Search This Blog

Thursday, March 2, 2017

T(Teruntuk) Y(yang) P(Pembaca) O (Oemur 18 Tahun ke Atas)

Judul: Typo
Penulis: Chistian Simamora
Penyunting: Alit Tisna Palupi
Penerbit: Twigora
Tebal: xii + 476 halaman


 30370606

Terima kasih kepada Wardah yang berbaik hati meminjamkan buku hawwtttt ini. Dari Wardah pula saya tahu kalau di TYPO ini kadar HOT-nya paling puncak*halah* dibanding karya-karya Chrismor sebelumnya. Saya termasuk mengikuti seri Jboyfriends ini--walau dua buku terakhir belum sempat baca (dan beli) karena ketimbun bacaan sastra*kejengkang di genangan cokelat*--jadi lumayan tahu kadar kipas-kipasnya. Dan memang di TYPO ini kadar adegan ranjangnya termasuk bikin pengen berani! Jika di buku-buku sebelumnya, adegan ranjangnya masih taraf bulatan biru (alias butuh bimbingan ORTU--orang tau) maka di TYPO ini bulatannya merah alias termasuk kudu pake resep 'sudah dewasa sebelum waktunya' sebelum membacanya wkwkwk. Terutama, bagian Mai ketika menyenangkan dirinya sendiri lumayan 'dalem' menggambarkannya. Tapi, untuk pembaca dewasa sih kudunya bisa ditoleransi. Bagi pembaca remaja sebaiknya jangan baca TYPO dulu, atau baca tapi dengan pikiran terbuka (bukan baju yang terbuka ya, catat).


"Eh, berandai-andai boleh nggak?" Mai mengangguk lagi. "Gimana kalau suatu saat salah satu dari kita ternyata jatuh cinta?"
"Artinya, salah satu dari kita baru saja ngelakuin kesalahan." Hening sesaat. "Like a typo."
"Typo? Apa itu?"
"Typographical error," jelas Mai. "Kesalahan ejaan atau penulisan kata pada materi cetak."


Yang bikin TYPO ini beda adalah adegan panas permulaan konfliknya yang bikin panas dingin dapat diintip pada blurb novel ini. Josh Mallick dan Maisie Varma dijodohkan oleh kedua orang tuanya ketika keduanya masih remaja (14 tahun loh, saya 14 tahun dulu masih ngapain ya? Kayaknya masih sibuk cari ikan di sawah alhasil diuber-uber Pak Tani karena nginjek-injek tanaman padinya). Ide perjodohan yang tercetus agak terlalu dini itu awalnya ditanggapi setengah hati oleh Mai. Namanya juga remaja, belum sempat namatin baca serial Cantik masak udah suruh nikah aja? Ya wajar sih Mai menolak. Tetapi, setelah sedikit bertemu dengan Josh, getar-getar itu mulai muncul. Mai tidak lagi sepenuhnya menolak ide perjodohan itu. Tapi, bukan kisah cinta namanya kalau jalannya semulus roti sisir cap Ananda. Oma Josh menentang ide bodoh itu, menganggap orang tua Josh dan Mai sebagai orang-orang yang suka memaksakan kehendaknya. Jadi, ide perjodohan dini pun dibatalkan.

Bertahun-tahun kemudian, Josh dan Mai dipertemukan kembali pada usia twenty-something. Mai tumbuh jadi wanita karier dengan prestasi yang mulus semulus pahanya. Sementara Josh telah berkembang jadi pria dengan pergaulan luas seluas dada bidangnya. Sama-sama muda, pekerja keras, sukses, dan kaya raya; keduanya dipertemukan untuk kali kedua dalam sebuah proyek bersama keluarga Mallick dan Varma. Kembali saling berinteraksi setelah keduanya sama-sama dewasa tentu berbeda dengan ketemunya pas remaja. Sementara Mai adalah cewek kutu buku elegan dengan masa depan cerah, Josh adalah pemuda playboy yang suka gonta-ganti pacar. Josh is definitely not for Mai, except his kiss, may be. Temen deket Mai juga sudah wanti-wanti Mai agar tidak jatuh hati sama Josh mengingat perilaku liar cowok itu. Sayangnya, nafsu perasaan sering kali nggak peduli sama yang namanya logika. Mai masih mengingat getar-getar halus saat perjodohan mereka dulu. Di lain pihak--yang bikin Mai terkejut--Josh ternyata juga masih ingat.

Profesionalisme mengharuskan keduanya sering bertemu dan berinteraksi. Ketika keduanya harus tinggal di Bali selama sebulan untuk mengawasi pembukaan sebuah proyek keluarga, benih-benih cinta menemukan kesempatan bersemi. Mai dan Josh sama-sama tertarik secara fisik, dorongan hasrat di antara keduanya begitu berat sehingga tak mungkin menampik bisikan nafsu yang sudah mendidih di ubun-ubun. Tetapi, atas nama profesionalisme, keduanya sepakat untuk membatasi hubungan keduanya sebagai having fun semata, dan berjanji tidak akan bawa-bawa hati. Hubungan Josh dan Mai hanya sebatas hubungan badan, tidak sampai ke hubungan hati. Errr ... ini rasanya agak gimana gitu sih buat orang Indonesia, tetapi karena di fiksi ya mau gimana lagi. Mangkanya buku ini memang sebaiknya untuk konsumsi pembaca dewasa, bukan remaja. Orang tua dan kakak-kakak harap waspada ya. Karena, hubungan Josh dan Mai di TYPO memang beneran hawwttttsyiinnn. 

Celakanya--atau malah untungnya, cinta perlahan-lahan tumbuh. Walau diam-diam dan saling mengingkari, Josh dan Mai sama-sama memendam perasaan merah hati yang mulai tumbuh. Ya jelas aja sih, hubungannya sampai kipas-kipas bintang lima gitu masak ya nggak ngelibatin hati? Mai aja sampe merem melek sementara Josh melet-melet *skip nggak penting* jadi wajar aja kalau rasa suka itu muncul. Sayangnya, entah karena keadaan atau mungkin penyangkalan, keduanya sepakat untuk hanya saling hasrat tapi tidak saling cinta. Kita adalah janji yang ditakdirkan untuk diingkari, begitu prinsip keduanya. Dan ketika cinta disangkal, yang muncul adalah rasa sakit. Baik Mai dan Josh harus mau menerima balasan dari penyangkalan yang mereka lakukan. Memang benar kata salah seorang penulis: bahwa untuk perkara cinta, jangan pernah main-main dengan kelaminmu hatimu. Tiga bintang untuk TYPO.
  
"Relationship itu lebih dari sekadar berpelukan, berpegangan tangan, berciuman... Relationship isn't about who you can see your life with, but who you can't see your life without." (hlm. 31) 

6 comments:

  1. Astagaaaa aku ngakak kejer baca review ini. XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngoahahaha kamu baca juga Vin novelnya?

      Delete
  2. Kayaknya Mas Dion nikmatin banget part adegan kipas-kipasnya, hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya gimana ya ... lumayan bisa bikin melek kalau baca malam-malam hahaha

      Delete
  3. Reviewnyaaaaaa... Juara, hahahahha. Ampon deh :D btw aku udh agak bosan dg seri #jboyfriend ini, formulanya ketebak dan gitu-gitu aja. Tapi pas ad judul baru tetep aja (ehem) kepo dan beli. Semacama guilty pleasure kali ya, Lah ini kok jadinya curcol :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju sama kami, sebenarnya aku sudah bosan sejak sampai di As Seen on TV, pernah bilang juga di ulasan kalau formulanya gini gini elulu. Tetapi, kemudian, mungkin ini tanda atau ciri khas dari penulis kali ya dalam menulis. Sesuatu yang dia nyaman nulisnya dan dengan demikian membuat bahagia saat menuliskannya. Ya, akhirnya aku juga sudah mulai jarang belinya, ini aja pinjem bukunya hahaha #eh

      Delete