Search This Blog

Monday, February 20, 2012

The Lost Hero

Judul    : The Lost Hero
Pengarang      : Rick Riordan
Penerjemah    : Reni Indardini
Penyunting      : Silvero Shan
Cetakan           : 1, Januari 2012
Tebal               : 586 halaman
Penerbit           :Mizan Fantasy




           Apa jadinya ketika dewa-dewi Yunani dan Romawi ternyata masih berjalan di antara kita di era modern ini? Bayangkan bagaimana serunya jika pahlawan-pahlawan kuno yang selama ini hanya ada dalam mitologi dan film ternyata benar-benar menapak di dunia yang sama dengan kita, para manusia fana? Sungguh pasti akan seru sekaligus menegangkan sekiranya kita mengetahui bahwa monster, Cyclops, para penyihir, dan satyr itu ada di luar sana, tersembunyi di balik kabut. Keajaiban mitologi, mungkin para ahli sejarah dan antropolog akan menyebutnya demikian. Sejak lama, manusia dari masa-masa awal peradaban memang sekali bertanya-tanya dan terkagum-kagum dengan fenomena alam di sekitar kita. Matahari yang bersinar, pelangi yang tujuh warna, hingga petir yang membelah angkasa. Semua itu menakutkan sekaligus menakjubkan, juga sangat diluar batas-batas kekuatan manusia sebagai penghuni Bumi. Karena minimnya pengetahuan, manusia diawal zaman kemudian menyebut kekuatan-kekuatan Alam itu sebagai unsur agung yang dalam perjalan waktu lalu dipuja sebagai para dewa.

                Kemajuan peradaban Yunani dan Romawi, dua tonggak peradaban pertama yang memunculkan peradaban Barat, juga memiliki dewa-dewinya sendiri. Sebagian dari kita pasti mengenalnya karena dewa-dewi itu telah begitu rupa muncul dalam beragam kisah, film, dan mitos. Zeus, Hera, Apollo, Hermes, Demeter, Athena, Ares, Persephone, Aphrodite; mereka adalah dewa-dewi utama yang begitu dipuja dan diagungkan di masa lampau oleh bangsa Yunani dan Romawi. Personifikasi kekuatan mereka diulas dalam beragam mitos dan legenda dari masa-ke-masa, sehingga menjadikan mereka mewujud nyata dalam kehidupan modern saat ini. Keajaiban ini kemudian dimunculkan kembali oleh Rick Riordan melalui karya-karyanya. Jika Anda adalah penggemar Percy Jackson, Anda pasti tentang betapa hebatnya Rick Riordan dalam meramu mitologi Yunani menjadi bacaan populer yang menghasilkan pembaca dalam jumlah jutaan. Dia membawa dewa-dewi yang hanya ada dalam mitos itu ke dunia modern melalui teknik fiksinisasi yang luar biasa. Riordan mewujudkannya dalam novel dengan setting era modern: Gedung Empire State Building adalah Gunung Olympus, Segitiga Bermuda sebagai Laut Mediterania, dan Gunung Tamalpais di San Fransisco sebagai gunung tempat Titan Atlas menyunggi bola Langit agar tidak bertubrukan dengan Bumi.


             Seakan  pertempuran antara kaum blasteran bersama dewa-dewi Olimpia melawan para Titan belum cukup memuaskan dahaga para pembaca di serial Percy Jackson; Rick Riordan kembali menghadirkan sekuelnya yang tidak kalah seru, dengan pertempuran yang lebih intens dan dewa-dewi yang *uhuk maaf* lebih gila. Novel The Lost Hero sebagai seri pertama dari pentalogi The Heroes of Olympus merupakan sekuel lanjutan dari petualangan Percy Jackson bersama anak-anak blasteran lainnya. Dikisahkan, Percy Jackson hilang entah kemana, dan Annabeth yang ditugaskan untuk mencarinya malah menemukan tiga demigod (blasteran) yang hampir dikoyak oleh roh-roh badai di titian kaca Colorado : Piper, putri dari Aphrodite; Leo sang putra Dewa Penempaan Hephaestus; dan Jason—putra dewa Jupiter yang hilang ingatan. Dan, ketika ramalan diucapkan, telah ditetapkan jalan bagi ketiganya untuk mengambil alih peranan, menjalankan misi berbahaya, di mana di pundak ketiganya inilah bergantung nasib peradaban manusia yang berusia 5000 tahun.

             Singkat cerita, alur novel ini dimulai dengan Dewi Hera yang dijebak dan ditawan oleh sesosok kekuatan purba yang jauh lebih kuat dari Zeus dan para Titan sekalipun. Jurang Tartarus—lorong kegelapan di mana semua monster-monster jahat yang telah terbuyarkan dikirim—mulai mengeliat dan membangkitkan kembali sosok-sosok gelap yang dulu pernah menghantui orang-orang Yunani Kuno: Midas si sentuhan emas, Medea sang penyihir pesona, dan Anak-Anak Bumi yang akan segera bangkit kembali. Monster-monster lama dan orang-orang jahat yang hanya ada di dunia  mitologi mewujud diri kembali secara harfiah—bahkan setelah ditebas dengan perunggu langit. Para dewa Olimpia juga tidak menolong, Zeus menutup akses dari dan ke Olimpus sehingga seluruh dewa-dewi di sana dilarang melakukan kontak dengan para pahlawan demigod (anak-anak blasteran dewa-manusia fana).


             Musuh kali ini jauh lebih kuat daripada para Titan  Kronos atau Typhoon, namun  misi harus tetap dijalankan karena nasib dunia bergantung pada ketiganya. Dengan menelusuri ketidakpastian dan bimbingan dewata yang saling bercampur-baur, ketiganya menerobos bahaya untuk membuktikan bahwa mereka memang tiga pahlawan dari tujuh blasteran yang akan menyelamatkan dunia. Aneka petualangan pun mereka jalani, ibarat menelusuri ulang kisah-kisah mitologis dari Yunani Kuno; mulai dari menunggang naga logam, hampir dibekukan  di istana dewa angin utara Borealis (lokasinya di Quebec, Kanada), menjadi tawanan para Cyclops, bertemu dewa ramalan cuaca yang sinting, hingga akhirnya melawan raksasa pertama yang dibangkitkan kembali oleh sosok kekuatan purba yang seharusnya tetap tertidur.

             Bertiga, Jason, Leo dan Piper harus berjuang menghadapi beragam monster, Cyclops, hingga dewa-dewi sinting yang berkelakuan aneh sementara dewi Hera terus-menerus berteriak supaya dibebaskan. Masih belum cukup, ketiga pahlawan juga harus bergulat dengan perasaan mereka sendiri: Jason yang lupa identitas dirinya sendiri (dan ia mencintai Piper), Piper yang merasa telah mengkhianati Jason dan Leo demi menyelamatkan ayahnya (ia juga naksir Jason), serta Leo yang merasa selalu dianggap remeh dan tidak punya teman atau keluarga (ia sepertinya naksir pada setiap cewek baru yang ia temui). Namun, cinta, persahabatan, keberanian, kecerdikkan dan kebersamaan terbukti menjadi senjata paling ampuh, yang bahkan jauh lebih ampuh dari lembing Jupiter dan ramuan penyihir Medea. Misi pertama tersebut mengajarkan pada ketiganya, bahwa ramalan memiliki banyak sisi, dan bahwa berpandangan positif dan optimis itu terbukti lebih baik ketimbang menyerah dan berpikiran negatif.


             Karakter-karakter dalam novel inipun, sebagaimana kata beragam endorsementnya, kocak dan sangat Riordan banget. Jason sang pahlawan amnesia dengan koin ajaib yang bisa berubah menjadi tombak emas Juno. Piper sang ahli charmspeak (membujuk dengan pesona) dengan belati cerminnya, serta Leo yang kocak abis dengan sabuk peralatannya. Saya kira, pembaca akan sulit untuk melupakan karakter Leo yang unik ini. Kemampuan mekanisnya yang luar biasa, mungkin telah lebih banyak menyelamatkan ketiganya dalam misi ini. Leo dengan sabuk peralatannya yang bisa memunculkan alat-alat pertukangan yang ia butuhkan, mungkin karakter inilah yang paling tak terlupakan dalam the Lost Hero.


           Dalam The Lost Hero, Riordan memunculkan banyak dewa-dewi minor yang mungkin belum sempat diulas dalam Percy Jackson. Ada Borealis dan putrinya sang dewi salju, Aeolus sang Dewa Angin, Hypnos dewa tidur, hingga sedikit bocoran mengenai mitologi penciptaan semesta ala Yunani Kuno yang diawali dari Chaos kemudian mewujudlah Ouranos dan Gaiea yang menurunkan para Cyclops, Titan, dan Dewa-Dewi Olimpia. Sejumlah peristiwa yang dikisahkan dalam mitologi Yunani berhasil dilukiskan kembali dengan cara yang berbeda. Pelayaran Jason dan Argonaut, berdirinya peradaban Romawi, dan kisah raja Midas semuanya dikemas secara pas dan humoris dalam petualangan 3 demigod ini. Begitu padatnya pelajaran mitologi Yunani dalam buku ini, sehingga pembaca diajak untuk lebih banyak menelusuri dan mempelajari kebudayaan tua ini dengan mitologi mereka yang mengesankan. Plus, tambahan humor khas Rick Riordan yang kreatif luar biasa. 

          Kalau saya boleh menuliskan endorsement versi saya sendiri (*hasyah, siapa saya?), saya mungkin akan menulisnya demikian:

          Dikisahkan dengan begitu kocak dan orisinal seperti karya-karya Riordan yang lainnya, The Lost Hero adalah perpaduan antara kisah petualangan, sejarah mitologi, sekaligus hiburan yang luar bisa menyenangkan di jajaran rak perpustakaan.
 (Dion, Demigod Buku campur Buah)

Lima bintang untuk The Lost Hero.

6 comments:

  1. Kayaknya seru bgt, makin pengen baca >.<
    Btw, ini rencananya trilogi bukan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, yg sudah terbit di Amrik Lost hero sama Son of Neptune. Seri terakhirnya mark of Anthen kayaknya *sotoy yah saya hahaha

      Delete
    2. ya ampun ketinggalan banget deh aku, blm baca satupun buku riordan *blush* kayanya mending mulai dulu dr percy ya?

      Delete
    3. Hehe iya, sebaiknya baca Percy dulu biar ngak njomplang :))

      Delete
    4. baca dari red pyramid aja..
      lebih seruan red pyramid dari percy :D

      salam kenal ya :

      Delete