Search This Blog

Friday, December 9, 2011

Jakarta, Perjalanan Buku

                Dua event besar yang berkenaan dengan buku yang berlangsung di kota besar ini, tak kuasa memuncakkan kerinduan saya yang sudah hampir dari tiga tahun tidak bertandang ke sana. Dan, ketika berbagai undangan serta ajakan teman-teman hangat di sana terus mengalir dan mengajak saya untuk kembali menyambangi kota seribu kemacetan ini, maka semakin mantaplah saya untuk menyusun rencana dan target untuk datang ke Jakarta pada awal Desember 2011. Indonesia Book Fair, sebuah pameran buku yang konon paling besar di Indonesia, serta Festival Pembaca Indonesia, adalah dua event yang terus terang paling menggerakkan kaki ini untuk berkunjung ke Jakarta. Namun, lebih dari itu, kerinduan untuk bertemu langsung dan menyapa secara live teman-teman yang selama ini hanya bisa saling menyapa dan mencela di FB dan Twitter (hahaha) adalah tujuan utama dari perjalanan ini—tentunya dengan motif-motif silaturahmi yang tidak jauh dari buku juga :p.

 penampakan meja bookswap yg bikin heboh 


Menuju Sabtu, 3 Desember 2011 Indonesia Book Fair, Istora Senayan
            Jum’at sore saya berangkat dari Jogja dari Stasiun Lempuyangan. Bersama Kuro Myswalk, kereta ekonomi yang murah kami ambil demi upaya menghemat uang yang sedianya bisa digunakan untuk memborong buku-buku di sana. Kereta tiba di Stasiun Senen tepat  jam setengah tiga dini hari, waktu di mana orang-orang Jakarta masih bergumul dengan selimut. Tanpa angkot dan tempat yang jelas untuk dituju, Aku dan Kuro pun ngesot menginap alias numpang tidur di ruang tunggu penumpang yang kursinya keras itu. Menunggu fajar. Dan, setelah fajar menyapa dan setelah lapar perut terpuaskan oleh semangkuk bubur ayam, kami kembali ke loket stasiun untuk mengantri tiket kereta untuk pulang ke Jogja. Dengan muka kusut dan rambut kucel awut-awutan karena kurang tidur (Kuro tuh awut-awutannya asli random gara-gara ga bisa tidur di kereta wakakak), kami kembali berdesakan di stasiun. Belum ada bala bantuan menyapa. Kami terancam menggelandang di ibukota.

            Untung pertolongan pertama  pada kebingungan datang. Seorang teman kuliah yang tinggal di Jakarta menelepon dan menawarkan sedikit tumpangan. Beberapa detik kemudian, Ian (Adrian) juga menelepon menawarkan diri untuk menjemput. Bantuan dan pertolongan dari teman-teman Jakarta saat itu ibarat oase di tengah padang padat Jakarta (halah) bagi dua orang pelancong yang disesatkan oleh kurangnya persiapan wkwkwk. Setelah menumpang mandi dan dijamu oleh teman di daerah Kwitang (makasih ya teman), aku dan Kuro dijemput oleh salah satu anggota Ordo Buntelan yang ngakunya paling mirip ian, yakni Adrian. Ianlah yang dengan setia dan penuh kesabaran rela naik turun trans Jakarta demi menjemput tamu-tamu kucel dari Jogja ini. Makasih ya Ian, walaupun kayaknya kok naik transnya waktu itu muter-muter lama ya, entahlah. Lalu, tiga cowok manis ini akhirnya tiba di shelter Istora, sambil menunggu kedatangan sang ratu baca Indonesia yang asli baiiiikkk banget, Truli Rudiono. Berjumpa dengan beliau yang terhormat untuk kali kedua, tetap tidak bisa menghilangkan rasa kekaguman saya pada sosok yang teguh menautkan diri kepada kemajuan dunia perbukuan Indonesia  ini. Bersama rahib Tanzil Hernadi, keduanya mungkin merupakan dua sosok dewa-dewi dalam mayapada pembaca Indonesia. Auranya yang begitu akrab dan menghangatkan, persis seperti aroma buku yang baru dicetak, seolah menghilangkan kusut masai kita di perjalanan. (Sudah puas kan mbak Truli atas pujiannya? NB. Pujian ini dibuat karena brem Solo pesenan beliau ketinggalan di tempat temen saya di Kwitang itu bwahahahaha).

            Akhirnya, setelah 8.5 jam kaki ketekuk di kereta ekonomi, aku sama Kuro bisa masuk juga ke Indonesia Book Fair nan kesohor mohor itu. Stan pertama yang dikunjungi, tidak lain tidak bukan, adalah Periplus yang diskonnya amit-amit deh itu diskon apa buang-buang buku? Masak udah didiskon 50% masih didiskon lagi 20%. Jadinya, buku seri Nicholas Flammel yang seharga 95rb jd Cuma 65% trus diskon lagi jadi sekitar 30-an ribu gitu deh. Pokoknya lucu banget lihat Mbak Truli dan Adrian (yang tumpukan bukunya sudah hampir roboh saking beratnya itu) kalap dalam mengambil buku ini buku itu. Kuro juga, dengan alasan sebagai bahan skripsi, dia ikutan kalap. Ck ck ck (lucu banget liat Kuro sama Ian mikir laamaaa banget buat beli buku ini nggak yaaaa—rupanya mereka masih ingat dosa tumpukan di rumah hahaha). Pantas kalap, masak Vampire Academy HC cm sekitar 30rb dan seri Narnia dan Ga Hoole Cuma 15rb (yuukk ngiler massal mare). Hanya saya yang tidak tergoda oleh setan diskon di Periplus.  Sebagai cowok yang masih waras (dan masih ingat kalo punya utang) cuma bisa geleng-geleng liat kelakuan tiga oknum tersebut.

            Tapi, sumpah godaannya nggak tertahankan. Kalo nggak liat antrean kasir yang mengular bak panjangnya bakmi kocok Bandung, pasti saya ikut-ikutan menggila dan rusuh. Untung sebuah wajah hangat dan ramah menyapa. Wajah khas Jawa Tengah yang ramah senyum dan adil-makmur, wajah mas Yudhi Herwibowo yang terkenal itu menyapa saya di depan IBF. Inilah kali kedua saya bertemu dengan penulis yang suka bagi-bagi buku itu. Dan, semenjak itu, entah mengapa jalan kami berdua seolah dipertautkan oleh jalur Pramex jurusan Jogja-Solo untuk jadwal keberangkatan pukul 15.15 dari Stasiun Balapan (eh mulai keluar jalur nih) hehee …Intinya, akhirnya saya mendapat teman seberdirian untuk mengamati tiga oknum yang tengah kalap dan menumpuk dosa di Periplus. Wakakakak … Lepas dari Periplus, ketiga oknum tribuku itu ke kantin untuk makan siang (harga makanannya jangan ditanya ya bo, mahal cyiiiinnnn *untung dpt subsidi dari manajer). Aku sama mas Yudhi giliran kalap di stan Gramedia yang memaksa menyewa satu ruang khusus. Ubek sana-ubek sini, cari pesenan Nophie Nos gak ketemu jg *map ya Nop Nop*. Karena perut ikutan lapar—dan karena buku walaupun sebegitu nikmatnya dibaca tapi tetap ga bisa dimakan—kami ikut nimbrung ke kantin. Eh iya lupa, sebelum ke kantin, saya jg sempat bertemu dengan Ahmad Bulguri (calon ordo buntelan yg baru) dan manajer kita Silvero Shan *untung Cessy yang segede macan kumbang itu nggak diajak ck ck ck* hehehe Seneng dan haru akhirnya bisa ketemu sang editor Red Pyramid yang kesohor itu.

            Setelah makan, acara kalap lanjut di stan Ufuk ck ck ck. Di sini harga makin menggila. Udah diskon 40%, buku2 lama dibanting sampe 15-20rb. Nah khusus untuk stan ini, giliran saya dan mas Yudhi yang kalap. Kalo nggak dicegah ma mas Sil dan Ian, mungkin habis tuh semua judul masuk ransel saya ck ck ck (Eh iya, dr Ufuk juga sambil beliin titipan Kota Para Pencuri buwat Nop-nop, akhirnya dapet, jd nggak ngerasa bersalah benget sih). Lanjut ke Dastan yang nggak beza-beza jauh murahnya, lalu ke stan-stan lain yang menyediakan buku2 berbahasa Inggris. Susah bener emang kalo ngikutin gaya belanja anak-anak Jakarta, mereka bacanya versi Inggris nek, keren phan? Pyuhh tak terasa ransel yang dibawa semakin berat, dan entah bagaimana nasib wayang Rama-Shinta titipan mbak Truly yang kegencet abis ma buku-buku. Agak sebel ketika bertandang ke stan DIVA Press karena saya nggak disapa ma yang jaga. Helowwwww…editor nih editorrr. Entah karena yg jaga anak dari cabang Jakarta atau muka saya yang terlalu pasaran, beliau berdua tidak mengenali saya *mewek bentar di bawah banner*

            Hehehe …lanjut ya. Rata-rata stan di IBF rame dan penuh sesak. Namun, stan yg paling rame adalah stan2 yang memberikan diskon pameran—artinya lebih dari 20-30%. Kalo kasih diskon cm 20% mah sama aja beli di toko buku diskon yg skalian bonus disampul. Tips buat para penerbit ni yee, kalo pameran itu hajar saja, jangan tanggung2 kasih diskon. Coba dipasang diskon 50% plus 20% trus plus lagi 35% pasti langsung habis tuh duit wkwkwk. Intinya, pembaca mengunjungi pameran buku adalah u/ mencari buku dgn harga yang lebih murah. Atau, kalau nggak, ya nyari buku yang susah didapetin di pasaran. Lah kalo diskon Cuma 15 -20% kan nanggung, udah sewa stan mahal-mahal eh pembeli dikit, mending diobral aja deh 60% gitu hitung2 amal dan bersihin gudang serta memindahkan tumpukan dosa ke oknum-oknum yang bersangkutan. Lah ini malah bahas marketing buku bwahahaha….


Mojok kecapekan di tribun penonton

            Capek mendera, peluh menyapa, maka tempat duduk di tribun pun seolah terlihat sebagai sofa nan mengundang pantat yang sedang kelelahan. Akhirnya, kami mendeprok massal di tribun, sambil saling liat buku-buku apa yang jadi korban kalap dan berpeluang menjadi the next sins wkwkwk. Saat rehat itulah akhirnya saya bisa menyapa sis Daniella Jaladara (yang hobinya jalan-jalan dan cerpen fantasinya di FF 2010 adalah yg pertma kali saya baca—ya iyalah hahaha) dan mas  Adi Toha (yang langsung syaa todong dengan lanjutan Valharadnya wkwkwk). Lalu datang pula sis Noviane Asmara bersama Silvero yang ternyata juga ikut kalap di Periplus. Eh si Ian mana? Kabur kemana tuh guide guwe…jiah ternyata dia mo kondangan sodara-sodara (kapan dikondangin bro? wkwkwk). Nah karena semua oknum udah kumpul, kumatlah penyakit lama a.k.a poto-poto narcis dah. “Jepret jepret gantian donk! Eh kamu geser! Eh poto lagi donk! Ih kurang narcis…ulangin ya! Jeprett Upload ahhh” dan berbagai pernyataan khas lainpun mengisi sela-sela kosong di ruang istora Senayan Jakarta. Puas dan senang sekali bisa narcis sama kalian guys. Foto dari kamera mas Yudhi mana nih …

Minggu, 4 Desember 2011 … Menuju Festival Pembaca Indonesia
GOR Soemantri Brojonegoro, Kuningan
            Hari kedua, setelah saya, Kuro, dan Bulguri mendapatkan penginapan dari salah seorang sobat terbaik saya di Serpong (aih temen akyu emang baik-baik semua yah *kecup satu-satu), kami langsung menuju ke Pasar Festival. Kali ini, naik kereta dan taksi juga dibayarin. Ampon dah kurang baik apa itu temenku si Dwi? (Udah boleh numpang nginep, eh transport dibayarin lagi ck ck ck smoga kamu segera diangkat jadi ketua BPK ya Dwi …amin!). Nah tiba di lokasi sekitar jam 11.00. Situasi udara panas, sekitar 30 derajat Celsius kalo ngukurnya pake penggaris mistar. Di arena itu, dipasang tenda putih guedeee yang telah disekat-sekat sesuai stannya. Ada stan BBI, kastil Fantasi, Banned Book, toko kelontong sihir, penerbit Mizan, child corner, pro-resensi,dan terutama Pulau Seribu Buku yang paling rame tentu saja. Belum apa-apa, saya sudah ditodong mbak Truli buwat bantuan nyampyul. Yeee …belum juga keliling2 eh udah disuruh nyampul. Si Kuro udah kabur aja tuh ke kastil fantasi sementara Bulguri sibuk muter2. Saya dipaksa duduk di belakang Pulau Seribu Buku buwat nyampul. Miris ga? Tapi ya demi profesionalisme dan keadilan yang adil bagi seluruh rakyat, saya pun ikhlas bantuan nyampul … yang cuma bertahan  dengan menyampul dua buku wakakak.

            Dengan alasan teknik menyampul saya kurang yahud, saya minta ijin untuk kabur *tepatnya sengaja kabur* buwat muter2 menyambangi meja Book Swap. Udeh deh tukerin buku-buku modal wahahaha. Setelah puas muter bentar—yang menghasilkan dua buku gratis dari Mbak Dina (horeee akhirnya bisa ktm ma Mbak Dina yang cantiikkkk dan baikkk) dan mas Andry Chang (Thank you adminal, silakan dilanjut ke tulisan selanjutnya, ganti hehehe)—saya balik lagi ke stan BBI. Itupun karena kasian liat Ine, Bea, Helvry, ma Esi yang kelimpungan diserbu pengunjung yg ingin menyimpulkan bukunya. Ya itung2 setor muka lah walo Cuma bantu-bantuin motong kertas sampul sama nempelin selotip. Baru nyampul satu buku, si Ian nongol dan ngajak makan. Gila ni anak, muncul tanpa permisi dan tiba-tiba ngajak makan. Lah, buku gw masih dikit nih wkwkwk. Tapi demi melihat mukanya yang melas kayak 5 hari belum makan umbi talas, dan memang karena dari pagi saya juga belum sarapan, ya udah kita cari makan di pasar festival. Untung Mbak Dina ma Bulguri ikut, kalo nggak bisa diputer-puter lagi nih ma Ian keliling Jakarta wkwkwk. Untuk acara makan nggak usah diceritain, secara ini adalah wisata buku bukan wisata kuliner xixixi.

            Balik lagi ke IRF, anak2 BBI udah pada kusust masai. Entah jarinya keriting karena nyampul apa ngebet nyerbu book war, mereka menimpakan stan buat dijaga ma aku dan Bea. Ampon dah! Ya udah kita menyampul semampunya. Kalo nggak salah sih aku cuma nyampul berapa gitu, entah buku siapa aku juga nggak tauJ. Nah sekarang gantian cerita tentang bookwar. Seluruh peserta diminta membawa satu atau dua buku untuk ditukar dengan salah satu atau salah dua buku yang digelar di meja book war. Syaratnya, nuker bukunya harus dalam waktu bersamaan dan…rebutan. Inilah yang bikin seru karena buku yang dipersilakan buat diperebutkan sebenarnya banyak, tapi yang jadi inceran jumlahnya cuma 5-6 buku, sementara buku-buku lainnya hampir tidak dilirik. Seru sekali saat liat para peserta yg ganas-ganas berusaha rebutan buku Diary of Wimpy Kid, Pollyana, Da Vinci HC, dan masih banyak lagi. Siapa yang tangannya panjang dan jarinya gede bakal menang tuh. Aku aja tarik2kan diary wimpi kid sama sekitar 5-6 peserta wakakaka …aku ngalah deh (pdhal kalah cepet). Lucunya, aku sempet tarik2kan Pollyana ma Ana BukuMoo dan satu cewek lagi entah siapa. Dan sesudah dapat, malah bingung ini dibaca or nggak. Pas liat buku itu dipajang Cuma napsu liat covernya yang bagus sih wahahah…(hayooo sapa mau swap hihihi).  Puas juga liat buku2 dari DIVA laris manis diperebutkan. Ngak sia-sia deh nodongnya hehehe.

Hebohnya perang buku, rebut sana sikut sini ancor dah awut2an ..btw aku yg pk kaos item di pojok kiri bawah hahaha

            Pokoknya acara bookwar kali ini sangat seru—dan menurut panitia juga paling ganas. Mbak2 yang jd MC ampe serak tereak2 sama para peserta yang susah diatur. Wong disuruh maju satu langkah eh cuma maju 5 cm. suruh geser kiri 3 langkah, eh malah cuma pandangannya yg geser hahaha. Lha mo geser gimana, orang peserta yang di sampingnya ga mao geser. Repot dah tp seru. Dan aba-aba dimulai…satu dua tiga empat (lama bener sih ngitungnya)…lima duarrrr dan tangan-tangan panjang pun beraksi, buku terlempar ke sana-ke sini, badan terhimpit dan terdorong maju-mundur kiri kanan. Rasanya puas kalo bisa dapat buku yg diincar, tapi kalo nggak dapat buku inceran pun juga sudah cukup puas karena bisa berdesakan dengan peserta yang campur baur cewek dan cowok jiahhh kesempatan dalam keributan hahaha (saya akhirnya cm memungut buku2 bagus yang terabaikan wkwkwk lumayan dapat 9 Matahari, Twillight sama PJP yang nggak disentuh dan dilirik …kasian, sini sama om!).

            Eh iya, selain pamer stan yang isinya buku-buku dan hal-hal yang nggak jauh dari buku, ada juga panggung di sebelah (aduh itu utara apa selatan aku binun), pokoknya di belakang IFR lah. Kamren sih pada seru bahas fiksi fantasi yang diramein sama para penulis fantasi indo dan juga editor buku-buku fantasi. Ngak tau deh ada heboh apaan, salah kasih pertanyaan atau memang peserta yang terlampau bersemangat. Namanya juga fantasi hehehe. Di panggung yang sama, ada juga talkshow bersama mbak Windy Ariestanti dan mas penulis Kedai 1001 Mimpi itu sapa (aduh lupa maaf). Dan setelah itu baru deh diumumin pemenang penghargaan pembaca Indonesia yang kayaknya jatuh kepada novel Ranah Tiga Warna dari Gramedia apa ya? Saya lupa soalnya sibuk ngangkutin buku :p.

            Di IRF, saya juga akhirnya bisa ketemu langsung tokoh-tokoh penting di dunia perbukuan Indonesia. Ada mas Nasirun yang bahagia banget bisa dapat buku dua tas, ada si Momo yang banyak diperbincangkan di TL itu, ada mas Lutfi Jayadi (horee akhirnya bisa ketemuan mas, dapat salam dari Kholik), ada mbak Endah Sulwesi (maaf mbak maaf bukannya saya alpa menyapa, hanya saya kan orangnya memang pemalu), ada mas Bonmedo Tambunan yang senyumnya terang benderang (*lirik oknum yang lagi sibuk menata buku), ada mas Andry Chang (makasih Fire Heartnya Admiral *hormat grak), mas Jimmy S (hehehe kapan2 saya ditelepon ya diajak siaran), mas Harun Harahap (wah kalo rumah saya deket pasti sering ikut mas acara bedah buku or resensinya), si Fauzi Pahrezi (Fablehavennya mana?), Esi (ih rame ya nek kamu ternyata), Beatrice (Bea emang yg paling baik dan paling seru, kapan ke Jogja hahah), Helvry (waduh belm sempet foto bareng), Ana (ni Polyana nua mo nggak?) sama Fred juga (hai Fred!) wkwkwk dan teman-teman lain. Sapa lagi ya, duh moga nggak ada yang lupa saya sebutkan. Eh iya, belum bisa ketemu sama mbak Jenny Indarto huaaaaaaaaaaaaa (mewek di wadah buku obralan Periplus)

            Intinya, sumpah acara ke Jakarta kemarin rame banget serame-ramenya. Kalo bisa sih taon depan ikut lagi. Terima kasih para teman dan sahabat di Jakarta yang telah mau menampung tamu dari Jogja yang norak dan katrok ini. Makasih. Tanpa bantuan kalian semua, aku pasti lost in translation halah lost in Trans-jakarta. Makasih special buwat Esa dan Dwi, yang telah menampung kami, kalian sahabatku selamanya. Makasih buwat Ian yang dah jadi guide dan rela turun naik trans-Jakarta serta kasih titipan Trudi dan ungu-ungu dari mbak Jenni (luv yu mbak Jenni :p) . Makasih juga buwat mas Silvero karena mengijinkan saya untuk menjarah perpusnya. Terima kasih kepada mbak Truli Rudiono, sekali lagi and forever, its you who have introduced me into the best community in da’ world, Ordo Buntelan. Tanpa Anda, saya selamanya mungkin tidak akan pernah mengenal indahnya dunia buntelan. Sekian.

karung 1, karung 2, dan karung 3




Courtesy foto dari Daniella Jaladara, Ana Buku Moo, Yudhi Herwibowo, Rizki Indonesia, dan Truly Rudiono

13 comments:

  1. keren..... kalo rak bukunya udah penuh, bisa dikirim ke bandung aja mas dion. hehe

    ReplyDelete
  2. Wkwkwk memang sudha penuh nih, ngak tau mo dipindahin ke mana

    ReplyDelete
  3. hahaha seruuuu banget nih baca ceritanya!! jadi bisa ikut ngebayangin kehebohan yang terjadi =D sayang banget aku batal dateng ke IRF huhuhu...jadi masih ngutang ketemu mas dion deh! btw itu karung2nya kalo dibawa naik pesawat bisa bikin overweight kali yaaa untung naik kereta! hehe

    ReplyDelete
  4. hehehe itu masih ada satu tumpukan lagi mbak xixixi bayangin aja beratnya ampe 10 kg lebih secara bukunya tebal2 hehehe bsk lain kali ketemuan ya mbak

    ReplyDelete
  5. buseeet ceritanya panjang bener,, hehehe kliatan nih pasti seru banget ya jalan2nya. btw dion udah sering ya bersua dengan para tokoh2 perbukuan itu.. kemarin aku masih bingung, yang ini siapa yang itu siapa,,, jadi ngga kenal dan menyapa semuanya... huhuu.. salut deh buat perjuangannya dibela2in ke Jakarta, pulang-pulang bawa oleh2 buku dan pengalaman yang banyak! btw, aku udah ngga dendam kok sama pollyanna nya .. wkwkkw

    ReplyDelete
  6. Aku tidak butuh dipuji tapi butuh brem *tetep*
    Aku padahal udah sedia 20 buku buat modal anak2 Yogya bookswap/war. Akhirnya cuman dipake sama DIon, Kuro sama Bughory and Mas Nass

    Sst jangan tanya gimana makannya Dion
    Menunjukkan betapa laparnya dia dijalan hehe he
    Di Bookfair makan siang sekitar jam 1 eh jam 6 udah makan malam
    Besoknya di IRF juga entah berapa kali dia makan

    Kalo enggak malu sama Kuro kayaknya dia mau tuh ngirim buku2 hasil jarahan by pos.

    RALAT
    saya cuman beli 2 buku di Periplus, sisanya ketiban ngantre bukunya Kuro and Adrian

    jadi bagaimana nasib brem saya??? *tetep itu*

    ReplyDelete
  7. @ana: hahahahaha iye ...aku malah bingung ni Pollyana buwat apa xixixi aku sih cuma nyocokin sama wajah mereka dfi FB trus sok kenal sok deket hahahaha pdhal baru pertama ketemuan :P

    @mbak Truli: jiahhh masih inget juga..ntar deh kupaketin ma Ingonya ...btw itu Tunnel series buat akyu ya wkwkwk ...sampeyan nodong punya mas Sil aja xixixixi

    ReplyDelete
  8. hahahaha... seruuu banget!
    aku masih belon bisa apa2. pulang dari jakarta, komputer ngadat, karena dicuekin 2 hari. jadi belon bisa posting2 dan nulis cerita perjalananku. ini aja aku di warnet, demi membaca laporan perjalanan mas dion... :)
    ada 2 hal remeh yang baru kutangkep: tenrnyata ada ratu baca (kirain cuma ratu ngebor aja, wakakak), dan senyumku yang adil maknmur itu hanya semu kog, sebenernya aku selalu galau, wakakak...

    ReplyDelete
  9. @mas Yudhi: hehhehe iya ni laporan perjalanan kepanjangan ya xixixi ...iya kalo Ratu Baca tuh ya mbak Truli yg mungkin nambah lg jd Ratu Brem hohohho ...jiah kok galaow lagi (bilangin ke Ratu Brem lho! *ngancem:p)

    ReplyDelete
  10. Aku dan Kuro pun ngesot menginap alias numpang tidur di ruang tunggu penumpang yang kursinya keras itu. Menunggu fajar. Dan, setelah fajar menyapa dan setelah lapar perut terpuaskan oleh semangkuk bubur ayam, kami kembali ke loket stasiun untuk mengantri tiket kereta untuk pulang ke Jogja
    hee??? salah ketik atau gimana to mas? tapi tulisan perjalanannya mantap. jadi serasa hadir di sana.

    ReplyDelete
  11. wakakaka kocak dan seru ceritanya, hasil jarahannya mana? masak itu doang?

    ReplyDelete
  12. eh akhirnya bisa komen juga :))

    Oooh jadi selama ini aku sering dijadikan bahan perbincangan di TL? gituuuu??? -___-

    btw btw itu pesen tiket pulangnya pas langsung pas sampe jakarta?? bukannya pulangnya terundur yah? :P

    ReplyDelete
  13. @Sulis: wkwkwk jarahan yg lain disembunyikan hahaha

    @Mery: Ia, seharusnya Senin pagi ternyata Senin malam hehehe kudunya sih beli tiketnya jauh2 hari sih biar ngak kehabisan

    ReplyDelete