Search This Blog

Friday, October 14, 2011

Para Pemuja Matahari

Judul                : Para Pemuja Matahari
Penulis              : Lutfi Retno Wahyudyanti
Desain Cover   : Yulia Qomariyah
Cetakan           : Pertama, 2011
Penerbit            : Kotak Permen
Halaman           : 260 halaman





            Unik! Kata inilah yang pertama kali muncul dalam benak sebelum dan setelah membaca buku ringkas namun cukup membuat iri para pecinta traveling ini. Buku traveling-bercerita memang tengah booming  di ranah perbukuan tanah air. Tidak sekadar menyajikan objek-objek wisata yang manrik untuk dikunjungi, rute menuju ke sana, dan perkiraan biaya; buku traveling-bercerita lebih menekankan pada sisi kemanusiaan sang pelancong. Artinya, si pelancong tidak hanya mendapatkan unsur rekreatif dari kegiatan travellingnya, namun  ia juga belajar berbagai kebijakan kehidupan dari orang-orang atau budaya-budaya yang ia temui selama melakukan perjalanan. Dan, Para Pemuja Matahari adalah salah satu buku traveling-bercerita yang membawa kisahnya sendiri.

            Judulnya yang unik, Para Pemuja Matahari¸ sekilas mengantarkan pikiran kita kepada suku-suku pribumi yang masih memberikan persembahan pada sang surya, begitu eksotis kedengarannya. Padahal, istilah ini oleh penulis digunakan untuk merujuk pada para pelancong atau travellers (termasuk juga pendaki gunung) yang begitu menantikan saat-saat terbitnya matahari. Entah itu di puncak Gunung Salak nan sunyi ataukah di hamparan pasir putih salah satu pulau di Karimun Jawa, matahari terbit selalu mendatangkan aroma mistis bagi para pelancong, sebuah saat sakral yang seolah hukumnya haram untuk diabaikan.

            Para Pemuja Matahari adalah kisah perjalanan Nay, gadis manis mahasiswi antropologi dari Jogja yang bertekad untuk mengelilingi pulau Jawa sendirian. Ia ingin membuktikan kepada mama dan teman-temannya, bahwa Nay yang feminim juga bisa melancong sendirian. Novel ini seolah ingin menegaskan kembali pepatah lama yang kiranya tak pernah usang dimakan zaman, Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Dimulai dari penjelajahannya ke dusun Badui Dalam, Banten, di mana penduduknya menolak semua bentuk teknologi dan mengisolir diri dari dunia luar selama dua ratus terakhir. Bagi para antropolog dan peneliti sosial, desa seperti Badui Dalam ini merupakan objek penelitian yang tidak ada bandingannya. Di desa ini, Nay menemukan fakta bahwa terkadang apa yang ditulis di buku tidak selalu sama dengan kenyataannya. Masyarakat Badui yang menolak teknologi, perlahan mulai terkikis akibat pengaruh para pelancong dari dunia modern yang menginap di sana.



                                                   inilah si Nay yg sedang menyamar :p


            Di Segara Anakan, Nay menjumpai betapa kemiskinan telah mengikis harapan warga di sana yang begitu pasrahnya sehingga membiarkan kemiskinan juga merebut harapannya. Di puncak Gunung Slamet, ia mengakui bahwa mendaki gunung dan melihat matahari dari puncak gunung ternyata tidak semenyenangkan kelihatannya, walau kepuasan itu benar-benar terasa saat kita berhasil mendaki puncak. Di Karimun Jawa, ia bertemu bule yang ingin melarikan diri dari rutinitas dan masalah kesehariannya. Dalam perjalanan ke Kawah Ijen, kedok Nay yang menyamar sebagai seorang cowok terbongkar—yang hampir saja membuatnya kehilangan kawan-kawan seperjalanan.

            Kelebihan Para Pemuja  Matahari terletak pada kesederhanaan dan penuturannya yang “remaja” banget, benar-benar ditulis apa adanya, yang menjadikan buku ini begitu khas dan membuat pembaca larut dalam dunia Nay. Hanya saja, ada kekurang konsistenan dalam  penggunaan sudut padang penceritaan. Kadang, penulis memakai sudaut pandang Nay sebagai orang pertama, namun di paragraf lain penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga, seperti ketika ia merujuk ke Nay sebagai “gadis itu”. Naskah ini juga sepertinya tidak melalui proses editing walaupun secara struktur kebahasaan Para Pemuja Matahari sudah lebih dari cukup untuk bisa menyeret pembaca ke alam petualangan si nay berkeliling pulau Jawa. Satu pelajaran dari buku ini, bahwa masalah akan muncul di manapun manusia berada. Di desa Badui Dalam nan sunyi, penduduknya menghadapi masalahnya sendiri, di pantai Karimun nan indah, para pelancong juga membawa beban beratnya sendiri. Masalah ada untuk dihadapi dan diselesaikan, bukannya untuk dihindari terus menerus.

            “Jadi, pelajaran berharga yang Anda dapat dari perjalanan ini adalah di mana pun kita berada, selalu ada masalah. Kita harus hadapi itu bukannya kabur ke tempat terpencil?” (halaman 200)       

            Kalimat penutup Nay, yang luar biasa keren, niscaya akan berhasil membuat iri siapa saja yang selama ini terhalang dari melihat dunia karena kurang sedikit berani.

            “Nah, kemarin akhirnya aku bisa jalan-jalan keliling Jawa. Nggak seperti yang aku pengen sih. Aslinya aku pengen ke tempat yang lebih jauh, lebih menantang. Kayak Irian atau Kalimantan. Tapi, aku belum berani. Aku juga belum punya cukup uang untuk itu. Tapi aku nggak akan nyerah. Aku akan pergi lagi lebih jauh lagi. Suatu saat nanti! Aku akan cari cara halal untuk ngejar itu. “ (halaman 257)


Selamat ya Nay, kamu telah berhasil membuat kami galau, kepingan banget bisa jalan-jalan keliling Jawa kayak yang kamu lakuin.
            

2 comments:

  1. Bagian ini yang membuat saya penasaran:

    Kelebihan Para Pemuja Matahari terletak pada kesederhanaan dan penuturannya yang “remaja” banget, benar-benar ditulis apa adanya, yang menjadikan buku ini begitu khas dan membuat pembaca larut dalam dunia Nay. Hanya saja, ada kekurang konsistenan dalam penggunaan sudut padang penceritaan. Kadang, penulis memakai sudaut pandang Nay sebagai orang pertama, namun di paragraf lain penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga, seperti ketika ia merujuk ke Nay sebagai “gadis itu”.

    TErimakasih

    Muhammad Fardiansyah

    ReplyDelete
  2. wkwkwk iya simpel tp emang bikin penasaran ..terima kasih ya

    ReplyDelete