Search This Blog

Wednesday, October 3, 2012

Jokowi, Si Tukang Kayu



Judul               : Jokowi, Si Tukang Kayu
Penulis            : Gatot Kaca Suroso
Penyunting     : Rayina
Korektor        : Siti Aenah
Sampul           : Apung Donggala—Ufukreatif Desain
Cetakan         : 1, September 2012
Penerbit         : Ufuk Fiction



            Buku ini semacam novel inspiratif sederhana tentang seorang sosok bersahaja yang akhir-akhir ini sering menjadi sorotan publik terkait dengan PILKADA Daerah Khusus Ibukota Jakarta 2012. Dialah Jokowi, mantan orang ndeso yang dengan gilang-gemilang berhasil menaklukkan rimba ibukota. Orang Solo yang hampir secara aklamatif akan memimpin Jakarta selama lima tahun ke depan. Joko Widodo, atau yang lebih populer dipanggil Jokowi, adalah sosok bersahaja yang apa adanya tapi juga ada apa-apanya. Begitu banyak kualitas kepemimpinan dalam dirinya: kreativitas, mengayomi, mampu mempersatukan banyak pendapat, dan tidak segan-segan melakukan tindakan yang agak “tidak umum” namun ternyata memang berhasil. Semua kualitas inilah yang menjadikan sosoknya begitu berbeda dan begitu menyedot perhatian publik semenjak beliau menjabat sebagai Walikota Solo hingga kini menjadi Gubernur DKI Jakarta. 

            Ada banyak hal yang turut membentuk Jokowi yang sekarang. Dalam novel Jokowi Si Tukang Kayu  ini, pembaca akan diajak bernostalgia ke Solo pada awal tahun 1970-an. Tentang masa kecil dan remaja Jokowi, begitulah novel ini dimaksudkan. Semua bermula dari pengalaman masa kecilnya yang dididik sebagai anak dari keluarga sederhana, bahkan keluarganya pernah tinggal di bantaran Kali Anyar, Surakarta, bersama para penghuni liar lainnya. Jokowi kecil hidup dengan begitu sederhana: mandi di sungai, bermain layangan si sawah, sesekali bermain di terminal, atau membantu bapaknya mencari kayu ke hutan. Semuanya biasa-biasa saja, tiada yang istimewa. Yang Istimewa adalah bahwa Jokowi kecil mampu menghasilkan jiwa dan sikap yang istimewa dari masa kecilnya yang sangat biasa itu.  
     
Lingkungan yang kumuh tidak menjadikan jiwa, hati, dan pikirannya turut kumuh. Dengan didikan Bapaknya yang tukang kayu serta Ibundanya yang begitu sederhana serta bijak dalam mengarungi hidup, Jokowi pun tumbuh sebagai anak yang terbiasa bekerja keras, bertanggung jawab, dan juga cerdas. Ia begitu beruntung karena tumbuh dengan dikelilingi oleh orang-orang yang bersahaja namun memiliki pandangan hidup yang luar biasa.

“Bapak, Ibu, maupun Mbah Harjo sama-sama pernah memberiku nasihat soal nrima ing pandum, yang intinya rida, ikhlas dengan yang diberikan Gusti Allah. Tapi nerima bukan sekadar nerima. Melainkan dibarengi dengan ikhtiar semampunya. Adapun hasilnya, itu terserah kepada Yang Maha Kuasa” (halaman 125)

Sedari kecil, ia memang sudah menunjukkan sifat-sifat yang sampai hari ini masih diperlihatkan hingga sekarang, yakni aktif bertindak ketimbang sibuk berwacana. Ia membuktikan prinsipnya ini dalam mencari SMA maupun kuliah. Walau gagal masuk di SMA impiannya, SMA I Surakarta, Jokowi remaja tidak putus asa apalagi ngresulo (mengeluh).  Ia berhasil membuktikan bahwa di SMA yang bukan favorit pun ia bisa tetap juara dan mempertahankan prestasi bagusnya.

            Setidaknya, dengan  nekat, aku sudah berusaha mencapai keinginanku, tidak merasa takut sebelum mencoba.” (halaman 100).

             Dengan prinsip yang sama, Jokowi berhasil diterima kuliah di universitas yang benar-benar menjadi favoritnya. Ia masuk sebagai mahasiswa Jurusan Kehutanan, Universitas Gajah Mada. Ia tahu, keluarganya tidak begitu berada, tapi orang tua Jokowi tetap mengedepankan prinsip pentingnya pendidikan sehingga mereka bekerja keras demi membiayai Jokowi. 

            “Tapi, kamu harus tanggung jawab ya. Kalau sudah memulai sesuatu, jangn kamu tinnggal di tengah perjalanan, nanti Bapak bantu sebisanya kalau kamu butuh apa-apa, seperti modal, karena jer basuki mawa bea (untuk bisa berhasil harus ada modal/biayanya).”

Jokowi pun demikian adanya. Pembaca seharusnya kagum dengan semangat pemuda Jokowi, yang ngekos dengan duit sangat pas-pasan, di mana ia juga harus bolak-balik Jogja-Solo setiap akhir pekan demi membantu usaha orang tuanya. Jokowi tahu benar bahwa keluarganya telah berkorban banyak demi kuliahnya, dan ia tidak akan menyia-nyiakan hal itu. Ia pun tumbuh menjadi mahasiswa yang cerdas, aktif berorganisasi, dan memiliki pandangan maju. Kualitas prima ini ia tunjukkan dalam program KKN yang ia ajukan bersama kelompoknya. Bukan sekadar KKN biasa, program yang diluncurkan Jokowi ini berhasil membangun masyarakat desa dengan berbasis kemandirian. Saat berpamitan, mereka meninggalkan desa itu dengan perasaan bangga bahwa semua anak muda di desa itu telah memiliki keterampilan dalam mengolah kayu menjadi mebel. Ia benar-benar anak tukang kayu yang berpandangan ke depan.

Masih ada banyak lagi hal-hal hebat yang bisa diambil dari masa kecil dan masa remaja Jokowi. Semuanya begitu sederhana dan apa adanya, tapi sang penulis berhasil menyarikan nilai-nilai kehidupan mellaui sudut pandang Jokowi yang apa adanya. Novel ini juga sedikit menjawab tanya dan penasaran dari para pembaca, tentang bagaimana masa-masa pacaran Jokowi muda, tentang bagaimana ia sangat suka dengan lagu rock, dan tentu saja, bagaimana ia bisa mendapatkan nama Jokowi—yang ternyata berasal dari seorang pengusaha asal Rusia.

Pun demikian, novel sederhana ini belum mengekplorasi masa-masa dewasa Jokowi, yakni Jokowi sebagai pengusaha mebel hingga akhirnya ia maju sebagai calon Walikota Solo. Seharusnya, bagian inilah yang mendapat porsi lebih, namun sayangnya hanya dibahas sekelumit kecil di penghujung novel. Tampaknya, penulisan novel ini lebih bertujuan untuk mengekplorasi masa kecil dan masa remaja Jokowi. Walaupun begitu, ada begitu banyak hal yang bisa kita jadikan sebagai teladan dan hikmah dari perjalanan seorang Jokowi dalam buku sederhana ini. Paling tidak, buku ini mampu menjawab sebagian tanya tentang sosok Joko Widodo yang akhir-akhir ini begitu rupa mewarnai layar kaca para pemirsa.


5 comments: