Search This Blog

Saturday, May 14, 2011

Centhini 2

udul                :  Centhini 2 Perjalanan Cinta
Penulis              : Gangsar R.Hayuaji
Editor               : Arini Hidajati
Penerbit            : DIVA Press
Cetakan            : I—September 2010
Tebal                : 420 halaman


Cover






            Buku Novel Centhini ini merupakan kelanjutan dari novel Centhini, 40 Malam Mngintip Sang Pengantin karya S.Wirodono. Dua buku berbeda, pengarang yang berbeda, namun dengan bangunan ruh yang sama: unsur kejawaan yang sangat kental. Membaca buku ini ibarat membuka babon atau ensiklopedia kebudayaan Jawa. Isinya merupakan jalinan sarat simbolisme antara unsur relio-metafisika dengan pernik-pernik keseharian masyarakat Jawa pedesaan, nilai-nilai tauhid Islam dan  sinkretinisme Hindu-Budha-Animisme yang masih tersisa di Jawa, petuah-petuah rumah tangga dan pelajaran tentang seksualitas; kesemuanya teramu secara apik dalam jalinan kisah tiga versi pencarian: Syekh Amongraga yang mencari makna sejati dari kehidupan, Tambangraras dan Centhini yang mencari-cari keberadaan suami tercintanya, serta Jayengraga c.s. yang dalam pencarian kepuasan syahwati dengan dalih encari Syekh Amongraga.

            Inti dari Serat Centini adalah kisah perjalanan Jayengresmi (Syekh Amongraga) dan kedua saudaranya sebagai bentuk upaya melarikan diri dari pengejaran Sultan AGung dari Mataram. Dalam pengembaraan itu, Jayengresmi mengalami pendewasaan secara spiritual melalui beragam adapt-istiadat model Jawa yang ia lalui, kampong-kampung yang ia masuki, dan tempat-tempat wingit yang ia datangi. Berbeda dengan seri pertama yang bersetting di desa Wanamarta, novel kedua ini adalah versi petualangan dari Serat Centhini. Isinya penuh dengan jurnal perjalanan dan upaya pencarian. Pada bagian pertama, pembaca akan langsung tersentak oleh pemaparan yang terbilang cukup vulgar untuk naskah kraton semacam Serat Centhini. Namun, perlu diingat bahwa banyak bagian dari serat ini memang membicarakan tentang seks, olah asmara, dan katurangan wanita.            

             Untuk mereka yang belum terbiasa, bagian pertama novel ini mungkin terasa sedikit agak vulgar, begitu menyesakkan karena padat dengan jalinan kisah olah asmara Jayengraga cs. Untungnya, pemaparan seksualitas secara marathon ini sedikit terdinginkan oleh bagian kedua dari novel ini, yakni perjalanan Syekh Amongraga beserta kedua abdi serta muridnya. Sungguh, mengikuti perjalanan beliau dalam buku ini ibarat menapaki tangga-tangga menuju kesadaran hidup yang lebih tinggi. Seiring dengan setiap desa dan tempat-tempat wingit yang didatangi, maka semakin tersadarlah Syekh Amongraga (dan juga pembaca) pada keagungan Sang Hyang Jagad.

            Sayangnya, keasyikan membaca novel unik ini agak sedikit terganggu dengan sisipan terjemahan asli Serat Centhini yang hanya disematkan sebagai catatan kaki. Formatnya yang kecil, dengan spasi yang mepet dan penataan yang “dipadatkan” membuat bagian terjemahan ini susah untuk dibaca. Terlebih lagi ada bagian terjemahan versi catatan kaki yang memunuhi seluruh bagian halaman, misal di halaman 235-236.

            Terlepas dari persoalan teknis tersebut, novel ini—bersama buku bagian pertama—merupakan media yang cukup menyenangkan untuk menguak kembali kekayaan dan falsafah kebudayaan Jawa nan ad luhung. Melalui kisah Centhini, kita bisa memandang nilai-nilai Jawa yang berat itu secara lebih manusiawi, lebih simpel, lebih “satu-per-satu” tanpa harus menghilangkan keagungan dari karyamasterpiece ini. Lalu, bagaimana kelanjutan dari pencarian Syekh Amongraga? Apakah Jayengresmi cs. juga mampu meraih kesadaran dari petualangan seks mereka? Dan apakah si cantik Den ayu Tambangraras dan Centhini mampu menemukan belahan jiwanya? Ah tidak seru kalau dibocorkan. Mending…baca segera biar lebih plong! Agar lebih lengkap dan seru, jangan lupa juga untuk membaca novel pendahulunya, Centhini, 40 Malam Menintip Sang Pengantin. Dari judulnya saja, kita sudah ingin mengintip isinya kan?

No comments:

Post a Comment