Search This Blog

Tuesday, November 23, 2021

Lebih Intim dengan Alam Semesta lewat The Intimate Universe

Judul: The Intimate Universe

Penulis: Marek Kukula

Tebal: 384 halaman, Oktober 2015

Penerbit: Quercus




Ada alasan mengapa fenomena-fenomena astronomi mendapat perhatian sedemikian besar dari khalayak. Gerhana matahari total, peristiwa blood moon dan blue moon, konjungsi planet Venus, gerhana bulan, hingga hujan meteor kini tidak lagi menjadi incaran para astronom, baik yang ahli maupun amatir. Warga awam kini juga turut merayakan peristiwa-peristiwa astronomis ini meskipun dengan peralatan yang seadanya—dengan minat yang tak kalah besarnya. Kita masih ingat dengan peristiwa Gerhana Matahari Total tahun 2016 yang melintasi Indonesia. Peristiwa astronomis langka ini bahkan diliput oleh TV nasional dan dirayakan secara megah di hampir seluruh wilayah Nusantara. Ketertarikan yang sedemikian besar pada astronomi ini mungkin terkait dengan betapa langkanya peristiwa-peristiwa langit itu terjadi. Dalam skala astronomis yang menggunakan satuan satu tahun cahaya sebagai penanda masa, rentang kehidupan manusia (bahkan peradaban umat manusia) sungguh tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan usia alam semesta.  Tidak jarang, orang hanya bisa menyaksikan satu peristiwa astronomi besar satu kali dalam kehidupannya, misalnya menjadi saksi melintasnya komet  Halley yang muncul setiap 76 tahun sekali. Mereka yang bisa menyaksikan atau menjadi saksi dari sebuah fenomena langit mungkin merasa sangat beruntung, sehingga peristiwanya sendiri layak dirayakan. 

Selain langkanya, ketertarikan kita pada luar angkasa yang jauh itu mungkin juga disebabkan oleh kedekatan kita yang selama ini mungkin belum kita sadari. Kita ternyata jauh lebih dekat dengan bintang-bintang cemerlang di angkasa sana, lebih dari yang kita duga. Dalam bukunya ini, penulis menggambarkan betapa sesungguhnya manusia memiliki keterkaitan yang begitu erat dengan benda-benda langit. Tidak hanya unsur-unsur pembentuk tubuh kita yang konon muncul saat bintang-bintang terbentuk, tetapi juga kehidupan di Bumi sendiri tidak bisa lepas dari kondisi-kondisi luar angkasa yang memungkinkan kita untuk membangun peradaban. Dengan kata lain, alam semesta sesungguhnya tidak sejauh dan seasing anggapan kita.

Dalam bab awal di buku ini, penulis yang juga astronom resmi kerajaan Inggris di Observatorium Greenwich menjelaskan proses pembentukan Bumi yang tidak bisa dilepaskan dari jejak-jejak bintang. Tidak hanya Bumi, tetapi Matahari dan Tata Surya dibentuk dalam kondisi yang sedemikian rupa “beruntung” sehingga menciptakan planet Bumi yang dapat ditinggali. Adalah Zona Goldilocks, sebuah zona antara dalam sebuah sistem tata surya yang memungkinkan planet yang berada di zona ini bisa ditinggali. Tidak terlalu jauh dari bintang utama sehingga airnya tidak membeku, tetapi juga tidak terlalu dekat dengan bintang utama sehingga airnya tidak menguap dan hilang. Bumi berada di zona Goldilock ini. Air sendiri merupakan salah satu prasyarat utama dari sebuah planet yang dapat dihuni.

Terkait air, para ahli masih memperdebatkan dari mana air di Bumi berasal. Bumi dan juga Venus dan Merkurius dan Mars termasuk planet berbatu dalam sistem Tata Surya yang tidak memungkinkan adanya air. Air dikatakan terbentuk dari unsur-unsur hydrogen dan oksigen nan melimpah di luar angkasa yang kemudian tertarik oleh gravitasi Bumi. Unsur-unsur ini mengumpul sehingga memunculkan senyawa air. Ada juga teori bahwa air dibawa oleh ekor komet yang terbuat dari air yang membeku. Teori manapun yang benar, yang jelas air di Bumi berasal dari luar angkasa. Kita ternyata berutang air pada luar angkasa yang selama ini kita kira kering dan hampa udara.  

Bumi tersusun atas inti padat yang cair dan selubung logam (besi dan nikel) yang panas. Cairan logam ini ikut berputar seiringin dengan rotasi Bumi dan juga gravitasi bulan yang mendorong lempeng-lempeng. Besi yang berputar menciptakan efek seperti dynamo yang menghasilkan gelombang magnetic. Gelombang ini memancar keluar dari kedua kutub Bumi, menciptakan sebuah selubung magnetis yang melindungi Bumi dari angin matahari dan pancaran sinar kosmis yang sangat berbahaya bagi kehidupan di Bumi. Keberadaan Bulan dengan gravitasinya juga membantu mengunci posisi Bumi sehingga posisinya stabill. Segala sesuatu yang terkait dengan planet biru ini sepertinya memang telah didesain agar planet ini layak huni dan tetap bisa dihuni. Kita sebenarnya sangat bergantung pada kestabilan alam semesta sehingga bisa bertahan sampai sejauh ini. 

Penulis menjelaskan teori-teori sulit tapi menarik ini dengan bahasa yang gampang, dalam sebuah sistematika berbentuk paragraf, bukan poin-poin, sehingga lebih enak dicerna. Saya selalu mengalami kesulitan memahami atau memgingat materi yang disusun dalam poin-poin, karena kesannya jadi banyak dan rinci. Menggunakan model paragraf tebal untuk menjelaskan konsep astronomis seperti di buku ini membuatnya terasa lebih sederhana dan bercerita. 

Tidak heran buku ini mendapatkan bintang yang bagus di Goodreads. Bahkan tanpa ada selipan gambar atau foto dari planet atau panorama angkasa luar yang berbintang, buku tetap bisa membuat para pembacanya untuk terus membaca. Tebalnya yang mencapai 380 halaman, dengan teks yang padat dan rapat tidak ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan membacanya. Buku ini menggambarkan dengan jelas sekali kekuatan dari kata-kata. Bahkan tanpa gambar, seribu kata ternyata bisa sedemikian kuat menyita perhatian para pembacanya. Begitulah kiranya jika sebuah buku ditulis oleh seorang ahli sekaligus pecinta astronomi, maka hasilnya adalah sebuah karya yang sedemikian memikat. Jika kita ingin tahu lebih banyak tentang proses terbentuknya planet dan bintang, apa yang ada di dalam matahari, bagaimana peradaban di Bumi tak bisa lepas dari luar angkasa, hingga rotasi Bumi dan bulan mempengaruhi kehidupan kita secara langsung maupun tidak langsung, serta sejarah perkembangan ilmu pengetahuan terkait ilmu astronomi, buku ini bisa menjadi pengantar sekaligus sarana untuk memperdalam pengetahuan dan kecintaan kita kepada alam semesta.  


No comments:

Post a Comment