Search This Blog

Saturday, February 18, 2012

Hex Hall

Judul              : Hex Hall
Penulis           : Rachel Hawkins
Penerjemah    : Dina Begum
Pemeriksa aks.: Helena Theresia
Cetakan           : 1, Oktober 2011
Penerbit           : Ufuk fantastic Fiction


            Jangan-jangan novel Harry Potterian lagi nih? Jangan-jangan Hogwart –want to be-lagi nih?Begitulah pandangan pertama saya saat membaca bahwa Hex Hall. Hex Hall atau Hecate Hall (dinamai sesuai dewi sihir dalam mitologi Yunani) adalah  sebuah sekolah khusus untuk para Prodigium, yakni para keturunan tiga malaikat yang diusir dari surga. Tempat di mana penyihir, shape shifter, peri, dan vampir bisa “bersekolah” sekaligus terlindungi dari dunia manusia. Hmm … mirip Harry Potterkah? Tunggu sebentar. Walaupun ide dasarnya mirip dengan Hogwart, Hex Hall menawarkan sesuatu yang baru.  Sihirnya mungkin sama, namun penulis menyuguhkan sebuah pandangan baru tentang komunitas gaib di Hecate Hall yang jauh lebih beragam, lebih unik, dan entah bagaimana terasa sangatfresh. Penulis mengusulkan asal-usul baru dari sejarah sihir:

            “Setelah Perang Akbar antara Tuhan dan Lucifer, malaikat-malaikat yang menolak untuk memilih berada di pihak mana dibuang dari surga. Satu kelompok memilih untuk menyembunyikan diri di bawah perbukitan dan di hutan belantara. Mereka menjadi peri. Sekelompok lainnya memilih untuk hidup di antara binatang dan menjadi shapeshifter (manusia serigala dan manusia penyulih wujud). Dan kelompok terakhir memilih untuk berbaur dengan umat manusia dan menjadi penyihir. (35).

          Unik bukan? Dari titik inipun, Hex Hall sudah mampu menumbuhkan konflik dan alur cerita yang potensial ke depannya.
          Secara garis besar, Hex Hall bercerita tentang kisah Sophie Mencer, seorang anak remaja yang masuk Hex Hall karena penggunaan sihir d depan umum. Dia merapalkan mantra cinta untuk temannya yang ingin dicintai oleh cowok paling populer di sekolah. Ibunya kemudian memasukkan Sophie ke Hex Hall, berharap agar Sophie dapat belajar sihir dan hidup aman bersama kaum Prodigium lainnya. Tetapi, apa yang didapatkan Sophie di sekolah kuno itu ternyata jauh lebih dari bayangannya.  Dia sekamar dengan seorang vampir—satu-satunya vampir aktif di Hex Hall, bersitegang dengan 3 cewek penyihir hitam, dan (uhuk) jatuh cinta dengan seorang warlock (penyihir pria). Seakan semuanya belum cukup aneh, Sophie dihantui oleh hantu bergaun hijau yang mengaku sebagai leluhurnya.

            Perlahan, Sophie mulai memahami bahwa dunia Prodigium bukanlah sebuah dunia yang aman, di mana ia bisa terbang dengan sapu terbang ke manapun ia suka atau merapalkan mantra cinta sekehendak hati. Hecate Hall dibangun untuk mengantisipasi dunia luar yang tidak ramah bagi para Prodigium: yakni dari manusia-manusia yang anti-penyihir dan pembasmi mahkluk aneh. Jika dalam kisah-kisah lain, manusia biasalah yang terancam, maka di dunia Hex Hall yang terancam adalah para penyihir, shape shifter, dan peri. Paling tidak, ada tiga musuh utama dari kaum Prodigium, yakni kelompok badan pemerintah yang disebut Aliansi, tiga bersaudara pembasmi dari Irlandia,  dan kelompok rahasia dari Roma yang menyebut diri sebagai Mata Tuhan. Ketiga kelompok inilah yang bertanggung jawab dalam berbagai upaya pembunuhan dan pembasmian ratusan ribu kaum Prodigium (bahkan prodigium yang baik sekalipun). Nah, inilah sisi unik dari Hex Hall, pembalikan peran. Apa yang dulu dianggap mengancam, kini balik menjadi pihak yang terancam.

           Ketika muncul kasus gigitan vampir yang menimpa salah satu siswi, teman sekamar Sophie menjadi tersangka utama. Dan ketika kejadian itu terulang tiga kali berturut-turut, Sophie terpaksa harus kehilangan teman terdekatnya yang untuk sementara “diamankan”. Tidak sampai di situ, sebuah fakta baru mendera Sophie, salah seorang dekatnya ternyata memiliki tato anggota Mata Tuhan, dan dia berkeliaran bebas di Hecate Hall sambil merencanakan pembasmian penyihir. Dan, ketika Sophie menjumpai bahwa orang yang selama ini begitu ia percayai ternyata adalah sesosok demon, kisahnya jadi semakin rumit dan sekaligus seru. Banyak sekali twist atau pelintiran cerita di bagian akhir yang akan membuat pembaca manggut-manggut memuji keahlian sang penulis dalam “mengantisipasi” tebakan pembacanya. 

            Keunikan lain dari Hex Hall adalah rasa novel ini yang begitu “teenlit”, perpaduan apik antara fantasi dengan dunia remaja yang normal dan apa adanya. Alurnya jelas dan simpel, konfliknya juga sudah terbangun dari awal, bahkan di bagian akhirnya pembaca akan menemukan kejutan-kejutan seru. Seakan-akan cerita sudah usai dan musuh dikalahkan, kemudian muncul fakta baru yang mencegangkan sehingga pembaca yang seolah sudah rileks kembali diajak menikmati klimaks cerita. Bagian awal Hex Hall mungkin datar, tapi begitu memasuki dunia Sophie Mencer, pembaca akan terpikat dengan dunia Hecate Hall. Sayangnya, ada sejumlah typo di bagian awal, walaupun hanya sedikit dan tidak terlalu kentara. Konfliknya pun agak pelan di tengah, jadi harus agak sedikit bersabar. Namun, kovernya nan memikat (seperti biasanya, salut untuk Penerbit Ufuk) dan fontnya yang nyaman dibaca, membuat Hex Hall novel yang cocok dibaca dengan santai di akhir pekan.

3 comments:

  1. Saking teenlitnya aku ga gitu suka~ konfliknya kurang seru dan endingnya juga masih ngambang..

    ReplyDelete
  2. Iya teenlitnya itu lo, aku sih suka idenya sama ada kelompok2 tandangan yang mengancam prodigium ini. Sayangnya, unsur ini malah kurang dikembangkan sehingga nanggungnya amat sangat hehehe. padahal, dasar dari hex Hall sudah bagus, cm konfliknya agak kurang

    ReplyDelete