Search This Blog

Monday, October 7, 2019

Kata yang Rapuh, Rupa-Rupa Catatan Berbahasa Kita

Judul: Kata yang Rapuh
Penyusun: 
Sampul: Ferdika
Tebal: 182 hlm
Cetakan: September 2019
Penerbit: DIVA Press



Buku ini memuat puluhan artikel pendek dengan berbagai tema, tetapi semuanya tentang fenomena penggunaan bahasa secara umum dan juga tentang bahasa Indonesia. Meskipun artikelnya pendek, pembahasannya menurut saya lumayan berat untuk pembaca awam. Tulisan karya Ahmad Sahidah ini sebelumnya diterbitkan sebagai artikel pendek di media massa (paling banyak di Majalah Tempo) sehingga wajar kalau bahasanya cenderung "berat" dan tinggi sesuai standar yang melekat pada majalah bergensi itu.

Ada beberapa artikel yang kurang up to date, dan ternyata memang artikel itu ditulis tahun 2010 sehingga kondisinya mungkin akan jauh berbeda dengan kondisi sekarang (buku ini terbit tahun 2019). Misalnya saja tentang lema unggah (untuk up load) dan unduh (untuk download). Tetapi saya setuju dengan bab "Silang Sengkarut Aksara Twitter" bahwa Twitter adalah pengicau. Pemilik akun bisa sesuka hait berkicau. Walau harus diupayakan juga "mapan papan mapan panggonan" alias berbicara sesuai kepakarannya.


Dalam banyak bab di buku ini, penulis sering sekali membanding-bandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu di Malaysia. Setelah saya cek di biografi, beliau ternyata menjadi dosen tamu di Universitas Utara Malaysia. Pantas saja kalau penulis mampu menguasai dengan baik rona perkembangan kedua bahasa serumpun ini. Akhirnya saya semakin paham mengapa kata "butuh" terlarang di Semenanjung, dan bahwa kata "seronok" itu ternyata tidak "seronok" seperti yang kita kira.

Saya kurang suka dengan kecenderungan beliau membanding-bandingkan kedua bahasa serumpun ini. Berkali-kali, penulis seolah "menyesalkan" kenapa bahasa Indonesia tidak mencari padanan kata lokal untuk sebuah kata bahasa Inggris sebagaimana yang dilakukan di Malaysia. Contohnya kata-kata launching, presenter, printer, dialog, dan banyak lagi. Tetapi, saya langsung maklum ketika melihat tahun ketika artikel itu dimuat, yakni antara tahun 2010 - 2013. Memang kudu diakui, ada masa ketika bahasa Indonesia ragam cakap begitu riuh dengan kata-kata asing yang diserap mentah-mentah--apalagi di media sosial.

Kalau tidak salah, para pemerhati bahasa di negeri ini telah berjuang banyak sekali untuk memperkenalkan lokakarya, unggah, unduh, tetikus, dan--yang paling berhasil--peretas. Tak sekalipun penulis menyinggung ragam cakap bahasa Malaysia yang saling bercampur antara kosakata Inggris dan Melayu. Dalam hal ini, orang Indonesia rata-rata menurut pandangan saya, jauh lebih banyak menggunakan kosakata bahasa Indonesia ketimbang asingnya. Ya kata-kata asing memang masih sesekali digunakan tetapi alasannya lebih ke "nilai megah" dari kata asing tersebut yang mungkin belum mampu dipadankan dengan versi bahasa Indonesia. 

Jika dibandingkan (duh maaf, saya kok ya jadi ikut-ikutan membandingkan) dengan buku Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira, buku ini termasuk jenis buku belajar bahasa Indonesia yang cenderung kaku. Mungkin karena awal tujuan penulisannya adalah untuk dimuat di media nasional sekelas majalah Tempo sehingga penulisannya pun cenderung formal.  Tetapi, tentu ada banyak pengetahuan tentang bahasa Indonesia (dan bahasa Malaysia tentunya) yang saya dapatkan. Satu poin yang saya ingat adalah padanan kata viral  yakni "tular." 

Selin itu, saya turut mendukung penuh sikap penulis yang tak kenal lelah memperjuangkan padahan dari bahasa lokal untuk menggantikan kata-kata "sok keminggris" yang memang menggejala dalam komunikasi kita. Ini adalah satu PR wajib bagi para penulis, editor, pembaca, peminat bahasa, serta semua pihak yang mengaku mencintai bahasa Indonesia dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.

No comments:

Post a Comment