Search This Blog

Monday, January 28, 2013

Harry Potter dan Batu Bertuah


Judul                   : Harry Potter dan Batu Bertuah
Pengarang          : JK. Rowling
Penerjemah        :  L. Srisanti
Cetakan              : 20, 2006
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama




Saya yakin setiap orang memiliki pengalaman personal sendiri ketika pertama kali membaca novel ini. Saya ingat betul, tahun itu 2002 ketika saya menemukan novel ini tergeletak di kamar kakak saya. Iseng, saya coba baca karena covernya menarik dan judulnya “aneh” untuk saya yang waktu itu masih jarang membaca buku lain selain buku pelajaran atau majalah. Lembar demi lembar dibaca, dan tahu-tahu sudah pukul 2 malam ketika saya sadar telah membaca separuh novel itu. Luar biasa adalah tanggapan saya terhadap seri pertama Harry Potter ini, sampai-sampai saya berebut dengan Kakak saya sambil berteriak-teriak padahal novel itu novel pinjaman. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk menjadi penggemar dari Bocah yang Bertahan Hidup dari serangan Kau-Tahu-Siapa.

                Saking fenomenalnya, Harry Potter dan Batu Bertuah masuk dalam jajaran bestseller dunia bahkan merupakan salah satu dari 1000 books you must read before die. Banyak alasan yang melatar belakanginya, mulai dari ceritanya yang unik, karakternya yang fantasi namun tetap manusiawi, hingga keajaiban-keajaiban kreatif yang diciptakan Rowling dalam dinding-dinding Hogwarts. Sebelum buku ini ditulis, sebagian orang menganggap sihir sebagai sesuatu yang kuno, misterius, mematikan, dan tak terlacak. Memang demikian adanya, namun Rowling telah berhasil membuyarkan paradigma tersebut lewat sosok  bocah berusia 11 tahun yang dipaksa tidur di lemari bawah tangga. Hanya di dunia Harry Potterlah kita pertama kali melihat sihir diajarkan di sekolah dengan kurikulum yang teratur, di mana mata pelajarannya dibagi-bagi ibarat pelajaran anak sekolahan (Ramalan, Aritmancy, Herbology, Ramuan, dll). Dalam dunia ini pula kita melihat sihir yang ramah kepada para muggles (manusia biasa yang tidak berbakat sihir) sehingga kita bisa teryakinkan bahwa komunitas itu ada di balik tudung magis Peron 9 ¾.

                Kisah ini dibuka secara misterius, namun langsung mampu membuat pembaca terhanyut. Seorang bayi ditinggalkan di rumah Paman-Bibinya, karena orang tuanya (dikatakan) meninggal karena kecelakaan. Si bayi pun tumbuh besar dan melewatkan 10 tahun pertama kehidupannya sebagai anak yang disia-siakan tanpa mengetahui siapa orang tuanya dan betapa dahsyat dirinya. Harry kecil sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya adalah seorang penyihir dan bahwa ia entah bagaimana telah mengalahkan Kau Tahu Siapa, sosok kegelapan yang telah mengancam dunia sihir selama bertahun-tahun. Selama ini, ia hanya tahu dirinya anak yang kikuk dengan rambut mencuat kesana-kemari, serta keanehan-keanehan lain yang muncul saat ia terdesak (Harry pernah tiba-tiba berada di atas pohon ketika ia dikejar anak-anak usil).

                Semua rahasia itu mulai terbuka di hari ulang tahunnya yang ke-11 ketika ia mendapat kunjungan dari sosok manusia raksasa, Haggrid. Melalui sosok yang kelak akan menjadi sahabat terbaiknya di Hogwart inilah Harry mengetahui kalau dia istimewa. Haggrid  memperkenalkan Harry pada dunia sihir yang tersembunyi di Knocturn Alley, tentang simpanan uang emas orang tuanya di bank Gringgots, serta—akhirnya—sekolah sihir hebat bernama Hogwart yang akan menjadi rumah sebenarnya bagi dirinya. Maka dimulailah petualangan Harry yang pasti akan selalu dikenang oleh pembacanya. Berteman dengan Ron dan Hermione, bermain olahraga sihir quitdicth, menaiki sapu terbang, belajar mengayunkan tongkat, memilih lewat topi seleksi, mencoba permen pasties muntah, hingga melihat foto-foto yang objeknya bisa bergerak-gerak. Semuanya luar biasa dan sangat fantastis, walau simpel.

                Belajar di sekolah yang ajaib, bermain dengan teman-teman baru, belajar sihir dan rahasia-rahasianya; semua membuat Harry betah sehingga akhirnya ia merasa telah menemukan “rumah”nya yang sebenarnya. Namun, ada ancaman yang diam-diam mengintai. Harry kecil yang waktu itu masih polos belum tahu bahwa ada antek kau-Tahu-Siapa yang telah berhasil menyusup di Hogwarts, melakukan makar dan keburukan demi mencapai satu tujuan: membangkitkan kembali Tuan Kegelapan dari puing-puing kejatuhannya. Harry, sekali lagi, harus berhadapan dengan sihir gelap. Tapi, kali ini ia menghadapinya dengan teman-teman yang setia mendampinginya.

                Harry Potter dan Batu Bertuah adalah seri pertama dari 7 seri Harry Potter yang ditulis oleh JK. Rowling. Buku ini saya beli tahun 2007 dan sudah memasuki cetakan ke-20. Memang luar biasa. Awalnya ditujukan sebagai buku anak (mungkin karena Harry masih berusia 11 tahun) namun segera menjadi buku kesukaan segala usia.  Peluncurannya bahkan menjadi sesuatu yang sangat dinanti-nantikan. Apa yang membuat seri ini begitu disukai, selain karena premisnya yang unik dan kreatif—adalah kepiawaian Rowling menulis karakter yang dekat di hati pembaca. Walau penyihir, banyak sifat-sifat manusiawi yang kita jumpai dalam buku ini, juga kebaikan universal yang bahkan dijunjung tinggi oleh komunitas sihir. Pada akhirnya, buku ini memang legendaris dan oleh karenanya perlu dibaca paling tidak satu kali (walaupun dalam kasus saya itu berarti 3 kali). Wingardium leviosa, selamat melayang dalam keindahan dunia sihir Harry Potter.  
                

7 comments:

  1. bukannya saat ulang tahun ke-11 ya harry tau dirinya penyihir ?? :D btw salam kenal

    ReplyDelete


  2. Eh iya, saya salah hitung. Sepuluh tahun pertama kehiduapnnya seharusnya ultah ke 11. Thanks koreksiannya. Salam kenal

    ReplyDelete
  3. Saya yakin setiap orang memiliki pengalaman personal sendiri ketika pertama kali membaca novel ini.

    Kalimatmu ini kuamini, Dion!! :)

    Saya ingat pertama kali dapat buku ini malah dari hadiah kakak yang baru datang di luar negeri, bahasa Inggris, tebal pula tapi yah namanya juga Harry Potter kan ya? Tersihirlah saya :p Sayang banget ga nutut ikutan baca bareng Harry Potter >.< jadi cukup menikmati review kalian saja deh :)

    ReplyDelete
  4. Iya, betul banget. Dari pertama, novel ini sudah begitu menggoda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari pertama, novel ini sudah begitu menggoda...
      Selanjutnya, terserah Anda... -Axe
      Hehe.

      Btw ralat dikit Yon, penerjemahnya bukan L. Susanti, tapi L. Srisanti. *lempar box set harpot*

      Delete
  5. "Walau penyihir, banyak sifat-sifat manusiawi yang kita jumpai dalam buku ini, juga kebaikan universal yang bahkan dijunjung tinggi oleh komunitas sihir." --> aaah setuju banget nih!
    Tapi aku nggak setuju kalo Harry Potter cuma dibaca sekali seumur hidup aja, HP layak dibaca berkali-kali, hehehe

    ReplyDelete