Search This Blog

Saturday, May 14, 2011

Dahsyatnya Kemauan (My First Buntelan)

Judul                : Dahsyatnya Kemauan
Penulis              : Ainy Fauziyah, CPC
Editor               : J.Rofarif dan M.Husnil
Penerbit            :Zaman
Edisi                 : I—2010
Tebal                :175 halaman


Maaf ya Serambi...baru jadi ni repiunya hehee

           Beda Kemauan dan Keinginan, Kemauan Takkan Terkalahkan oleh Kekecewaan


            “Dan, saat nama juara ketiga disebutkan, tiba-tiba saja badan saya lemas lunglai. Nama Ainy Fauziyah yang sebelumnya saya bayangkan akan disebutkan, tidak disebutkan sama sekali. Yang ada justru nama orang lain yang kebetulan saudara dekat guru kelas saya, yang saya tahu betul  bahwa nilai rapornya berada di bawah nilai saya”

            Kekecawaan kadang tetap saja muncul ketika kita telah berbuat benar dan merasa benar. Memang begitulah adanya, rasa kecewa bisa mendera siapa saja—orang baik maupun orang jahat. Hanya saja, rasa kecewa yang dialami oleh orang baik akan berbuah manis pada suatu saat kelak, sebagaimana yang dialami oleh ibu Ainy Fauziyah—salah satu dari beberapa orang di Indonesia yang memiliki sertifikat internasional Professional Certified Coach dan ICF.
            Membaca buku ini, saya teringat kembali dengan buku-buku psikologi populer yang pernahbooming beberapa waktu yang lalu. Mulai dari Emotional Inteligence karya Daniel Goleman yang fenomenal, The Seven Habits-nya Steven Convey,  7 Law of Happiness karya A Pradiansyah, hinggaHow to Find Friends and Influence People-nya Dale Carnegie yang sering dianggap sebagai salah satu “leluhur rujukan” dari buku-buku psikologi-motivasi. Buku-buku tersebut terbukti telah mengubah hidup dari jutaan orang-orang di dunia. Dan saya juga tidak punya alasan untuk menolak bahwa buku ini juga mampu melakukan hal yang sama.
            Buku ini ibarat versi “praktis” dari keempat buku babon motivasi populer di atas. Isinya simpel, benar-benar simpel, namun mengena dan begitu tepat sasaran. Pembahasan serta kemasannya begitu ringan, begitu enak untuk dibaca sambil santai dan mimik tidak diserius-seriusin hehehe. Materi di dalamnya adalah hal-hal umum, kebenaran-kebenaran umum, yang seharusnya sudah kita pahami namun sering kita lupakan. Buku ini datang untuk mengingatkan kita, bahwa semangat itu masih ada, masih bisa dinyalakan, masih bisa digunakan untuk mencapai kesuksesan.
            Tidak seperti buku-buku motivasi popular yang tebal dan berbau terjemahan, buku karya ibu Ainy ini begitu terasa unsur lokalnya—yang membuatnya mudah dicerap oleh orang awam. Bagian awal, buku ini mengajak kita untuk mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya. Dengan usil, ia mengajak kita untuk jujur pada diri, melihat apa kelebihan dan kekurangan kita. Karena, hanya dengan bersikap jujur maka kita bisa mempertahankan yang baik dan memperbaiki yang jelek dalam diri. Setelah berani melihat diri sendiri, buku ini mengajak kita untuk bersemangat, untuk memompa kemauan. Ia juga menunjukkan beda antara kemauan dan keinginan. Bahwa mau itu ditandai dengan adanya tindakan nyata, sementara keinginan hanya diwarnai oleh angan-angan semata.
            Tapi, terlepas dari segala kepraktisannya, buku ini tergolong masih “nanggung”. Sosok besar ibu Ainy beserta seluruh pencapaian dan kontribusinya masih kurang banyak ditampilkan (atau ini mungkin hanya pendapat saya sendiri). Yang jelas, saya belum bisa melihat secara penuh dengan membaca buku ini, seperti ada 10 % yang belum keluar. Namun demikian, dari kesederhanaan inilah keunggulan buku ini karena bisa dibaca oleh hampir semua kalangan. Sperti yang telah saya tulis di depan, buku ini hadir untuk mengingatkan kita kepada nilai-nilai kebenaran yang sering kita lupakan. Intinya, secara sederhana ibu Ainy telah berhasil menuliskan karya yang berdampak besar. Karena untuk mengubah yang banyak, kadang hanya diperlukan hal-hal yang sederhana namun berdampak besar. Seperti itulah tokoh-tokoh besar dunia melihatnya. 

kover

No comments:

Post a Comment