Search This Blog

Tuesday, October 3, 2017

Menjajal Wattpad: Nerdy Girl


Judul: Nerdy Girl
Pengarang: Alnira
Penyunting: Avifah Ve
Tebal: 424 hlm
Cetakan: Pertama, September 2017
Penerbit: DIVA Press



Bagi saya, ada dua tujuan orang membaca buku. Pertama adalah untuk mendapatkan informasi (termasuk ilmu pengetahuan dan buku-buku pelajaran/kuliah) dan yang kedua untuk mendapatkan penghiburan. Untuk tujuan kedua ini, biasanya orang membaca buku-buku dari jenis fiksi seperti novel, cerpen, atau puisi walaupun tidak sedikit pula orang membaca buku-buku nonfiksi sebagai penghiburan. Khusus untuk pembaca novel, biasanya orang membaca novel untuk mencari penghiburan, entah itu penghiburan yang membangun ataupun penghiburan yang menghibur semata. Membaca buku-buku sastra menurut saya adalah salah satu bentuk penghiburan yang membangun. Ini karena buku-buku jenis ini mampu melembutkan pembacanya, memberikan banyak pelajaran tentang kehidupan, juga menjadikan kita peka pada isu-isu sosial. Tentu tidak semata novel-novel sastra yang memiliki keunggulan ini. Banyak novel nonsastra dan juga novel populer yang digarap dan ditulis dengan baik juga mampu menghadirkan fungsi penghiburan yang mendidik ini. Kemudian, bagaimana dengan versi penghiburan yang melenakan?


Kadang, kita hanya ingin membaca dan menikmati saja tulisan yang dibawakan penulis. Dengan artian, kita tidak mau berpikir banyak saat membaca sebuah novel. Tidak perlu data sejarah, tidak perlu harus meraih Nobel sastra, tidak perlu pakai kata-kata yang rumit. Pokoknya, cukup novel itu bisa dinikmati dan membuat kita lupa sejenak pada kehidupan nyata. Inilah yang oleh Neil Gaiman disebut sebagai membaca sebagai pelarian ketika dunia nyata serasa sedang tidak ramah. Novel Nerdy Girl karya Alnira menurut saya adalah jenis novel yang cocok untuk tujuan ini. Secara cerita, noel ini tidak ada bedanya dengan roman-roman remaja-dewasa muda yang mungkin mudah kita jumpai di toko buku. Buat yang suka nonton drama Korea, kisah Jonathan dan Aihara mungkin akan sedikit mengingatkan pada alur kisah cintanya nan manis. Apalagi, penulis yang sepertinya seorang Kpopers seperti mampu memanfaatkan kegemarannya pada Hallyu Wave itu dalam naskahnya ini. Pengetahuan yang baik tentang budaya pop Korea, dipadukan dengan karakterisasi yang oke, plus keterampilan menulis yang matang, maka jadilah novel Nerdy Girl yang saya akui sangat menghibur.



Tidak ada masalah pada alur cerita Nerdy Girl. Jujur saya menikmatinya karena penulis luwes banget nulisnya. Untuk masalah tata bahasa dan kalimat, bisa dibilang sudah mantap. Cerita cinta yang sebenarnya klise terbantu oleh karakterisasi yang sangat kuat pada diri Aihara. Saya menyebut karakter cewek ini sebagai karakter tak sempurna yang merasa sempurna dengan ketidaksempurnaannya. Melihat Aihara tidak ada beda dengan memandang cewek-cewek kebanyakan di luar sana. Jadilah karakter ini terasa akrab dan tidak dibuat-buat dalam pikiran saya. Aihara sudah berulang kali membuat saya ngakak, atau setidaknya membuat bibir saya melengkung ke atas dengan celetukan-celetukan konyolnya yang awam banget tapi malah ngakak. Karakter ini bikin jatuh cinta dan gampang didekati oleh pembaca. Jika dipikir, keberadaan Aihara-lah yang membuat saya memutuskan lanjut membaca Nerdy Girl sampai selesai (dan hanya dalam waktu 2 hari). Ini adalah prestasi bagi saya yang jarang baca roman, apalagi inilah kali pertama saya berhasil menyelesaikan sebuah karya yang diangkat dari jagad wattpad.


Sekilas membaca blurb novel ini, saya bisa menebak kalau Nerdy Girl bakal jadi another Cinderella story ketika ada seorang pemuda tampan jatuh cinta pada gadis yang biasa-biasa saja. Cerita semacam ini bisa bagus, bisa juga malah jatuhnya lebai kalau penulis tidak pandai mengolahnya. Untungnya, Alnira bisa bikin sesuatu yang segar dalam Nerdy Girl.  Satu hal yang menjadi sedikit masalah menurut saya adalah karakter cowoknya, si Jonathan Prayoga.  Cowok ini begitu sempurna sesempurnanya cowok. Saking sempurnanya sampai saya nggak yakin kalau sosok ini ada. Selain tipikal cowok idola standar (tingginya 185 cm, keturunan agak bule, atletis, perut sikpack, pokoknya ganteng lah), Josetan eh Jonathan ini cerdas secara akademik, punya karier cemerlang, kerjaan kantor selalu beres, dan tidak suka main cewek. Udah bikin iri belum? Satu-satunya kekurangannya adalah dia pemarah sehingga para karyawan menjulukinya 3G alias ‘ganteng-ganteng galak’. Tapi, setelah pacaran sama Aihara, marah-marahnya ilang. Makin perfect ketika Josetan ini ternyata bisa cepat akrab sama ayah dan Bunda-nya Aihara dan pintar mengambil hati mereka. Bahkan, dia juga rajin sembahyang Subuh. Beli di mana ya mantu kayak Josetan ini?


Masih kurang? Masih ... ini lama-lama saya senewen sama cowok ini. Aihara terus menggambarkan Jonathan sebagai cowok yang selalu wangi, napasnya harum bahkan setelah makan. Perutnya juga rata dan sixpeck padahal sepanjang buku ini (mohon koreksi kalau saya keliru) Josetan tidak pernah digambarkan sedang berolahraga. Sebagai eksekutif muda, dia selalu pulang malam berangkat pagi, sementara akhir pekan digunakan untuk molor sampai sebelum Dhuhur. Makan juga tidak ada pantangan. Anehnya, perutnya tetap rata dan sixpacks. Mereka yang nge-gym tahu benar betapa susahnya mendapatkan dan mempertahankan perut sixpacks. Makanya saya bahagia dengan perut sederhana ini (baca: one pack). Kalau kurang perfect lagi, Josetan ini adalah tipe pria yang monogamis alias kalau suka dengan satu cewek ya selama satu cewek itu doang. Dia bahkan membenci cowok-cowok yang suka jelalatan melihat cewek seksi. Padahal, duh adalah wajar kalau cowok itu mahkluk visual. Kita mungkin sedikit meleng saat ada cewek cantik lewat, tapi bukan berati itu jatuh cinta sama dia. Iklan Hiloteens aja bilang kalau ‘cowok itu gampang bosan’ jadi memang sudah alamiah jika sering belok (dikiiiiiittt kok) kalau ada mhakluk indah tiba-tiba melintas. Saya rasa, ini normal. Tapi, Jonathan tidak seperti itu. Hidup dan cintanya adalah untuk Aihara. 


Saking cintanya, Josetan ini punya ruang rahasia tempatnya menyimpan foto-foto candid Aihara sejak gadis itu masih usia tiga tahun. Emmm ... ini kok malah serem ya, bukannya romantis. Kalau di novel-novel luar, gejala ini termasuk aneh dan bisa dibilang psykopat. Masih ingat sama serial Charmed ketika manajer p3 ternyata terobsesi sama Prue dan menyimpan semua foto-fotonya? Buat penulis, ini adalah lambang romantisme yang paling puncak. Buat saya, itu seram. Masih kurang lagi, di ending Nerdy Girl, Josetan ini ternyata RAWRRR juga di ranjang. Pokoknya, Aihara benar-benar puas karena dapat cowok yang sempurna luar dalam, sempurna fisik maupun perasaan (Josetan selalu mengalah dan bisa memahami Aihara), di ranjang dan luar ranjang. Dengan kata lain, Josetan ini nggak mungkin eksis di dunia nyata—ya atau kalau eksis mungkin dia adalah satu di antara sepuluh juta. Takutnya, ilusi sosok Josetan ini yang bikin pembaca cewek mengharapkan sosok yang nggak nyata untuk benar-benar ada di dunia nyata. Padahal, lewat Nerdy Girl juga Aihara belajar untuk bersikap biasa-biasa saja dalam mengagumi Yesung Suju dengan memilih Jonathan yang benar-benar nyata. Yah, mungkin Josetan ini ada untuk Aihara, tetapi dia tidak nyata buat pembaca. Balik-baliknya: Yah, namanya juga fiksi, Mas!

2 comments:

  1. Macam becandaan banyak temen-temen di sosmed, kalau nemu cowok yang sesempurna itu, jadi sukanya sama cowok juga. Opps :)

    Aku jarang banget baca novel percintaan. Hanya ada beberapa novel yang sangat mengena di hati, dan itu ditulis oleh penulis Indonesia.

    omnduut.com

    ReplyDelete