Search This Blog

Friday, May 18, 2012

Ratu Seribu Tahun



Judul                       : Ratu Seribu Tahun
Pengarang              : Ardani Persada
Pencipta Hikayat  : Ami Raditya
Ilustrasi                  : Tim Ilustrasi Vandaria Wars
Tebal                      : 533 Halaman
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama


            Ketika cerita epos dijadikan hikayat, penulis dituntut untuk mampu membebaskan elemen-elemen di dalamnya menjadi suatu fiksinisasi fantasi yang menawan. Ardani Persada, dengan pengetahuannya yang kaya dan dipadu dengan ketertarikannya pada ranah fantasi, berhasil menuliskan salah satu hikayat pengisi lini masa di dunia Vandaria. Kelihaiannya membawa nilai-nilai lokal dalam cerita fantasi dengan setting Vandaria telah menghasilkan alur cerita tentang Ratu Narasoma yang kisah perjalanannya merentang sepanjang 1000 tahun masa kehidupan manusia biasa. Dialah Narasoma, Ratu Seribu Tahun.

            Kisah dimulai ketika terjadi serbuan pasukan Kerajaan Arengka yang dipimpin oleh Raja Rahwan ke negeri Madra. Negeri yang semula aman sentosa itu kini terancam oleh ambisi sang raja lalim yang telah terlebih dulu melumat habis kerajaan-kerajaan lain di daratan utama Vandaria. Setelah Hastin takluk, negeri Madra menjadi target selanjutnya. Perang pun pecah, dengan masing-masing pihak mengerahkan pasukannya dari bangsa manusia, djinn, maupun makhluk-makhluk mitos yang selama ini hanya muncul di dunia epos: garuda dan jatayu. Elemen-elemen lokal yang langsung membanjiri halaman-halaman awal novel inilah yang membuat Ratu Seribu Tahun berbeda dari fiksi fantasi lokal kebanyakan yang seakan berlomba untuk mengusung nama-nama berbau asing.

            Madra pun terdesak sehingga sang raja terpaksa meminta bantuan kepada sosok djinn perkasa bernama Murugan. Sang djinn bersedia membantu, tapi dengan syarat ia harus menumbalkan putrinya, Narasoma,  sebagai wadah bagi Murugan supaya ia bisa mewujud di dunia nyata.  Sang raja setuju dan pasukan Arengka pun dapat dikalahkan. Murugan juga membuat mantra pelindung di sekeliling negeri Madra sehingga negeri itu tidak bisa dimasuki oleh orang-orang yang bukan penduduk Madra. Negeri itu pun aman sentosa walaupun harus terisolir dari luar selama ribuan tahun. Tapi, putri Narasoma lah yang menanggung akibat paling mengerikan. Walaupun Narasoma tetap bisa hidup seperti manusia biasa, dengan kesadarannya yang sehat sepenuhnya, di tubuhnya kini bersemayam djinn Murugan—sosok djinn yang paling ditakuti di Vandaria. Putri cantik itu kini juga memiliki dua tanduk di kepalanya, dan ia hidup abadi.

            Kutukan keabadian inilah yang menyiksa Narasoma karena ia harus menjalani pergantian abad demi abad, sementara dirinya tidak pernah menua. Selama hampir satu millennia, ia mampu memimpin Madra dengan adil dan damai. Rakyat begitu memujanya. Namun, yang namanya kutukan tetaplah kutukan. Keabadian itu serasa membelenggu jiwa dan kehidupan. Sampai akhirnya, seorang Pejalan Cakrawala bernama Hekhaloth mewujud di depannya, memerintahkannya agar melakukan perjalanan ke Barat untuk menemukan Lembah yang Dijanjikan. Selama perjalanan, ia juga diperintahkan mengamalkan dan menyerbarluaskan ajaran Rahwan, yang entah bagaimana selama ratusan tahun kemudian raja bengis itu malah dikenang sebagai penyebar kebaikan. Di Lembah yang Dijanjikan itulah Narasoma berharap bisa menemukan jawab dari galau yang mendera hati dan pikirannya.

            Sayangnya, empat Raja Langit mengira bahwa perjalanan Narasoma adalah untuk berbuat kejahatan—terutama karena iblis Murugan yang bersemayam dalam dirinya juga ikut dalam perjalanan suci tersebut. Sekuat tenaga, empat frameless penjaga bumi Vandaria itu pun bersatu menentang perjalanan Narasoma. Dipersiapkanlah pasukan demi menghadang rombongan Narasoma.

            Perjalanan ke Barat pun dimulai. Beragam ujian dan penghalang tentu saja harus dilalui oleh Narasoma. Untungnya, para dewa-dewi Vanadis memberkati perjalanannya dengan kawan-kawan seperjalanan yang luar biasa. Adalah Kugo, seekor kera sakti dari langit yang awalnya diutus Raja Surga untuk menghentikan perjalanan Narasoma dan kemudian menjadi pengawal paling setia. Selain Kugo, ada juga Vari—sang penyembuh, Hakka—seekor monster gorken yang kemudian mengabdi dan menjadi murid Narasoma, serta Gojoh—pemburu terminus (semacam roh alam) yang akhirnya juga menjadi murid Narasoma. Kisah selanjutnya adalah tentang perjalanan suci Narasoma. Di mana mereka bertempur dengan berbagai makhluk, mulai dari naga hingga kaum frameless. Pada akhirnya, perjalanan itu sendiri adalah proses yang harus dijalani Narasoma agar ia mampu memahami ajaran Rahwan yang telah diajarkan oleh Sang Ibu—dan kemudian diselewengkan oleh Rahwan. Di akhir cerita, Narasoma menemukan bahwa Lembah yang Dijanjikan itu ternyata berada begitu dekat dengan dirinya, dan bahwa pertemuan dan perjalanannya bersama murid-muridnya demi menyebarkan ajaran cinta kasih itulah maksud dari perjalanan suci sang ratu 1000 tahun ini.

            “Karena itulah kedamaian yang sesungguhnya, hanya bisa kita temukan di dalam hati. Lembah yang Dijanjikan sesungguhnya sudah tersimpan di hati setiap umat-Nya. Kita hanya perlu membuka hati dan menerimanya.” (483)

            Novel Ratu Seribu Tahun, terlepas dari kemiripan kisahnya dengan  “Kisah Sun Go Kong dan Perjalanan ke Barat”            mampu membawa angin segar dalam ranah fiksi fantasi dalam negeri. Bukan hanya di bumi Vandaria, kisah rekaan Ardani Persada ini seakan hendak menegaskan kembali bangkitnya muatan lokal dalam ranah fantasi dalam negeri. Sudah sejak lama, fiksi fantasi kita—yang masih sedikit itu—dibanjiri dan diwarnai oleh nama-nama asing serta legenda-legenda luar. Sudah tak terhitung berapa kali pembaca kita kesulitan mengingat nama-nama yang (maaf) “tidak Indonesianis” dalam ranah fiksi fantasi lokal. Serbuan produk luar begitu gencar sehingga kita seolah lebih akrab dengan elf, kurcaci, atau troll yang asli luar negeri padahal hikayat-hikayat di nusantara sendiri sangat kaya akan elemen-elemen fantasi yang menakjubkan. Ardani adalah salah satu yang pertama berhasil menunjukkan bahwa istilah-istilah lokal seperti jatayu, garuda, dan djinn juga mampu menawarkan petualangan yang tidak kalah serunya dibanding istilah-istilah asing. Buku-buku fantasi terjemahan memang tengah menguasai pasaran, tapi bukan berarti kita juga harus membebek dan ikut-ikutan memakai nama asing bukan?

            Kelebihan lain dari Ratu Seribu Tahun juga terletak pada kekayaan wacana yang ditawarkan, kompleksnya konflik yang diajukan, serta beragamnya karakter yang saling berjalinan di dalamnya, Lebih dari itu, novel ini juga seperti mengajak pembaca agar lebih mengenal tokoh-tokoh pewayangan yang namanya banyak diplesetkan dalam novel ini. Sebut saja Rahwan, Duryuudan, Hastin, padang Kurusethr, gunung Argobelah, Garuda, jatayu, dan aneka istilah lain yang mungkin tidak akan terpikirkan oleh pembaca akan dapat muncul di dunia Vandaria. Lebih kerennya lagi, Ardani mampu memasukkan unsur lokal dan karakter pewayangan ini dengan begitu mulusnya sehingga kita tidak seperti sedang membaca cerita wayang. Atau, mungkin bisa disebut demikian: membaca para karakter di dunia wayang dalam cerita fantasi ala game yang beraroma petualangan kera sakti!

            Ada kelebihan, tentu ada kekurangan. Di samping ceritanya yang jelas sekali terinspirasi oleh Perjalanan Suci Sun Go Kong dalam mencari kitab suci ke Barat, novel ini juga masih memuat banyak typho dan sedikit kesalahan editing. Setelah saya cek, ternyata memang tidak ada editornya (?). Sementara tentang kemiripannya dengan kisah Sun Go Kong, saya kok beranggapan bahwa hal tersebut sangat membantu dalam menjaga alur cerita agar tidak melebar ke mana-mana. Dengan perjalanan ke Barat, penulis berhasil menjaga ritme alur tulisannya agar tetap terfokus meski terlihat sekali betapa besarnya godaan untuk melebarkan cerita sampai ke mana-mana. Salut untuk hal ini. Sebagai tambahan, deskripsi adegan perang besar di halaman-halaman akhir sangat memuaskan saya sebagai pembaca yang menggemari kisah-kisah fantasi petualangan.

           
            “Dan aku percaya kekuatan inilah yang sejati. Kekuatan ini yang bisa menyebarkan cinta kasih, kedamaian, dan menyebarkan kebenaran pada setiap manusia. Bukan, bukan hanya manusia, tapi juga frameless, Gorken, dan manusia separuh frameless. Kita semua, dari berbagai macam kerajaan, suku, ras, pandangan hidup, semuanya berhak atas kebenaran.” (hlm 482)

cek juga kisah lain dari Benua Elir di seberang daratan utama Vandaria dalam buku: 


resensinya di sini.

5 comments:

  1. Terima kasih atas resensinya, Mas Dion. Bagus sekali :)

    ReplyDelete
  2. I'm not sure the place you are getting your info, however good topic. I must spend a while finding out much more or working out more. Thanks for great information I was searching for this information for my mission.

    Also visit my web-site :: laser cellulite treatment

    ReplyDelete