Search This Blog

Tuesday, April 11, 2017

Jalan Sunyi Seorang Penulis

Nama Muhidin M Dahlan sudah lama dikenal di kalangan perbukuan tanah air. Beberapa bukunya yang khas bersampul hitam dengan tanda tangan unik menyerupai putaran angin juga telah ramai diperbincangkan di kalangan buku indie. Beberapa kali saya berusaha mencoba membaca karya-karyanya, tetapi hanya karya nonfiksi beliau saja yang sanggup saya selesaikan. Mencoba membaca karya fiksi penulis ini awalnya memunculkan rasa ragu dalam diri saya, takut kalau saya akhirnya ikut terseret dalam ranah yang begitu idealis itu sehingga jadi malas untuk berkarya di luar jalur non indie. Selama ini, seperti ada pandangan berbeda antara penerbit indie dan mayor, di mana satu sama lain seolah saling menyinyiri secara diam-diam. Baik kubu indie yang menuduh kubu mayor sebagai penerbit kapitalis yang sudah melupakan idealismenya, maupun kubu mayor yang menuduh indie tidak tahu pasar dan sengaja memiskinkan diri di jalurnya yang sepi. Tetapi, menjadi pembaca berarti berani membaca buku apa saja. Dan untuk event #BBIHUT6 Marathon ini, sedikit nukilan buku yang mengejutkan ini saya sertakan untuk turut meramaikan. Saya yang kerja di dunia buku Jogja aja kaget baca novel bagus ini. Lewat ulasan ini, saya sekaligus ingin mengungkap sedikit sisi gelap penerbitan dunia buku, khususnya di Jogja.

Pada dasarnya tulisan itu tak ada yang orisinal, mengutip Barthes. (hlm. 131)


Muhidin M Dahlan yang sangat idealis ini memang teguh untuk tetap berjalan di jalur indie. Sejak dari saya pertama mendengar tentang radio buku tahun 2010, buku-bukunya konsisten terbit di jalur ini. Buku ini sendiri diterbitkan secara indie di bawah label dengan nama yang sekaligus menjadi kalimat favorit penulis: Scripta Manent (dari ungkapan latin Scripta manent verba volant--yang tertulis tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin.) Novel yang tidak seberapa tebal tetapi setelah dibaca ternyata tebal ini ibarat rekaman awal dari kehidupan seorang penulis. Saya kurang tahu apakah tokoh aku di novel ini adalah gambaran dari Muhidin M Dahlan atau bukan, tetapi jika melihat kentalnya aroma perbukuan Jogja tahun 2000-an awal yang menjadi setting buku ini, bisa jadi penulis banyak terinspirasi dari kehidupannya sendiri dalam menyelesaikan novel ini. Ini yang bikin buku ini menarik karena ada keping-keping fakta di mana pembaca bisa sedikit mengintip sejarah, terutama sejarah dunia penerbitan buku di kota Jogja. Sebagaimana sejarah umumnya yang ada gelap dan terang, buku ini secara tak langsung turut memeparkan kepada pembaca sejarah gelap dunia penerbitan.

Di Yogyakarta, umumnya penerbit jago membuat judul walaupun isinya kerap tidak sejalan dengan judul yang nampang di sampul. Tapi, ini Yogyakarta. (hlm. 191)

Kisah berawal dari masa kecil si Aku yang dibesarkan di sebuah dusun kecil di pelosok desa pantai di Indonesia Timur. Dusun kecil itu dihuni oleh warga nelayan, dan karena itu buku menjadi barang mewah bagi mereka. Si Aku yang awalnya tak suka buku, perlahan mulai membaca-baca aneka buku sampai akhirnya dia menemukan passion sejati hidupnya: dunia buku. Karena dorongan buku juga, si Aku memberanikan diri kuliah ke Jogjakarta, kota bukunya Indonesia. Si Aku begitu kagum dengan Jogja, yang memiliki pasar khusus yang isinya para pelapak buku (Shopping Center) serta banyak toko buku yang hampir ada di tiap jalan besar. Impiannya seperti menemukan kenyataan dengan begitu mudah dan murahnya buku diperjualbelikan. Penulis juga sempat kaget menjumpai bahwa di Jogja ada toko buku yang harga bukunya didiskon. Baginya, alangkah ajaib bahwa buku juga bisa dikorting, sebagaimana beras, minyak goreng, dan berbagai kebutuhan hidup lain. Jogja kemudian menjadi kota tempatnya menemukan dirinya yang asli. Si Aku memutuskan untuk menetap dan mencintai kota buku ini.

Penasaran menandai adanya harapan. (hlm. 177)

Sayangnya, setiap hal memiliki sisi terang dan gelapnya. Begitu juga dunia buku dan penerbitan. Si Aku yang telah bertekad melabuhkan hati dan jiwa kepada dunia penerbitan ternyata menjumpai dunia tulis menulis tidak seidealis yang dulu ia bayangkan. Dimulai sejak si Aku aktif dalam majalah kampus di IKIP Jogja, si Aku mulai menemukan betapa dunia intelektual seperti media massa ternyata juga dihuni oleh orang-orang nakal. Ia lalu mencoba memakluminya, menganggapnya semata warna-warni dunia penerbitan. Kemudian, selepas majalah kampus, penulis mulai aktif mengirimkan artikel opini dan ulasan buku ke media massa. Sungguh, perjuangan si Aku di buku ini sangat mengingatkan saya pada kehidupan teman-teman saya sesama peresensi yang masih kuliah, ketika hari Minggu menjadi hari yang sangat ditunggu-tunggu untuk melihat adakah nama kita terpampang di rubrik resensi koran itu. Dan begitu ada satu nama muncul, sontak seluruh komunitas bakal dicolek untuk merayakan gegap gempitanya. Suatu ketika, ulasan salah satu teman kami dimuat di Kompas, maka langsung diadakan pelatihan meresensi di rumah si empunya, tentunya dengan makanan dan minuman yang dibeli dari fee dari koran

Bersabarlah. Jangan pernah menyerah dan putus asa. Di mana-mana hidup harus dihadapi dengan cara sabar dengan cara tidak putus asa. Siapa saja. Termasuk Anda sebagai seorang penulis. (hlm. 139)

Lanjut balik ke bukunya, setelah melewati bab tentang perayaan menulis di media massa, buku ini tiba di sisi gelap dunia penerbitan. Yogyakarta selepas reformasi ibarat ladang yang sangat subur untuk dunia penerbitan. Saya merasakan sendiri, dulu ada banyak sekali penerbit baru bermunculan dengan alamat gang. Kadang, kantornya sendiri nggak ada selain satu kamar kos yang juga merupakan kamar pribadi pemiliknya. Nah, dunia penerbitan alternatif Jogja tahun 2000-an inilah yang juga disorot di buku ini. Idealisme awalnya, anak-anak muda Jogja yang kreatif bahu membahu mendirikan penerbitan laternatif untuk mendobrak dominasi penerbit-penerbit Jakarta. Tidak hanya dalam nama, penerbit-penerbit ini juga berani menerbitkan jenis-jenis buku tipe wacana, perlawanan, idealis, bahkan kekirian sebagai semacam ejekan buat penerbit-penerbit di Jakarta yang hanya manut sama pasar. Sebuah impian yang luar biasa, sungguh. Tetapi, sayangnya, godaan itu selalu ada. Banyak dari penerbit-penerbit berprospek bagus itu yang rontok satu per satu. Bukan karena buku-bukunya tidak laku (buku-buku mereka malah jadi buku langka dan banyak dicari) tetapi lebih karena pengelolaan yang tidak profesional.

Menulis adalah tradisi abadi yang ada dalam diri seseorang. Tinggal apa ia sering dipakai atau tidak. Dan ia akan hilang sendiri kalau ia sering taj dipakai. (hlm 223)

Saya merasakan sendiri sebelum bekerja di penerbit saya sekarang, dua kali saya terpaksa mundur dari jajaran redaksi karena persoalan remeh: gaji. Bukan karena gajinya tidak banyak, tetapi karena gaji yang selalu telat dibayarkan. Ada pernah sebulan saya hanya digaji Rp500.000 padahal dalam surat kontak gaji awal saja Rp1.200.000. Apalagi menerjemahkan, bayangkan saya pernah hanya dibayar Rp2.500/lembar untuk nerjemahin buku sejarah berat yang tebal itu. Eeh ini maaf saya jadi curhat. Pernah saya membaca celetuk teman yang suka mangkel kalau baca buku terbitan penerbit Jogja. Maka, dengan membaca buku ini mungkin akan sedikit terjawab mengapa demikian. Ketika kerja keras penulis, penerjemah, dan editor hanya dihargai sedikit sekali maka saat itu lah kualitas naskah menjadi nomor sekian belas. Sungguh sangat disayangkan. Saat-saat inilah saya lalu melarikan diri ke timbunan.

Bacalah novel, niscaya kamu akan melupakan sedikit galau di hatimu. (hlm 228)

Apa yang disampaikan penulis di penghujung buku ini ternyata mirip dengan yang menimpa saya dan teman-teman saya di dunia pebukuan Jogja pada medio tahun 2000-an. Sebagaimana si Aku yang begitu bersemangatnya memajukan dunia buku, tetapi seolah segala upaya dan semangat itu langsung layu karena segelintir pemilik penerbitan yang jatuh dalam *maaf* pesona uang. Alih-alih membayarkan gaji karyawan sesuai perjanjian, banyak yang menghambur-hamburkan uang itu untuk foya-foya. Inilah yang menurut saya menjadi simpulan penulis di buku ini. Tapi, lepas dari kisah negatif itu, buku ini membuat banyak sekali tips dan trik bagi para calon penulis atau untuk kamu-kamu yang ingin terjun serta aktif di dunia perbukuan. Mulai dari tips menulis ulasan buku yang berpotensi dimuat di koran, cara mengajukan naskah, seluk-beluk dunia penerbitan dari sisi orang dalam, hingga tahap-tahapan pencetakan buku itu sendiri. Dengan mengetahui hitam dan putih dunia buku, semoga ini makin menambah kecintaan kita pada buku dengan semangat yang makin membara untuk terus mencoba memperbaikinya.

Jadi, inilah empat jalan untuk menjadi penulis menurut buku ini. Bahwa untuk menjadi penulis yang sejati, kau harus bersiap menjalani jalan sunyi itu:  (1) tetap membaca, (2) tetap menulis, (3) terus bekerja, dan (4) bersiap hidup miskin.


Judul: Jalan Sunyi Seorang Penulis
Pengarang: Muhidin M. Dahlan
Cetakan: 1, Maret 2005
Tebal: 325 hlm
Penerbit: Scripta Manent

 
3659771





9 comments:

  1. Biarpun hanya 4 cara. Rasanya menyeimbangkan dan membuatnya konsisten menjadi perjuangan juga

    ReplyDelete
  2. Menarik banget ulasannya. Aku boleh pinjam? XD

    ReplyDelete
  3. Saat-saat inilah saya lalu melarikan diri ke timbunan.

    Trus kamu ngapain di timbunanmu? #eh
    Tapi ya jalan sunyi no.4 itu juga tergantung orangnya ya... Sepertinya yang penting itu mengumpulkan fan base dulu kali ya

    ReplyDelete
  4. Hmm... menarik kayake. Tetep yaa ada curhat nimbunnya. Semangat, Masdi. Itu mbok Nyai Gowok dicetulin *tetep usaha* XD

    ReplyDelete
  5. Jangankan jadi penulis, jadi penerjemah aja harus hidup miskin, heuheuheu *curhat*

    Btw, ulasan bukunya keren, Mas. :)

    ReplyDelete
  6. Aku jadi keinget jaman kuliah pernah baca buku beliau yang judulnya 'Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta.'

    Apakah buku Jalan Sunyi Seorang Penulis ini semacam cetak ulang dari buku sebelumnya itu? Soalnya mirip isinya.

    ReplyDelete