Search This Blog

Tuesday, February 26, 2013

Demon Glass dan Spell Bound



Judul: Demon Glass dan Spell Bound
Pengarang          : Rachel Hawkins
Penerjemah       : Dina Begum
Cetakan               : 2012
Penerbit              : Ufuk Fantastic Fiction



                Masih melanjutkan trilogi petualangan Sophie Mercer di sekolah Hexhall, buku kedua Demonglass berkisah tentang pencarian jati diri Mercer di luar Hexhall. Untuk sedikit kilas balik, di seri ini, manusia menjadi ancaman paling nyata bagi musnahnya mahkluk-mahkluk mitologis yang disebut Prodigium. Mereka adalah shapeshifter (manusia serigala), peri, penyihir, warlock, dan vampire. Di dunia ini, manusia memburu dan berupaya memusnahkan mereka. Lanjut ke Demonglass, setelah mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang demon generasi ketiga yang memiliki kekuatan luar biasa, yang sekaligus juga  ketua Prodigium, Mercer pun memutuskan untuk berlibur ke Inggris, ke Dewan Pusat Prodigium. Sebenarnya ia malas, tapi pengalaman pahirnya dengan Archer dan hantu nenek buyutnya di Hexhall membuatnya ingin mencari pengalihan lain. Untungnya, sahabat karibnya, Jenna, dan juga Cal, ikut serta.
                Keadaan makin rumit saat Mercer mengetahui bahwa ia sudah ditunangkan dengan Cal. Mercer hampi saja mencintai pemuda yang sesungguhnya jauh lebih baik dari Archer ini seandainya Archer tidak nekat menyusup ke Thorney Abbey. Akhirnya bisa ditebak, tipikal cowok bad boy lah yang memenangkan hari Mercer. Di Thorney Abbey, Mercer juga mengetahui fakta bahwa masih ada dua demon lainnya. Lebih mengejutkan lagi adalah dua demon tersebut memang sengaja dibiakkan untuk membantu Dewan melawan musuh-musuh prodigium.
Senjata makan tuan, demon-demon muda itu mengamuk dan merusak segalanya. Ketika Archer ditahan karena ketahuan melakukan petualangan kecil bersama Mercer, Dewan pun melucuti kekuatan ayahnya dan mengunci kekuatan demon Mercer, mmebuatnya tak berdaya. Ketika itulah Kelompok Mata yang bertujuan untuk membasmi Prodigium muncul menyerbu Thorney Abbey, sehingga memaksa demon-demon  muda dilepaskan. Perang pun meletus dan Thorney abbey luluh lantak sementara Mercer harus melarikan diri ke tempat yang sungguh tidak ia duga.
Dari ketiga seri Hexhall, saya paling suka buku kedua ini. Celetukan Mercer yang asli suka nyinyir benar-benar membuat karakter ini begitu hidup dan menyenangnya. Cerita dan alurnya juga asyik disimak, dengan bumbu-bumbu drama dan kejutan yang sayang untuk dilewatkan. Hanya saja, banyak sekali typo untuk seri kedua ini.


Spell Bound

                
Akhirnya, seri terakhir dari trilogi Hexhall. Saya buru-buru meminjamnya dari mbak Desty (padahal yang [unya belum baca) hanya untuk menjawab rasa penasaran saya. Membaca Demon Glass, saya menyadari bahwa seri ini bagus, Tapi, ekspekstasi yang tinggi itu anjlok lagi saat membaca Spell Bound yang ternyata tidak seepik yang saya perkirakan. Alur buku ketiga yang seharusnya menjadi buku final ini tidak se-ramai buku keduanya. Bahkan, perang besar yang saya nantikan antara Prodigium melawan Mata dan Keluarga Brannick tidak sedahsyat sebagaimana konflik yang telah terbangun. Memang, penulis memutuskan untuk membuat twist cerita di awal buku, tapi entah mengapa kejutan tersebut malah membuat buku ketiga ini jadi hambar, jadi  lebih “drama” bukannya aksi petualangan.

                Sekadar bocoran, setelah Thorney Abbey runtuh, Mercer berlindung ke rumah Keluarga Brannick. Keluarga berambut merah yang mengabdikan diri untuk memusnahkan seluruh Prodigium dari muka Bumi. Dari sini, Mercer mengetahui sebuah fakta yang sangat mengejutkan yang kalau saya ceritakan di sini pasti akan menjadi spoiler yang luar biasa. Pokoknya, di buku ketiga inilah Mercer dan teman-temannya harus melawan musuh yang semula adalah teman-temannya. Tengah terjadi makar di Hex Hall. Sebuah percobaan dengan sihir hitam tengah berlangsung di sekolah yang seharusnya menjadi perlindungan bagi anak-anak Prodigium itu. Di seri ini juga, kisah cinta segitiga antara Mercer-Archer-Cal berlanjut. Walau ending percintaannya agak err maksa. Seri ketiga Spell Bound masih tetap menghadirkan celetukan-celetukan khas Mercer, tapi agak kurang untuk bagian action. Tapi, untuk yang sudah membaca seri ini, sebaiknya sempatkan untuk membaca buku ketiga untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul di buku dua.

Resensi ini disertakan dalam TBR Fantasy Books RC

1 comment: