADTMYBP dengan sangat bagus mengisahkan kehidupan seorang anak berkebutuhan khusus dari sudut pandangnya. Melalui buku ini, Mark Haddon seperti mengajak pembaca untuk melihat dunia dari sisi si penderita, memahami mereka, dan akhirnya bersimpati kepada mereka. Melalui IADTMYBP, kita bisa tahu mengapa penderita sindrom ini menyukai keteraturan dan memiliki ketidaksukaan yang sangat ekstrem pada sesuatu. Jua, mengapa mereka sering tiba-tiba berteriak tanpa sebab (yang ternyata hal itu adalah upaya mereka untuk menghalau ketidakteraturan dari luar yang tiba-tiba “menyerang” dirinya).  Begitu pula penyelidikan yang dilakukan Christopher, yang walaupun didasari oleh pengamatannya yang mendalam tapi dilakukan dengan sangat polosnya. Seperti anak kecil yang bertanya “di mana letak kantor pos” ketika sebenarnya ia mencoba bertanya “Siapa pembunuh anjing itu.”

            Selain saya yang terkecoh, sang penerjemah (dalam catatan akhir) juga mengaku terkecoh. Sebelum menerjemahkan, beliau mengira ini adalah novel yang biasa dan mudah. Setelah membaca dan menerjemahkannya, barulah terbukti bahwa ini adalah novel yang digarap dengan luar biasa cermat. Haddon menulis novel tentang penderita sindrom aspenger ini dengan sangat hati-hati, dengan kata-kata berpola tertentu, dan teratur. Maka, penerjemah pun merombak hasil terjemahannya setelah berkonsultasi dengan seorang pembaca ahli. Luar biasa, ini mungkin novel terjemahan pertama yang saya jumpai digarap dan diterjemahkan dengan bantuan pembaca ahli (biasanya ini adalah model buku nonfiksi). Dan hasilnya, terjemahan IADTMYBP pun luar biasa. Salut untuk kerja keras dan kesungguhan sang penerjemah sehingga novel sebagus ini bisa dibaca oleh pembaca Indonesia tanpa menghilangkan banyak esensi di dalamnya. Sungguh, ini adalah buku yang kayak baca dan dikeloksi siapa saja untuk lebih memahami dunia orang-orang yang “berbeda” dari kita kebanyakan, lalu bersimpati bahkan kagum kepada mereka.

            “Dan aku tahu aku pasti bisa karena aku pernah ke London seorang diri, dan karena aku bisa memecahkan misteri Siapa yang Membunuh Wellington? Dan aku bisa menemukan ibuku dan aku berani dan aku menulis buku dan ini berarti aku bisa melakukan apa saja.” (hlm 325)

9 comments:

  1. segera masukin wish list. ternyata buku ini keren yah. aku termasuk salah satu yang melewatkan buku ini di rak buku (atau pada display toko buku online). gak tau ternyata ceritanya menarik begitu. huh.

    ReplyDelete
  2. salah satu buku favoritkuu! :D yg versi inggris covernya lebih keren dan ngga menipu kyk ini xDD

    ReplyDelete
  3. ahh ini juga buku favoritku!! CHristopher pinter banget yaa!!!

    ReplyDelete
  4. sound interesting, mas.
    berpikir untuk punya. atau maksa si adek beli buku ini hehe

    ReplyDelete
  5. Ayo semuanya sepakat kalau buku ini memang bagus. Dan, memang bagus kok. Beneran. *maksa

    ReplyDelete
  6. Buku ini emang bagus.. menarik mengikuti perjalanan Christopher :D

    ReplyDelete
  7. Wah bukunya bener2 bikin penasaran yaa.. Baruau coba baca nihh makasih ya reviewnya :)

    ReplyDelete