Search This Blog

Friday, November 11, 2011

What Left of Us

Judul                : What Left of Us. Sebuah Memoar
Penulis              : Richard Farrell
Penerjemah      : Mahir Pradana
Editor               : Ninus D.A
Proofreader      : Resita WF, Christian S.
Cetakan           : Pertama, 2011
Tebal                : 341 halaman
Penerbit            : Gagasmedia



            Memang, tidak ada gunanya menyesali masa lalu. Namun, terkadang, sedikit menengok ke masa lalu dapat membantu kita untuk menutup lubang yang selama ini mengerogoti jiwa dan masa depan kita. Seburuk apapun masa lalu, semua garisan takdir memiliki ujung-ujungnya sendiri, yang sering kali menyembunyikan kejutan-kejutan dalam kehidupan. Lebih dari itu semua, menengok kembali ke masa lalu dapat membantu kita untuk lebih jujur, baik kepada diri sendiri dan juga kepada orang lain. Kejujuran untuk mengakui masa lalu inilah yang sering kali menjadi langkah pertama untuk memaafkan diri sendiri dan kemudian melangkah maju menatap masa depan yang lebih baik. Sebagaimana penuturan seorang mantan pecandu narkoba bernama Richard Ferrell berikut.


            Hampir tidak ada yang tersisa dari kehidupan seorang Richard Farrell. Dalam usia 20-an tahun, ia jatuh dalam cengkeraman heroin dan valium. Istrinya memutuskan untuk menjauhinya, tidak lagi menginginkan kedua anak mereka menyaksikan ayah tercinta mereka teler karena narkoba. Sahabat-sahabatnya juga menjauhinya, bahkan ia kini punya sahabat baru, para polisi dan penegak hukum yang berusaha menangkapnya. Hari demi hari, malam demi malam, dihabiskan oleh Richie untuk menyuntikan madat laknat ke dalam pembuluh darahnya. Tidak terhitung sudah berapa banyaknya luka bekas suntikan yang menghiasi lengan dan tubuhnya. Bersama orang-orang yang juga senasib-sependeritaan, Richie semakin terjerumus dalam dunia hitam. Kriminalitas, pencurian, aksi anarkhis, perkelahian, seks bebas, dan menggelandang tak tentu arah menjadi kegiatan sehari-hari. Akhirnya, satu kejadian dramatis menyadarkan Richie, dua teman pecandunya—yang sangat akrab dengannya—tewas akibat overdosis. Sejak saat itu, Richie merasa seolah telah disentuh oleh Yang Kudus sehingga ia bertekad untuk menghentikan kebiasaan madatnya. Ia memutuskan untuk masuk ke sebuah panti rehabilitasi, Lowell Detox.

            Sayangnya, panti rehabilitasi pecandu narkoba itu juga menawarkan dunia yang kurang lebih serupa. Berkenalan dengan beberapa penghuninya, mengetahui masa lalu mereka dan apa-apa yang mereka kerjakan, malah semakin membuat Richie depresi. Bebas dari heroin, ia jatuh dalam pengaruh obat-obatan penenang seperti valium. Di panti rehab ini juga Richie mengalami berbagai pelajaran dan pengalaman berharga melalui ketidaksempurnaan dan kemalangan kehidupan teman-temannya sesama mantan pecandu. Mulai dari Mike yang sempurna-tapi-tertimpa-kemalangan-hingga-gila dan juga Marry yang mantan pekerja seks komersial. Rata-rata mereka juga sama-sama menderita depresi sehingga makin kelamlah jalur hidup Richie di panti itu. Melalui memoarnya, penulis dengan detail mengambarkan betapa suram dan gilanya keadaan di panti itu, pembaca tidak mungkin lagi mendapat untaian kalimat yang lebih tepat untuk menggambarkan kegilaan di panti rehabilitasi itu:

            “Kami semua sinting. Tidak pernah ada kedamaian di tempat ini. Selalu saja ada kegilaan-kegilaan yang terjadi, satu demi satu. Jika diibaratkan, semua orang di tempat ini adalah barang rusak. Bahkan petugasnya pun demikian.” (hlm 281)


            Pembaca memang harus bersabar membaca memoar ini, mengingat isinya lebih banyak megulas tentang kemalangan demi kemalangan yang menimpa Richie sejak ia jatuh dalam jurang narkoba. Hal ini seharusnya semakin menegaskan kepada awam tentang betapa mengerikannya dampak dari barang haram ini. Kehidupan Richie yang kacau-balau, yang penuh denganflashback memilukan, hingga ia menjadi pecandu narkoba ternyata berujung pada masa kecil dan remajanya nan kelam. Ayahnya, yang seorang mantan tentara, mendidik Richie dengan begitu keras. Atas nama kekuatan dan kejantanan, Richie dipaksa (lebih mirip disiksa) agar bisa menjadi seorang pria sejati, menjadi pemain sepak bola Amerika. Richie juga sangat muak dengan kebiasaan ayahnya yang suka memukul ibunya. Ketika memoar semakin ke tengah, semakin yakin pembaca bahwa ayah Richie ini memiliki andil utama dalam kehidupan Richie yang berantakan.

            Buku ini jujur tentang ketidaksempurnaannya. Jujur dalam arti tidak banyak hal-hal bahagia atau “pura-pura bahagia padahal tidak” di dalamnya. Ini adalah sebuah memoar yang sangat kelam tapi luar biasa jujur. Dengan gamblang, Richie menceritakan bagaimana cara mengisap madat, cara mencapai keadaan fly atau sakaw, hingga bagaimana rasanya ketika ada serat kapas yang masuk dalam peredaran darahnya. Masa lalu Richie yang kelam juga digambarkan melalui vulgarisme penceritaan hal-hal yang berkenaan dengan seksualitas—yang dalam memoar ini digambarkan dengan begitu jujur, terbuka, apa adanya karena memang demikian lah yang terjadi. Sekali lagi, ini bukan buku sastra. Buku ini adalah cermin buram dari sebuah kehidupan yang sebenarnya. Bahwa dunia itu kadang bisa menjadi tempat yang lebih keras di luar sana. Membacanya, Anda akan mampu merasakan betapa menderitanya kehidupan para pecandu itu.

            Lalu, bagaimanakah ujung dari kehidupan Richie? Mengingat keahliannya dalam menuliskan buku ini, sudah bisa ditebak bahwa Richie kini telah mampu mengatasi kecanduannya. Ketika akhirnya ia berani jujur dan mengakui apa yang sebenarnya terjadi di masa lalunya, beban dan segala depresi itu seperti terangkat dari dadanya. Ia mau mengakui bahwa hidupnya memang tidak sempurna, dan memang tidak harus selalu sempurna. Pertemuannya dengan Dokter Levine telah membuka mata Richie, bahwa masa depan itu masih ada ketika kita benar-benar mau berubah.

            “Dengarlah aku, RichardJangan lupa kata-kataku ini. Yang paling penting adalah perbuatan kita pada saat ini. (hlm 323).

            Sebuah buku yang jujur tentang ketidaksempurnaan hidup. Yang justru dari ketidaksempurnaan itulah pembaca bisa menghargai hal-hal sempurna yang selama ini ada di sekitar mereka—yang mereka anggap sebagai ketidaksempurnaan. 




6 comments:

  1. paragraf pembukanya dalem banget....like it..:)

    ReplyDelete
  2. makasih hehehehe ... berapa meter dalamnya wakakakak

    ReplyDelete
  3. jiaahhh....*btw, izin memblog-roll ya...:)

    ReplyDelete
  4. wahhh kalo baca memoar emang harus sabar yaa...apalagi ttg pecandu narkoba gini =) nice review!

    ReplyDelete