Search This Blog

Friday, October 14, 2011

Life Traveler

Judul                : Life Traveler, Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan
Penulis              : Windy Ariestanty
Editor               : Alit T. Palupi
Proofreader      : Resita Wahyu Febiratri
Tata letak         : Nopianto Ricaesar
Cover               : Jeffri Fernando
Ilustrator           : Diani Apsari
Cetakan           : 2011
Tebal                : 381 halaman
Penerbit            : Gagas Media


            Dalam perjalanan, sesekali kita mesti berhenti (terkadang dipaksa berhenti) sejenak untuk mengamati dan menikmati proses. Ini bukan tentang tujuan perjalanan, tapi tentang perjalanannya itu sendiri. Bukan tentang bagaimana menuju Ha Long Bay dan Angkor Wat dengan budget minim, bukan tentang mencapai Menara Eiffel nan legendaris, atau segera pulang kembali ke Jakarta. Perjalanan dalam Life Traveler adalah tentang bagaimana menemukan sebuah rumah (home) di hotel kecil milik Miss Hang di Ha Noi, tentang mengunjungi sebuah warung kopi terpencil di pedalaman Cezka, dan tentang menemukan rumah singgah di sudut Bandara O’Hare. Terkadang, rumah (home) itu bisa muncul selama di perjalanan, bukan hanya di tujuan.

            “Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, wherever you feel peacefulness, you might call it home. (halaman 45).

            Life Traveler, sekali lagi muncul seorang penulis yang mengompori pembaca untuk bepergian melihat dunia. Dalam Life Traveler ini, Windy seolah ingin menegaskan ciri khasnya sebagai pelancong yang tidak hanya menyesap pemandangan atau objek wisata semata, tapi juga menikmati manusia-manusia yang ia temui di perjalanan. Keunikan dari setiap budaya, kuliner lokal, adat istiadat nan nyentrik, hingga hikmah-himah menawan yang bertebaran di perjalanan; semuanya adalah permata-permata yang sering kita abaikan dalam sebuah perjalanan. Di Vietnam, Windy malah lebih banyak mengisahkan pengalamannya menaiki bus tidur (Sleeping Bus) dan mengomentari batas kecepatan maksimal 40 km ketimbang mengisahkan seluk-beluk keindahan Ha Long Bay. Di Eropa, porsi tentang Menara Eiffel juga sedikit, malah ia lebih banyak bercerita tentang kawasan lampu merah di Amsterdam dan kota tua Praha. Sebuah sudut pandang yang berbeda, menghasilkan rasa yang berbeda pula. Dari awal saya sudah bilang, Life Traveler ini memang berbeda.

            Melihat subjudulnya, “suatu ketika di sebuah perjalanan”, Windy seolah ingin mengoreksi pandangan para pelancong yang selama ini hanya berfokus pada tujuan dan mengabaikan perjalanan. Padahal, terkadang porsi waktu yang dihabiskan untuk perjalanan mencapai tujuan sama lamanya (atau bahkan lebih lama) daripada waktu untuk menikmati tujuan itu. Lewat Life Traveler, Windy ingin mengingatkan kita, bahwa di dalam perjalanan itu juga terdapat pemandangan-pemandangan elok, yang kadang tak terlihat oleh mata lahir, tapi begitu memuaskan mata bathin. Ibarat kehidupan, prosesnya lah yang harus kita nikmati, bukan pencapaian. Waktu untuk menjalaninyalah yang merupakan anugrah terbesar dari kehidupan, di mana kita bisa bertemu orang-orang terkasih, mengalami pengalaman-pengalaman hebat—suka dan duka, beragam warna kehidupan yang selama ini kita abaikan karena kita terlalu sering berfokus pada hasil.

            Dituliskan dengan begitu indah dan filosofis, pembaca akan diajak melancong sekaligus merenung, diajak berwisata sekaligus belajar budaya baru, diajak melihat monumen-monumen megah sekaligus bertemu orang-orang hebat; lengkap dan komplet. Walau lebih menekankan pada aspek perenungan tentang hidup, Life Traveler tidak kehilangan unsur “jalan-jalannya” karena novel perjalanan ini juga dilengkapi dengan tips berwisata ala backpacker di Vietnam, Kamboja, dan Eropa tengah. Windy juga menyertakan foto-foto sangat “menarik perhatian” dengan tampilan yang halus dan menyentak, sehingga pembaca niscaya tidak akan bosan melihat deretan huruf dan kalimat beraroma filosofi kehidupan. 


            Terlalu banyak kutipan indah yang begitu menggoda untuk diselipkan, terlalu banyak pemandangan dan pengalaman luar biasa untuk diceritakan. Dan, itu semua tidak akan bisa muat dalam satu resensi kecil dari saya yang merasa belum pergi kemana-mana ini. Anda harus membacanya sendiri untuk bisa merasakan perjalanan penulis yang penuh warna dan juga penuh makna. Sebuah perjalanan pergi untuk kembali. Empat bintang untuk Life Traveler yang mengajarkan saya tidak hanya tentang melancong dan bersenang-senang, namun juga mencari sahabat dan kenangan di perjalanan.

            Dan manusia, pada kodratnya, selalu menemukan cara pulang ke ‘rumah’. Tak peduli dekat atau jauh jaraknya.” (halaman 78) 

NB: Terima kasih kepada Gagas Media atas hadiah Baca Bareng #BBI September 2011

3 comments: