Search This Blog

Tuesday, November 15, 2011

Harun dan Samudra Dongeng

Dongeng yang metaforik mungkin adalah ungkapan yang cukup tepat untuk menggambarkan novel ini. Dipenuhi dengan aneka  kisah di negeri antah berantah, dan juga dimulai dengan statemen khas, “Pada suatu ketika, di negeri Alifbay, terdapat sebuah kota yang sedih … (hlm 11), sudah mengindikasikan bahwa buku ini adalah tentang sebuah dongeng. Pertanyaannya, akan jadi seperti bagaimana sebuah dongeng jika diceritakan atau dituliskan oleh seorang penulis sekaliber Salman Rushdie yang pernah mengegerkan dunia ini. Jawabannya adalah sebuah dongeng yang sangat kaya, kaya makna maupun kaya akan keajaiban imajinasi.

12823301

Dikisahkan di negeri ALifbay hidup seorang tukang cerita bernama Rasyid Sang Samudra Khayal dan putranya Harun. Rashyid hidup sebagai seorang pencerita sementara Harun sangat bangga dengan ayahnya itu. Walau orang sering mengejek ayahnya sebagai tukang berkhayal dan suka omong kosong, namun Harun bangga karena ayahnya mampu membahagiakan orang dengan ceritanya. Hingga akhirnya suatu peristiwa memilukan terjadi, istri Rasyhid lari bersama pria lain karena ia tidak tahan hidup dengan seorang pengkhayal. Rashyid begitu terpukul hingga ia tidak mampu mendongeng lagi. Harun juga mengalami pukulan telak sehingga ia tidak mampu mengingat sesuatu lebih dari 11 menit.

 Harun hanya menganggap dongeng hanyalah dongeng hingga pada suatu malam ia memergoki seorang jin air bernama Jikka, yang selama ini memasok dongeng dari Samudra Arus Dongeng kepada Rasyhid. Harun pun mengikuti Jikka ke negeri sumber dongeng, yakni bulan Kahani—bulan kedua Bumi yang selama itu tidak pernah terlihat oleh mata orang awam akibat orbitnya yang berubah-ubah. Di bulan inilah terdapat Samudra Dongeng yang menjadi sumber segala dongeng di dunia.

            “…ini adalah Arus Dongeng, di mana setiap larik warna mewakili dan berisi sebuah cerita. Bagian-bagian yang berbeda dari Samudra itu berisi jenis cerita ang berbeda pula dab semua dongeng yang pernah diceritakan ataupun yang belum selesai dibuat bisa ditemukan di sini. Samudra Arus Dongeng adalah perpustakaan terbesar di seluruh jagat raya. (hlm 74)

Dan, samudra itu tengah sekarat. Raja Chupwala—negeri bayangan—yakni Khattam-Shud hendak meracuni samudra itu dengan racun sehingga mengancam dongeng-dongeng di dalamnya (dan juga di dunia).

            Dari sinilah dimulai petualangan Harun dalam menyelamatkan samudra itu. Bersama teman-teman barunya, Jikka, Tappi (burung bulbul mesin), Tukang Kebun Terapung, dan Cerewet; Harun menjadi saksi pertempuran besar antara negara Guppee dan Chup. Dia juga harus menghadapi sendiri snag raja bayangan Khattam-Sud serta menghentikan upaya peracunan samudra. Dan sekali lagi, bayangan (atau halangan) sekuat apapun pasti akan dapat dikalahkan oleh kreativitas dan imajinasi.

            Melalui Harun dan Samudra Dongeng yang sangat sederhana, ada banyak sekali pesan yang hendak diajukan oleh sang pengarang. Di balik kisah Harun yang berlayar ke negeri dongeng, Salman Rushdie mengungkapkan banyak hal besar, terutama adalah tentang pentingnya imajinasi. Samudra Dongeng yang diracun oleh mesin pembuat racun mungkin mengindikasikan sindiran sang pengarang tentang kalahnya kegiatan mendongeng terhadap televisi dan internet. Jika dulu orang tua sering mendongengkan cerita kepada anak-anaknya menjelang tidur, kini kegiatan itu telah tergantikan oleh film di TV atau membuka internet. Tanpa sadar, teknologi inilah yang meracuni dan dikhawatirkan dapat mengancam keberlangsungan dongeng itu sendiri. Melalui peperangan yang sebenarnya tidak diperlukan di bulan Kahani, pengarang mungkin juga hendak mengkritik dunia yang terlalu sibuk berperang sehingga melupakan betapa beragam dan indahnya Bumi yang mereka miliki.

            “Jika orang-orang Guppee dan Chupwala tak saling membenci”, pikirnya, “mereka mungkin akan bisa saling menemukan hal menarik. Perbedaan itu justru rahmat, seperti kata pepatah.” (hlm 129).

            Dongeng yang indah, dikisahkan dengan indah, dan juga diterjemahkan dengan luar biasa indah. Salut kepada para penerjemah dan editor yang mampu mempertahankan agar dongeng ini tetap sederhana dalam bahasa Indonesia. Permainan metafora akan menjadi lebih mengena dan tersampaikan ketika dibawakan secara sederhana, karena dalam kesederhanaan buku inilah tersimpan lapis-lapis makna yang luar biasa mendalam, sedalam Samudra Arus Dongeng itu sendiri.   

Judul : Harun dan Samudra Dongeng
Pengarang : Salman Rushdie
Penerjemah : Anton Kurnia dan Atta Verrin
Editor : Adi Toha
Pewajah isi: Eri Ambardi
Cetakan : 1, September 2011
Tebal : 224
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta





1 comment: