Search This Blog

Saturday, October 23, 2021

Riwayat Para Komikus Indonesia dalam Kalam yang Menggapai Bumi

 Judul: Kalam yang Menggapai Bumi

Penyusun: Koko Hendri Lubis

Tebal: 140 hlm

Cetakan: 2019 (dibaca di Ipusnas)

Penerbit : Basabasi


"Kemampuan melukis komik bersumber dari bacaan yang luas untuk mendapatkan prinsip-prinsip tertentu. Setelah adanya prinsip, terbentuklah watak sebagai dasar seorang seniman. Di dalam komik, seoranag komikus bicara langsung kepada masyarakat tentang pengalamannya dan pelajaran apa yang telah didapatkannya dari kehidupan." (hlm. 43)


Buku ini mengajak dan mengingatkan pembaca pada era kejayaan komik di Indonesia pada kurun waktu 1950-an akhir hingga awal 1970-an. Tidak hanya penulis komik yang begitu banyak, tetapi juga pembacanya yang giat (dikatakan saat itu komik apa pun yang diterbitkan, pasti laku keras). Dalam sebuah artikel tentang seorang penulis komik di Medan, semasa itu dia sempat menjumpai orang-orang duduk diam di pinggir jalan karena sibuk membaca komik di rentalan, tua dan muda. Luar biasa sekali jika ada pemandangan seperti ini di era sekarang (yang mungkin pada sibuk berjubel main game online di gawainya).

Fakta unik lain adalah di Indonesia ternyata sempat terbit majalah khusus komik bernama Eres. Majalah ini pada masanya memiliki oplah 10,000 dan selalu ludes terjual. Selain itu, ada banyak majalah dan suarat kabar lain yang memberikan porsi untuk penerbitan komik lewat rubrik cergam. Dikisahkan saat itu banyak orang yang membeli koran karena ingin membaca sisipan komik di dalamnya, bukan untuk membaca beritanya. Rasanya sudah lama tidak menyaksikan dan merasakan degdegannya orang-orang menantikan majalah baru atau koran baru yang terbit, hanya untuk menikmati cergam bersambung di dalamnya.

Kisah-kisah para komikus juga sedikit banyak dibahas di buku ini. Bagaimana mereka belajar komik dari seniornya, perjuangan bertahan hidup hanya dengan menulis komik, bagaimana cara mereka menciptakan komik yang hidup sekaligus berisi, juga tentang dorongan yang membuat mereka teguh berkomik. Salah seorang komikus bahkan memiliki alur yang mirip banget dengan kisah di komik Bakuman. Seandainya ini digarap dan dibukukan (atau dikomikkan) pasti keren banget. Semacam Bakuman dengan setting tahun 1960an.

"Komikus berimajinasi sehingga lahir karya seni yang punya pesan, gagasan, dan nilai estetik. Fokus utama komikus dalam berkarya adalah menonjolkan filosofi kehidupan. Dampaknya pada penajaman batin manusia." (hlm. 54)

Kota Medan, tanpa disangka-sangka, ternyata memiliki sejarah perkomikan yang kental. Begitu banyak komikus yang lahir, besar, dan sukses di sana. Bisnis penerbitan komik bahkan sempat jaya dan menghasilkan cuan yang tidak sedikit. Sayangnya, kondisi politik yang panas tahun 1965-66 membuat iklim perkomikan di tanah air runyam. Ini masih ditambah dengan masa-masa konfrontasi dengan negeri tetangga Malaysia, membuat hubungan kedua negara renggang. padahal, saat itu penerbit membeli kertas dari negeri jiran. Tanpa adanya pasokan kertas, bisnis pun terhenti dan akhirnya komikus juga ikut terkena dampaknya.

Mungkin zaman sudah berubah, dan menuntut perubahan. Membaca komik sekarang tidak harus lewat media cetak karena stok komik sudah tersedia melimpah ruah di dunia maya (baik yang legal maupun ilegal). Sayangnya, pasaran kita masih dikuasai oleh komik dari Jepang dan Eropa, walau mulai banyak komikus muda yang bermunculan di banyak platform on line. Tetapi, mengingat kembali betapa komik karya penulis lokal sempat berjaya di negeri sendiri tetap menghadirkan suatu nostalgia yang tenang dan menyenangkan. Semoga komik kita kembali berjaya, apa pun medianya.


1 comment:

  1. Pemandangan remaja mabar banyak Bang Dion, bukan lagi baca komik. Tapi bakal mengharukan sih kalau melihat pemandangan orang berkerumun untuk membaca komik atau buku.

    Betul, komik lokal sebenarnya sudah banyak muncul di platform digital. Tetapi kalau saya perhatikan, cerita yang dibawa mirip-mirip kulturnya dengan Jepang atau Korea. Bukan yang membawa nilai-nilai Indonesia dengan kekentalan unsur budaya, tradisi, bahasa daerah, atau konflik-konflik lokalnya. Ini yang membuat saya sendiri kurang berminat membaca komik. Saya masih betah membaca novel sekalipun tebel-tebel, hehe.

    ReplyDelete