Search This Blog

Thursday, February 21, 2013

The Five People We Meet in Heaven


Judul     : The Five People We Meet in Heaven
Penulis : Mitch Albom
Tebal     : 196 halaman, paperback
Cetakan: 2003, First International Edition
Penerbit: HyperionBooks


             

   All endings are also beginnings. We just don’t know it at the time.

                Setelah membuat pembaca tersedu sedan dengan Thuesday with Morrie yang begitu sarat akan pesan-pesan kehidupan, Mitch Albom kembali mengajak kita tentang makna kehidupan dalam bukunya ini. Ada lima pesan, lima orang, lima pengalaman yang konon akan dijalani setiap manusia setelah ajalnya tiba. Tentang ini, well, ini sekadar perumpamaan yang digunakan penulis untuk mengajak pembaca kembali merenungkan nilai diri dan kehidupannya di jagad raya nan luas ini. Bahwa setiap kehidupan itu bermakna, bahwa setiap kematian akan disusul oleh kelahiran kembali, dan bahwa kita semua adalah saling terkait.

                Dikisahkan, Eddie adalah seorang teknisi mesin di sebuah taman hiburan. Suatu hari, ia mengalami kecelakaan karena hendak menolong seorang anak yang hampir celaka karena kesalahan teknis pada kincir ria. Eddie meninggal dalam peristiwa itu. Di surga, ia dipertemukan dengan lima orang, yang masing-masing mengajarkan berbagai petuah kehidupan. Sebenarnya, plotnya maju-mundur dan pasti akan bingung kalau tidak dibaca sendiri. Saya kutipkan saja lima pelajaran yang didapatkan Eddie.

Pelajaran pertama, adalah bahwa kita semua saling terhubung.
                “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua kita saling terhubung.” (hlm 48)
                “It is because the human spirit knows, deep down, that all lives intersect. That death don’t just take someone, it misses someone else, and in the small distance between being taken and being missed, live are changed.” (hlm 48)
                “Tidak ada satu kehidupanpun yang sia-sia. Hanya ketika kita berpikir bahwa kita sendirian di dunia ini, itulah saat kau menyia-nyiakan kehidupanmu.” (hlm 50)

Pelajaran kedua, adalah tentang pengorbanan
                “Semua kita berkorban, maisng-masing mendapat bagiannya. Tapi kau tidak ikhlas dengan pengorbanan yang menjadi jatahmu.”
                “Berkorban adalah bagian dari kehidupan, kita memang harus berkorban. Pengorbanan bukanlah sesuatu yang harus kita sesali. Pengorbanan adalah sesuatu yang harus kita sumbangkan.” (hlm 93)
                “Ketika engkau memberikan milikmu yang berharga, kau tidak benar-benar kehilangannya. Kau hanya mengoperkannya kepada orang lain.”

Pelajaran ketiga, tentang memaafkan.
                “Menyimpan dendam itu beracun. Meracunimu langsung dari dalam. Kita mengira bahwa kebencian itu ditujukan untuk merusak orang yang kita benci. Tapi, kebencian ibarat pedang bermata dua. Semakin kita menyakiti, maka diri kita pun akan semakin tersakiti. (141)

Pelajaran keempat, tentang cinta
                “Life has to end. Love doesn’t.” (173)

Pelajaran kelima, penerimaan diri
                Bahwa setiap orang telah ditakdirkan untuk menjalani perannya masing-masing. Karena setiap kehidupan itu saling berjalin dan berkaitan antara satu dengan yang lain, maka setiap kita adalah penting. masing-masing individu adalah spesial dengan caranya sendiri. Maka, berbahagialah dan rayakan kehidupan dengan menjaga dan memanfaatkannya secara positif dan bermanfaat bagi orang lain.

Resensi ini disertakan dalam Reading Books in English Reading Challenge

3 comments: