Search This Blog

Tuesday, October 18, 2011

Fablehaven #1, Secret Sanctuary

Judul                : Fablehaven, Secret Sanctuary
Penulis              : Brandon Mull
Penerjemah      : Reni Indardini
Penyunting        : Suhindrati a.Shinta
Penyelaras aks  : Alfiyan
Illustrasi isi        : Sweta Kartika
Desain sampul  : Kebun Angan
Cetakan           : 1, Desember 2010
Tebal                : 452 halaman
Penerbit            : Mizan Fantasi



            Jika penulis sekelas Rick Riordan (pengarang seri Percy Jackson) saja memuji Fablehaven, maka sudah jelas bahwa novel ini menawarkan fantasi yang tidak tanggung-tanggung. Bayangkan Anda berada di sebuah suaka rahasia yang menyimpan aneka makhluk fantastis dari berbagai penjuru dunia. Bayangkan peri-peri, satyr, ogre, troll tebing, penyihir, hingga sapi raksasa dan naiad hidup dalam sebuah suaka yang melindungi mereka dari kepunahan. Bayangkan ada begitu banyak makhluk dari dunia fantasi seolah berlompatan dari satu buku luar biasa. Bayangkan, dan Anda akan menjumpai novel fantasi Fablehaven tergenggam erat di tangan Anda, tidak kuasa terlepas dari mata Anda.

            Kira-kira, seperti itulah yang dialami oleh Kendra dan Seth, dua kakak beradik yang terpaksa menginap di rumah Grandpa Sorensen. Lumbung rahasia dan ruang misterius hanyalah beberapa dari ribuan misteri luar biasa yang mengepung rumah tua itu. Ketika akhirnya Kendra memaksa diri meminum susu—yang katanya beracun—ia dan Seth segera menjumpai apa yang selama ini tersamarkan dari pandangan mereka. Rumah itu—dan hutan di sekitarnya—adalah suaka untuk makhluk fantasi. Susu itu menyebabkan mereka bisa melihat peri dalam bentuknya yang asli, bertemu dengan penyihir yang suka meniup simpul, serta manusia tanah liat yang kuat namun penurut. Sejak saat itu, dunia tidak lagi sama bagi Kendra dan Seth. Bahkan, ada pedagang peri yang membawa peri-peri khusus dari kepulauan Indonesia dan Borneo. Kreativitas dan pengalaman penulis dalam meramu fantasi sungguh sangat layak diacungi jempol.

            Melalui grandpa, keduanya belajar bahwa para peri bisa menjadi sangat sombong dan juga kejam—Seth belajar hal ini dengan cara yang sangat tidak menyenangkan, bahwa ada entitas-entitas gelap yang bernaung dalam kelebatan hutan, bahwa malam titik balik musim panas bisa menjadi malam yang benar-benar mengerikan. Satu hal yang pasti, Kendra dan Seth tidak akan lagi menganggap remeh dunia fantasi dan mahkluk2 di dalamnya. Ketika Grandpa diculik, keduanya harus berkejaran dengan waktu untuk mencari granma,  mencari bantuan dari ratu peri, sekaligus menjaga diri mereka sendiri dari beragam makhluk mistis penghuni suaka. Dalam keadaan genting tersebut, ketika Fablehaven terancam runtuh dengan bangkitnya sesosok monster kuno yang dibelenggu di sana, Kendra dan Seth harus mengerahkan segenap kekuatan dan keberanian mereka, ketika kahirnya sebuah perang epik antara  makhluk mitologis pecah di penghujung buku ini. Luar biasa seru!


            Sungguh, sangat jarang ada satu buku yang memaparkan begitu banyak makhluk-makhluk fantastis dengan alasan yang masuk akal. Cukup sulit untuk mencari ide yang pas agar beragam makhluk mitologis bisa dimasukkan dalam satu buku dan satu cerita. Kebanyakan buku mungkin hanya membahas tentang naga saja, penyihir saja, dewa-dewi kuno saja, golem saja, dan lain-lain. Tapi, konsep mengadakan sebuah suaka untuk melindungi makhluk-makhluk tersebut adalah ide yang luas biasa, yang menyebabkan penulis bisa berkreasi dan berimajinasi secara lebih bebas, yang menghasilkan sebuah karya besar Fablehaven. Novel fantasi ini tidak tanggung-tanggung fantasinya, layak dikoleksi oleh para pecinta fantasi sejati.

3 comments: