Search This Blog

Tuesday, May 22, 2012

Sherlock Holmes, A Study in Scarlet



Judul asli           : Sherlock Holmes, A Study in Scarlet
Judul terjemah   : Penelusuran Benang Merah
Penulis              : Sir Arthur Conan Doyle
Alih bahasa       : B. Sendra Tanuwidjaja
Cetakan            : 1, November 2001, 216 Halaman
Peneerbit          : Gramedia Pustaka Utama


            Jika Anda sebagai penggemar awal serial Sherlock Holmes bertanya-tanya bagaimana detektif nyentrik ini bisa dipertemukan dengan Dr. Watson yang merupakan sahabat sekaligus mitra kerja di 221B Baker Street, London, maka di buku A Study in Scarlet inilah Anda akan menemukan jawabannya. Dalam bab-bab awal buku ini, akan terjelaskan mengapa kedua orang yang berbeda jauh bak langit dan bumi ini bisa bertemu dan membentuk satu gabungan luar biasa dari salah satu cerita detektif terhebat sepanjang masa. Dr. Watson yang agak kaku, intelek, dan tipikal khas orang Inggris yang “normal” seolah tercipta untuk melengkapi sosok Sherlock Holmes yang luar biasa ganjil, nyentrik, namun memiliki kepandaian deduksi yang luar biasa. Sebagai penggemar Sherlock Holmes, Anda disarankan untuk tidak melewatkan membaca A Study in Scarlet ini agar mata rantai pengetahuan Sherlockian Anda lengkap dan tidak terputus.

            Alkisah, Dr. Watson—yang waktu itu masih lajang dan luntang-lantung—baru dipulangkan dari Afganistan karena penyakit berat yang dideritanya di medan perang. Pengalamannya sebagai dokter militer rupanya tidak menghalanginya untuk ikut terkena penyakit tifus. Kombinasi dari luka tembak dan serangan tifus membuatnya begitu lemah sehingga ia dipulangkan ke London. Karena tidak punya cukup uang dan pekerjaan, ia mencari tempat kos yang murah. Di sinilah ia dipertemukan dengan Sherlock Holmes yang juga sama-sama sedang mencari kamar kos dengan sewa yang murah. Jadilah Dr.Watson sebagai kawan berbagi tempat tinggal dengan Sherlock Holmes—seorang dektektif nyentrik yang akan segera mengubah hidup Dr. Watson yang monoton menjadi penuh warna dan petualangan di dunia kriminal.

            Segera saja, Dr. Watson menjumpai betapa nyentriknya rekan sekamarnya itu. Hal pertama adalah kemampuan Holmes yang mampu menebak bahwa Watson baru saja pergi di Afganistan meskipun keduanya belum pernah bertemu sebelumnya. Holmes sepertinya agak anti-sosial dan jarang bergaul tapi nyatanya ia didatangi oleh banyak tamu. Holmes juga memiliki tatapan mata yang sangat tajam dan selama beberapa waktu dia akan terlihat duduk termenung selama berjam-jam tanpa berkata apa-pa sebelum kemudian mengambil topi dan mantelnya lalu pergi keluar. Yang paling khas tentu saja, Holmes duduk sambil menghisap cangklong rokoknya dan terlihat seperti memikirkan sesuatu dengan sangat serius. Ketika ia membaca, ia membacanya dengan begitu terperinci sampai hal-hal terkecil. Herannya, pengetahuannya yang luar biasa tidak diimbangi dengan pengetahuan yang sama besar di bidang lain, sampai-sampai Watson ngedumel sendiri:
           
            Bahwa ada manusia beradab di abad kesembilan belas ini yang tidak menyadari bahwa Bumi mengitari Matahari, bagiku merupakan fakta yang begitu luar biasa hingga aku hampir-hampir tidak mempercayainya. (24)

            Sherlock Holmes selalu bisa menghadirkan deduksi alias kesimpulannya sendiri, yang membuat Dr. Watson semakin penasaran dengan misteri teman satu tempat tinggalnya ini. Bahkan, sempat-sempatnya Watson menyusun daftar kelebihan dan kekurangan pengetahuan sahabatnya itu dalam sejumlah bidang keilmuan—Holmes terutama sangat mengusai bidang kimia dan hukum Inggris, namun lemah dalam sastra dan filsafat. Namun, lama-kelamaan Watson sendiri yang menyadari bahwa dibalik sosok yang nyentrik itu bersembunyi otak yang luar biasa cerdas. Ketika hari itu tiba, Watson baru menyadari bahwa rekannya itu adalah seorang detektif konsultan yang telah berhasil memecahkan banyak kasus dan misteri rumit di London. Tidak lama kemudian, Watson pun terlibat dalam kasus pertama yang akan ia telusuri benang merahnya bersama Sherlock Holmes.

            “Kau orang pertama yang membuat ilmu deduksi begitu gamblang seperti ilmu eksakta.” (hlm. 60)

            Sebuah pembunuhan terjadi di Lauriston Gardens, London. Seorang pria ditemukan meninggal di dalam sebuah rumah kosong. Tidak ditemukan luka ataupun senjata, namun ekspresi wajahnya menampakkan kengerian yang luar biasa. Sherlock Holmes yang baru bisa mendatangi TKP pada pagi harinya mendapati bahwa para polisi di Scotland Yard telah bertindak sembrono dengan “mengotori” lokasi kejadian  dengan banyaknya petugas yang dilibatkan. Banyak bukti telah bercampur baur dan walaupun para polisi tersebut telah mengaku bahwa mereka bisa mengamankan barang-barang bukti dan membuat deduksi, Sherlock Holmes tetap saja usil dengan melakukan pengamatan sendiri. Ketika dua detektif resmi kepolisian saling berlomba untuk memcahkan misteri kriminal ini, Sherlock—ditemani Watson—bergerak dengan caranya sendiri. Dengan lihai, ia bahkan berhasil mendatangkan sendiri sang pembunuh tepat di depan hidung kedua detektif tersebut. Luar biasa bagaimana alih-alih mengejar si pelaku, Holmes mampu membuat si pelaku mendatanginya sendiri.

            Ketika pembunuh itu akhirnya tertangkap, maka dimulailah bagian cerita kedua tentang masa lalu sang pembunuh dan bagaimana ia bisa melakukan pembunuhan itu. Bagian kedua ini agak berbeda dari seri-seri Sherlock Holmes yang lain—yang dikisahkan oleh Watson ataupun oleh Holmes sendiri. A Study in Scarlet memiliki dua cerita dan dua penceritaan, satu dikisahkan melalui sudut pandang Watson sementara satunya lagi oleh sudut pandang orang ketiga. Kedua cerita ini akhirnya akan saling bertemu di belakang, menyajikan sebuah kasus pelik namun canggih yang akhirnya bisa diungkap oleh Sherlock Holmes.

            Membaca serial Sherlock Holmes ibarat candu yang memabukkan bagi pembacaranya. Tidak heran jika detektif nyentrik rekaan Conan Doyle ini segera merebut perhatian dunia. Cara dan perilaku Holmes yang nyentrik dalam memecahkan kasus, serta sudut pandangnya yang berbeda dari orang kebanyakan merupakan contoh dari otak yang “out of the box”. Kemampuannya berdeduksi serta kelihaiannya dalam melihat apa  yang luput dilihat dari orang lain telah mengajarkan kepada pembaca tentang bagaimana menjadi detektif yang tidak mudah tertipu dengan bukti-bukti palsu. Karakter khas pengamatan Holmes pun cukup unik, ia memulai menceritakan pengungkapan kasusnya dari belakang. Jadi, sang penjahat tertangkap dan baru setelah itu ia menceritakan bagaimana asal-muasal serta alur kejahatan yang dilakukan oleh si pelaku.

Dari Holmes pula kita belajar banyak tentang bagaimana berpikir secara kreatif dan berbeda dari orang kebanyakan (out of the box), bagaimana melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain, bagaimana berfokus pada satu hal yang benar-benar kita butuhkan alih-alih mencoba menguasai hal-hal remeh yang kurang kita butuhkan, dan bagaimana menjadi diri sendiri dengan segala keunikan dan keluarbiasaannya.

Selamat ulang tahun Sir Arthur Conan Doyle, terima kasih telah membawa sosok detektif sehebat Sherlock Holmes ke dalam hati kami.

12 comments:

  1. Alamatnya bukannya Baker Street 221B ya? (kurang 'B'nya..).

    Btw, ini gak diikutin sekalian di lomba review Baca Klasik?

    ReplyDelete
  2. Mau bacaaa mau bacaaaa mau bacaaaa!!!
    Buat ikutan lomba review, masukin link mu disini: http://bacaklasik.wordpress.com/2012/04/30/sherlock-quest-event-bulan-mei-2012/

    ReplyDelete
  3. aah, tuh kan, kadang Watson sama Sherlock sering nyinyir-nyinyiran XD *adegan2 yang bikin ketawa kalau baca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya lucu pokoknya kl liat mrk berdua berselisih ttg hal gak penting

      Delete
  4. aku juga suka novel ini, aku jadi tahu asal mula bagaimana si dr. Watson bisa menjadi partner Sherlock. Cuma ngerasa kisahnya si pembunuh itu agak terlalu panjang narasinya:P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bagian duanya ngak nyebut Holmes sama sekali jadinya kayak ngak puas ya liat proses penyelidikan Holmes ma Watson

      Delete
  5. saya ingin cerdik seperti SH, caranya gimana mas Dion ?

    ReplyDelete
  6. dika perempuan papuaSeptember 12, 2012 at 7:07 PM

    dimanakah saya bisa membaca a study in scarlet secara lengkap? mas dion yg baik hati.........

    ReplyDelete