Search This Blog

Thursday, April 26, 2012

The Alchemyst, The Secret of the Immortal Nicholas Flamel


Judul   :The Alchemyst, The Secret of the Immortal Nicholas Flamel
Penulis            : Michael Scott
Penerjemah  : Berliani M. Nugrahani
Tata letak       : MAB
Cetakan        : ke-7, Juni 2010
Tebal               : 503 halaman
Penerbit         : Matahati



            Kalau ada ungkapan Don’t judge a book by its cover, maka saya terpaksa mengecualikan novel tebal ini. Sampul depan yang dipenuhi dengan simbol-simbol kuno serta cetakan timbul dari tinta emasnya telah membuat saya jatuh hati pada buku ini, jauh sebelum saya ikut terhanyut dalam petualangan menakjubkan di dalamnya. Boleh percaya boleh tidak, rata-rata orang bisa membaca novel ini antara 1-3 hari, bahkan buku seri keempatnya The Necromancer habis saya lahap hanya dalam waktu 4-5 jam. Rekor ini hanya bisa disamai oleh pembacaan seri Harry Potter yang bisa habis dalam 2-4 malam. Secara umum, seri ini mengambarkan pertempuran antara manusia abadi melawan Ras Tetua yang hendak kembali menguasai dunia.
            Perpaduan antara kisah fantasi klasik dan aksi mendebarkan tiada henti merupakan kunci dari kesuksesan seri The Secret of Nicholas Flamel ini. Mengisahkan tentang kisah seorang Nicholas Flamel yang lahir pada tanggal 28 September 1330 dan diceritakan masih hidup hingga hari ini. Kita mungkin masih mengingat tokoh ini dalam buku Harry Potter dan Batu Bertuah di mana Flamel dikisahkan sebagai penyihir yang mampu memiliki kehidupan yang abadi karena ia mampu membuat ramuan keabadian dari batu bertuah miliknya. Dalam seri ini, sang alchemist bisa hidup abadi karena ia memiliki Codex, sebuah buku kuno karangan Abraham sang Magus yang didalamnya terdapat resep membuat ramuan keabadian.

            Mereka adalah mahkluk hidup yang berpenampilan seperti manusia—kadang-kadang—namun memiliki kekuatan dewa. Mereka telah berkuasa selama puuluhan ribu tahun sebelum mahkluk hidup yang mereka sebut manusia—humani—muncul di muka bumi. Manusia primitif kemudian memuja Ras Tetua sebagai dewa dan iblis … Para dewa dan dewi dalam kepercayaan Yunani dan Mesir, Sumeria dan Lembah Sungai Indus, Teltec dan Celtic, betul-betul ada” (hlm 224)
           
            Kisah diawali dengan cepat oleh dua pasang saudari kembar, Josh dan Sophie Newman. Kedua remaja  berusia 15 tahun ini tidak pernah menyangka bahwa selama ini mereka bekerja sambilan di toko buku milik  seorang manusia abadi. Siang itu, Kamis 13 Mei, hidup mereka berdua langsung berubah ketika beberapa orang dengan mantel panjang hitam mengunjungi toko buku tua milik Nick Flemming tempat Josh bekerja sambilan. Logika dunia modern langsung luluh lantak ketika Josh dan Sophie menyaksikan sendiri pecahnya pertempuran sihir antara Nick dan tamu-tamu itu. Dengan aura rasa mint, Nick menghajar golem-golem (makhluk dari tanah liat) serta menimbulkan ledakan-ledakan bola energi yang luar biasa. Tamu-tamu itu ternyata dipimpin oleh Dr. John Dee, seorang manusia abadi lain yang hendak merebut Codex dari Nick—yang ternyata adalah Nicholas Flamel sang manusia abadi. Sejak saat itulah, Josh dan Sophie baru menyadari bawa apa yang selama ini mereka anggap sebagai mitologi dan legenda ternyata benar-benar ada di dunia nyata.

            Selanjutnya, adegan pertempuran sihir dan pengejaran seolah saling sambung-menyambung tanpa jeda. Mulai dari jembatan Golden Gate di San Francisco hingga ke Alam Bayangan milik Tetua Hecate. Flamel, Josh dan Sophie harus melarikan diri dari komplotan Dee yang disokong oleh  para Tetua Gelap yang berencana untuk mengambil alih dunia manusia, sementara di saat yang sama mereka harus menyelamatkan istri Flamel, Perenelle yang disandera Dee. Seluruh aksi dan perubahan magis dalam buku ini hanya dalam waktu 1-2 hari, sehingga bisa dibayangkan betapa cepatnya cerita bergulir dan betapa banyaknya aksi perang sihir maupun perang fisik yang terjadi. DI penghujung kisah, Josh dan Sophie harus menghadapi kenyataan bahwa mereka berdua adalah sang kembar legendaris yang akan menentukan nasib dunia, si emas dan si perak, satu akan menyelamatkan dunia, dan satu akan menghancurkan dunia.

            Sebagaimana buku-buku lain, sebuah buku fantasi tidak afdol rasanya kalau tidak ada pertempuran akbar. Di penghujung buku, Michael Scott akan menyuguhkan bagaimana ketika pasuka  Dee yang dibantu oleh Tetua Bastet—Dewi Kucing dalam mitologi Mesir dan  Morrigan—Dewi Gagak dalam mitologi Irlandia menyerang Alam Bayangan Dewi Hekate untuk merebut sisa Codex yang disembunyikan Josh. Dalam berbagai peristiwa aneh yang saling berkelindan ini, Josh dan Sophie harus menjalani takdir mereka sebagai senjata pemungkas, mereka harus menguasai sihir api, air, udara, dan tanah. Tapi, terlebih dahulu keduanya harus dibangkitkan, Sophie ternyata memiliki aura perak berbau vanilla, sementara aura Josh adalah perak, yang berbau jeruk. 

            Lebih dari semuanya, selain kepiawaian Scott dalam meramu adegan aksi yang seru, buku ini begitu kaya akan tokoh-tokoh dalam sejarah dan juga mitologi. Dr. John Dee maupun Nicholas Flamel adalah tokoh yang benar-benar hidup di Abad Pertengahan. Begitu pula, dalam novel ini semua mitologi bangsa-bangsa di dunia seolah saling berkelindan dan menyatu, membentuk Ras Tetua dan Alam Bayangan mereka. Selian itu, novel ini juga kaya akan pelajaran dan data sejarah—yang ternyata bisa dipelajari dengan begitu mengasyikan lewat novel karya Scott ini. Semuanya kemudian mengarah pada satu mitos yang sama, mitos yang diakui oleh hampir seluruh kebudayaan di dunia kuno, yakni Mitos Banjir Besar. Bahkan, dengan cerdik Scott mampu meyakinkan pembaca bahwa tokoh-tokoh terkenal dunia seperti Flamel, Dee, Gilgamesh, William Shakespeare, Billy the Kid, Joan of Arc, Lord Mushahi, dan Nicollo Machiaveli (yang mereka ini adalah tokoh-tokoh nyata dalam sejarah) adalah para manusia abadi yang kekuatannya dibangkitkan oleh para Tetua yang memilih mereka.

Semua mitologi dan petualangan ini, diramu dan dijalin begitu rupa dengan asyiknya pada satu kejadian akbar yang begitu rupa menginspirasi peradaban manusia, yakni runtuh antau tenggelamnya pulau Danu Talis (coba diutak-atik pasti mirip Atlantis) yang dikisahkan sebagai tempat tinggal Ras Tetua sebelum mereka pergi ke Alam Bayangan masing-masing. Dalam seri-seri selanjutnya The Magician, The Sorceress, The Necromancer, dan The Warlock; kisah ini akan semakin seru dan makin menunjukkan lini besar dari cerita yang hendak disuguhkan oleh Scott. Buku terakhir, The Enchantress direncanakan akan terbit 27 hari lagi, dan pembaca di seluruh dunia tengah menunggu kelanjutan sekaligus akhir dari petualangan dua kembar legendaris ini.  

Cobalah membaca buku pertama ini, dan mulailah yakin bahwa terkadang, legenda merupakan kebenaran.

6 comments:

  1. ini ya, posting yang dilembur terus gagal diposting tgl 25 kemarin?

    ReplyDelete
  2. baru mulai baca serial nicholas flamel akhir2 ini mas? *sama doong hehe* bukunya keren banget ternyata, dan aku baru nabung2 buat beli serial selanjutnya.
    oia kok kalau ngereview, kayaknya tulisannya serius banget ya, gak kaya tulisan lain (yg giveaway), banyak lawakan ga jelasnya?? -.-''' hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahahaha saya dah baca sejak tahun lalu. khusus u/ review kudu serius hehehe

      Delete
  3. loh seri Nicholas Flamel belum direview toh? bukannya udah baca semua? Sukaaa banget sama seri ini, awalnya agak takut karna pure fantasy g ada romancenya :))

    ReplyDelete