Search This Blog

Friday, December 21, 2012

Dead Girl in Love (Pacarku Pacar Sahabatku)


Judul     : Dead Girl in Love (Pacarku Pacar Sahabatku)
Pengarang          : Linda Joy Singleton
Penerjemah       : Maria Susanto
Editor                    : Dian Pranasari
Korektor              : Adi Toha
Cetakan               : pertama, September 2012
Penerbit              : Atria

 http://cerita-utama.serambi.co.id/wp-content/uploads/2012/10/Dead-Girl-in-Love-front.jpg

                 
              Setelah mengalami dua kali “masuk” ke tubuh yang salah, Amber sekali lagi terbangun dalam tubuh yang bukan miliknya sendiri. Lebih ngerinya lagi, ia bangun di dalam sebuah peti mati dan berada di dalam tubuh sahabatnya sendiri, Alyce. Setelah perannya sebagai penghuni sementara di dua tubuh orang lain berhasil  ia jalani dengan baik, untuk kali ketiga ia harus menjadi penghuni sementara bagi tubuh ALyce, sahabat dekatnya sendiri. Tidak habis pikir Amber ketika mengetahui bahwa sahabat terdekatnya itu ternyata memiliki masalah yang sangat berat dan rumit (terlepas dari masalah-masalah yang tampak dalam kesehariannya). Alyce sendiri bisa dibilang gadis yang unik. Ia suka memakai pakaian yang serba hitam ala gothic dan memiliki hobi unik (lebih tepatnya menyeramkan) yakni memotret nisan-nisan tua di kuburan. Sekilas, tipe gadis seperti Alyce adalah tipe remaja yang “masa bodoh dengan kata orang lain yang penting gue nggak mengganggu mereka.” Siapa sangka, dibalik sikap ALyce yang sok cuek itu, gadis itu menyimpan luka lara yang membuat jiwanya letih.

                Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Granny (neneknya Amber yang merupakan pimpinan dari seluruh penghuni sementara), sesekali waktu jiwa seorang manusia perlu beristirahat dari segala tekanan dan beban kehidupan yang menhimpit. Dalam hal ini, si jiwa akan “meninggalkan” tubuhnya untuk sementara dan adalah tugas seorang penghuni sementara untuk menggantikan jiwa tersebut dengan menempati tubuhnya. Lebih jelasnya begini. Alyce memiliki masalah berat dan hal itu sangat melelahkan jiwanya. Maka, jiwanya pergi beristirahat selama sementara waktu di suatu tempat agar saat “terbangun” ia aka memiliki energi dan semangat serta pemikiran yang lebih jernih. Nah, selama jiwa mengambil rehat sementara inilah, tubuhnya ditempati oleh jiwa sang penghuni sementara. Dalam hal ini, penghuni sementaranya adalah si Amber.

                Lalu, siapa yang menempati tubuh Amber kalau ia berada di tubuh Alyce? Ternyata, Grannylah yang menempati tubuh Amber selama ia menjalankan tugasnya sebagai penghuni tubuh Alyce. Maka, dimulailah petualangan seru ALyce (Amber) dan Amber (Granny) dalam menjalankan keseharian tubuh yang mereka huni. Belum sempat Amber menemukan penyebab masalah berat yang mendera ALyce, ia bertemu dengan Gabe, seorang Penghuni Kegelapan yang bisa menyedot energi kehidupan para penghuni sementara.  Sekuat tenaga, Gabe berupaya membujuk Amber untuk mempertemukannya dengan Granny. Gabe mengaku sudah bertobat dan ia ingin kembali ke jalan cahaya. Dari sini, sikap Amber mulai terbelah. Di satu sisi ia tersentuh dengan ketulusan Gabe yg mengatakan ingin menjadi baik, sementara di sisi lain akal sehat (dan juga Tim Granny) mengatakan bahwa seorang penghuni kegelapan tidak akan pernah bisa sadar.

                Sambil terjebak dalam kegalauan, Amber harus berjuang menemukan sumber masalah Alyce. Alyce tengah mencari sesuatu, seseorang, tapi siapa dan di mana. Di sisi lain, keberadaan Gabe yang selalu menguntitnya semakin membuat Amber tidak nyaman. Haruskah ia mempercayai Gabe? Apakah Gabe benar-benar sudah bertobat? Lalu, bagaimana serunya Granny yang berada di tubuh anak dari anak perempuannya sendiri? Semuanya dikisahkan dengan seru dan khas anak muda dalam seri Dead Girl in Love ini. Jika Anda sudah mengikutiseri Dead Girl ini sejak awal, maka buku ini akan menjadi seri pamungkas dari trilogi menyeramkan ini. Ada ending dan adegan seru di halaman-halaman akhir, ketika Amber akhirnya harus berjuang melawan kekuatan gelap itu, sendirian.

                Dikisahkan dengan bahasa anak muda, Dead Girl in Love berhasil mengangkat tema supranatural yang spooky menjadi lebih segar dan kocak dalam setting remaja. Premis yang digunakan sangat orisinal, dan penulis juga mampu menjelaskan sebab-akibat atau pertautan dari kisah petualangan para penghuni sementara ini. Sejauh ini, saya belum menemukan thypo sementara terjemahan dan editannya sangat luwes dan mengalir, khas dalam bahasa anak muda.  

2 comments: